Laman

Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Oktober 2019

DAS Daerah Aliran Sungai di Salatiga yang bermuara di Danau Rawa Pening

Bersama Komunitas TUK dan LP3 Global Green Indonesia, saya mempelajari lebih dalam mengenai DAS, yang merupakan singkatan dari Daerah Aliran Sungai.

Sejauh yang saya tangkap, Danau Rawa Pening sebenarnya merupakan bagian dari DAS Tuntang, di mana danau tersebut dianggap sebagai hulu sungainya. Jadi, bicara soal DAS, Danau Rawa Pening itu bukan DAS, melainkan hanya Sub-DAS.

Sebenarnya ada 16 anak sungai yang bermuara di danau ini. Hanya saja, karena beberapa anak sungai sudah bertemu sebelum sampai ke Danau Rawa Pening, disebutkan bahwa aliran sungai yang masuk ke Rawa Pening hanya berasal dari 9 sungai.

Adapun kesembilan sungai tersebut sebagian besar terletak di Kabupaten Semarang dan sebagian kecilnya di Kota Salatiga. Benar, aliran sungai yang di Kota Salatiga asalnya adalah dari The Mighty Mount Merbabu alias Gunung Merbabu yang menjadi salah satu ikon Kota Salatiga ini.

Jadi, berikut ini adalah Kelurahan/ Kecamatan di Salatiga yang dilalui oleh aliran sungai yang akhirnya akan bermuara di Danau Rawa Pening
1. Kecamatan Argomulyo (Kelurahan Randuacir, Kumpulrejo, dan Tegalrejo)
2. Kecamatan Sidomukti (Kelurahan Mangunsari, Dukuh, dan Kecandran)
3. Kecamatan Sidorejo (Kelurahan Pulutan, Salatiga, Bugel, Sidorejo Lor, dan Blotongan)



So, total ada berapa kelurahan di Salatiga yang punya andil terhadap kelestarian air di Rawa Pening?
Jawabnya ada 11 kelurahan, yang terletak di 3 kecamatan di Kota Salatiga.

Siap beraksi untuk hijau bumiku dan lestari alamku di Salatiga Raya, khususnya di 11 kelurahan ini?
Yuk ikuti Festival Rawa Pening #2 yang diadakan bersamaan dengan Kongres Sampah Nasional di Kesongo, Tuntang, Kab. Semarang pada tanggal 12 - 13 Oktober 2019 ini.


Salatiga, 10 Oktober 2019


Kristanto Irawan Putra
Aktivis Lingkungan Hidup

Senin, 14 Mei 2018

Orang Jateng bisa Membuat SIM Banten di Kab Tangerang? (Bagian 3/3 Final)

24-4-2018

Hari itu hari Selasa. Sebelum aku kembali melanjutkan kisah pembuatan SIM di Tanah Jawara Banten ini, aku ingin menyisipkan cerita kejadian tilang yang juga kualami di Kabupaten Tangerang ini, yang terjadi ketika aku mengendarai mobil pulang dari Kota Cilegon. 

***

Pembaca yang berasal dari Kecamatan Cikupa dan sekitarnya pasti tahu bahwa di dekat sini terdapat pertigaan yang angker bagi pengendara mobil.. ya betul Lampu Merah Pertigaan Tigaraksa! Adanya pos polisi dan halte angkutan umum yang terdapat di pertigaan ini seakan-akan menjadi spot yang ideal bagi polisi lalu lintas untuk mengadili pengendara mobil yang "kurang berhati-hati dan waspada" dalam berlalu lintas. "Pelanggaran lalu lintas apa sih yang kakak langgar?" Jawabannya klasik: Menerjang lampu merah.

Tentu aku tidak dengan secara sengaja menerjang lampu merah itu. Hanya sebuah perkara lampu hijau yang pelan-pelan berpindah ke warna kuning-lah yang membuat jiwa mudaku merasa gemezzz untuk tetap melaju sambil berguman "mung kacek sithik". Ketika melintasi lampu itu, mataku benar-benar masih melihat bahwa lampu itu sedang berpindah dari warna hijau ke warna kuning.. tetapi kami pengendara mobil memang tengah ditunggu oleh seorang polisi yang berdiri di tengah-tengah jalan itu. Tidak ada mobil berikutnya yang menyusul mengikutiku melintasi lampu itu. Itu berarti - sebagai mobil terakhir - sudah menjadi hal yang naas bagiku untuk memperoleh surat tilang berwarna biru itu.

"Tilang SIM atau STNK?", tanya Pak Polisi kepadaku.
Tanpa berpikir panjang, aku pun segera memilih STNK, mengingat SIM yang kubawa di hari itu sebenarnya masa berlakunya sudah habis. Aku beruntung karena Pak Polisi tadi tidak menyadari hal itu. Seandainya ia menyadari, mungkin aku akan menerima 2 surat tilang sekaligus di hari itu: Pelanggaran Menerjang Lampu Merah dan Tidak Mempunyai SIM.. Tampaknya Dewi Fortuna masih berpihak padaku di hari itu. Aku diminta untuk membayar uang tilang dan mengambil STNK itu di Kejaksaan pada hari Selasa, 24 April 2018 jam 10 pagi.

***

Maka jadilah aku mempunyai 2 agenda di hari Selasa itu: Melanjutkan Pembuatan SIM dan Mengambil STNK yang Ditilang. Usai meminta izin kepada atasanku, akupun berangkat ke Kawasan Pemda Tigaraksa. Tujuan pertamaku adalah Bank BRI yang ada di Kampung Gudang Tigaraksa. Aku membayar Rp 500.000,- ke sana sebagai uang tilang. Sigh, di tanggal yang ranum aku harus mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar, jumlah uang yang cukup untuk menghidupiku di minggu terakhirku di bulan April.. Untungnya, aku masih ingat dengan nasihat Rizal, teman seperjuanganku sebagai pegiat literasi di sebuah TBM yang terletak di Perum Citra Raya: "Anggap aja ber-shodaqoh kepada negara". Nasihat itu begitu menentramkan kalbu dan memantapkan diriku untuk mengurus segala sesuatunya sesuai prosedur yang memang ditetapkan oleh pihak kepolisian. Tidak melakukan salam tempel, ikut sidang, semoga berkah!

Aku pun kemudian beranjak ke Satlantas untuk melanjutkan pembuatan SIM terlebih dahulu, mengingat waktu masih menunjukkan pukul 08:45. Sidang pengambilan STNK baru akan dilaksanakan pukul 10:00. Sesampai di Satlantas, sesuai arahan Pak Polisi di Pos 5 hari Sabtu lalu, aku langsung bergerak menuju pos itu. Aku disambut ramah oleh Pak Polisi, beliau memintaku untuk menunggu sebentar di kursi depan sambil beliau mencari berkas dokumen kepunyaanku. Aku pun duduk di kursi di depan pos itu, sambil menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan - sebuah ritual untuk membuat diri merasa rileks. Perlahan-perlahan kugerakkan bola mataku untuk memandangi suasana kantor polisi di hari kerja. Suasananya sangat sepi, hanya 2 - 3 orang yang kulihat sedang mengurus SIM sepertiku. "Oh, begini toh rupa-rupanya pemandangan kantor polisi di hari kerja, sepi juga ya kerjanya bisa nyantai..", pikirku dalam hati.

"Saudara Kristanto". Pak Polisi menyebutkan namaku. "Ayo kita ke lapangan untuk ujian praktik", sambungnya. It's the showtime, waktunya telah tiba. Aku pun berjalan di samping Pak Polisi tadi sambil mengajak bercakap-cakap ringan - lagi-lagi sebuah cara yang kulakukan untuk mengurangi ketegangan menjelang ujian praktik. Hari itu sedikit gerimis, Pak Polisi pun menanyakan kepadaku apakah aku mau menunggu dulu atau mau lanjut saja. "Lanjut, Pak", jawabku mantap mengingat aku sendiri sebenarnya sedang ditunggu oleh bos dan timku di kantor. Pak Polisi itu pun membawaku ke lapangan, menunjukkan kepadaku sebuah mobil Avanza yang nantinya digunakan untuk ujian. Beliau kemudian mengajakku untuk menuju tempat ujian praktik, yang lokasinya hanya berjarak 20 meter dari tempat diparkirnya mobil ujian praktik itu.

"Jadi begini ya, saya jelaskan dulu aturan mainnya", kata Pak Polisi itu ramah. Ujian praktik yang pertama: aku diminta untuk mengendarai mobil keluar dari parkiran, belok ke kiri dan mengendarai mobil itu di jalan tanjakan dan berhenti di situ. Ujian berikutnya adalah bagaimana aku dapat melanjutkan mengendarai mobil di tanjakan itu tanpa mobil bergerak mundur. Ini adalah seni berkendara yang menurutku mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi, tetapi memang wajib dikuasai demi keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan yang lain ketika berkendara. Ujian praktik yang kedua: Setelah mobil lanjut bergerak di tanjakan, aku kembali diminta untuk menghentikan laju mobil sejenak di jalan turunan. Usai berhenti, mobil harus dikendarai kembali, sekali lagi belok ke kiri, dan diparkir di area parkir yang telah ditentukan. Titik kesulitan di ujian yang kedua ini, menurutku ada di bagian di mana aku harus memarkirkan mobil tanpa mengenai batas patok yang telah ditetapkan oleh Pak Polisi tersebut.

.. dan dimulailah ujian praktik itu!

Setelah kukenakan safety belt, kukendarai mobil ujian praktik itu dengan hati-hati, mengingat aku harus bersahabat terlebih dahulu dengan level ketinggian koplingnya. Ah, kopling mobil ini ternyata cukup tinggi, sangat signifikan bedanya dengan mobil balap yang aku kendarai sehari-hari. Ya, dengan level ketinggian kopling yang rendah, seseorang akan lebih cepat memindahkan transmisi kecepatannya, khususnya ketika start mengakselerasi mobil. Sudah menjadi kebiasaanku dalam berlalu lintas untuk menyalakan lampu sen sebelum berbelok. Ini pun kulakukan secara otomatis ketika aku menjalani ujian praktik ini.

Akhirnya pun tiba saat di mana aku menghadapi tanjakan itu. Hand rem dan kulanjutkan lajuku menaiki tanjakan itu. Mengingat level ketinggian kopling cukup tinggi, aku yang merasa sedikit panik pun secara refleks menginjak tuas gas cukup dalam sehingga menimbulkan suara mesin cukup keras. Aku cukup berhasil, tetapi tampaknya Pak Polisi tidak begitu happy mendengar suara mesin yang kasar itu. Ujian berikutnya: memarkir mobil. Torsi mobil yang biasa kukendarai sangat berbeda dengan torsi mobil Avanza ini. Aku yang merasa cukup gugup pun sempat mengambil ancang-ancang mundur yang terlalu mepet, sehingga aku harus bergerak maju sekali lagi sebelum memundurkan mobil itu masuk ke tempat parkirnya. Aku berhasil. Aku pribadi memberikan skor 75 kepada diriku di hari itu, harusnya masih bisa lulus.

Pak Polisi itu - entah karena ingin mempersulitku atau sekedar menghabiskan waktu kerjanya sedikit lebih lama lagi bersamaku - memintaku untuk mengulang serangkaian ujian praktik itu sekali lagi. "Suara mobil di tanjakan masih kasar dan parkir mobil belum bisa 1x jadi", begitu jelasnya kepadaku.

Singkat cerita, aku yang sudah lebih menguasai bagaimana mengendarai mobil Avanza dan mempunyai rasa percaya diri yang lebih pun berhasil perform lebih bagus di kesempatan kedua yang beliau tawarkan itu. Aku tak mengalami kesulitan yang berarti saat parkir di kesempatan kedua, mengingat hari Senin lalu aku baru saja memarkirkan mobil dengan posisi yang lebih sulit di gedung parkir tempatku bekerja. Bedanya hanya di soal torsi mobil, dan kali ini aku sudah lebih tahu keterbatasan torsi mobil ini. Setelah kuparkirkan mobil dengan sempurna, Pak Polisi itu pun mengulurkan tangannya dan menyelamatiku. "Selamat ya, Mas. Ujian SIM itu tidak susah 'kan?", tanyanya retoris. Beliau seakan memintaku untuk menyebarkan informasi kepada khalayak luas bahwa pembuatan SIM dengan jalur ujian itu machtbar, bukanlah "bikin SIM yang harus nembak karena ujiannya sangat sulit" seperti desas-desus yang ada..

Wah, ternyata aku sudah menulis cukup panjang. Pun malam ketika aku menuliskan artikel ini sudah semakin larut. Dear pembaca, tanpa bermaksud mengurangi keasyikan kalian ketika sedang tenggelam membaca tulisan ini (sok banget, pede amat kalau tulisannya bisa bikin orang tenggelam), izinkan penulis untuk kembali menggunakan otak kirinya ya :D
1. Sistem pembuatan SIM hari itu sedang offline. Proses pencetakan SIM-nya harus menunggu.
2. Kesempatan menunggu kugunakan untuk pergi ke Kejaksaan untuk mengambil STNK. Jam 10 pagi. Ini pengalaman pertamaku. Aku memasukkan surat tilang, memesan kopi di warung sambil menunggu panggilan. Seperti observasiku sebelumnya, ada banyak Kaizen Idea yang bisa didapat dengan melihat kekurangefektifan ini. Secara mengejutkan aku mendapatkan panggilan jam 11 siang. STNK kuperoleh, bersama secarik surat yang menyebutkan bahwa denda tilang itu hanya Rp 150.000,-. Aku bisa mengambil kembali sisa uang yang telah kubayarkan tadi di Bank BRI. Senangnya hatiku, ini artinya tidak ada ancaman yang berarti untuk berat badanku di akhir bulan ini.
3. Aku kembali ke Satlantas. Sistem masih saja offline. Kutanyakan kemungkinan untuk datang kembali sore hari, selepas kerja. Bosku sudah menunggu. Bapak-bapak Polisi itu menyanggupi.
4. Jam 13 aku dikabari kalau SIM-ku sudah jadi. Jam 17:15 aku kembali meluncur ke Satlantas. Kutanyakan SIM-ku di Posko. Kudapatkan SIM itu, dan betapa bangganya diriku melihat bahwa Orang Jateng yang satu ini kini telah memiliki SIM A terbitan Banten, dengan tanda tangan Bapak M. Sabilul Alif, Kapolresta Tangerang yang juga menjadi junjunganku di dunia literasi..

Ya betul, beliau adalah juga seorang penulis..

Summary:
--> Kab. Tangerang telah menjadi contoh untuk Propinsi Banten ini dalam hal praktik anti-korupsi dalam kasus tilang dan pembuatan SIM
--> Biaya pembuatan SIM A hanya ~Rp 180.000,- (tahun 2018). Aku mendengar gosip bahwa SIM Nembak biayanya Rp 550.000,- (3x lipat)
--> Jujur saja, SIM pertamaku di Jawa Tengah kudapatkan dengan cara nembak.. . Betapa bangganya aku sebagai orang Jawa Tengah boleh memiliki SIM Banten, lebih-lebih dengan cara ujian

Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi dan sedikit menginspirasi..


PS: Otak kiriku ternyata sudah tidak pure otak kiri lagi ya.. aku tidak bisa menulis secara singkat, padat, dan jelas lagi.. Apakah ini efek samping dari membaca buku-buku nonfiksi?

Tangerang, 14 Mei 2018


der Gruene Baum

Senin, 30 April 2018

Orang Jateng Bisa Membuat SIM Banten di Kab Tangerang? (Bagian 1/ 3)

Dear All,

Uh uh.. Tepat 1 hari setelah hari ulang tahunku, suatu peristiwa telah menggerakkanku untuk membuka dompet mengambil Surat Izin Mengemudi (SIM) yang kupunya. Betapa kagetnya diriku melihat bahwa SIM itu ternyata masa berlakunya telah habis kemarin, di hari ulang tahunku! Usut punya usut, ternyata masa berlaku SIM itu memang didesain tepat di tanggal kelahiran 5 tahun yang akan datang..

Aduuuh, masalah ini. Aku orang Jateng yang semenjak tahun 2016 lalu telah berganti domisili di Kab. Tangerang sebagai seorang karyawan di sebuah pabrik manufaktur. Hmm, sebenarnya bisa-bisa aja sih bikin SIM di kota asalku. Hal ini sudah diatur oleh Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di tempatku bekerja: aku akan mendapatkan izin 1 hari untuk itu. Akan tetapi, aku menilai ini sebagai suatu hal yang kurang bijak untuk dilakukan mengingat ada banyak kerjaan yang harus kuselesaikan di kantor di bulan April ini. Aku pun mencoba untuk mengurus perpanjangan SIM ini di Tanah Jawara. 

Maka jadilah hari Sabtu, hari libur yang kudapatkan setelah membanting tulang selama 5 hari. Sabtu itu sayangnya aku sudah membuat janji untuk mengajar anak-anak di Kota Baja Cilegon melalui kegiatan Kelas Inspirasi (KI) Cilegon 2. Memang, siang hari usai mengajar aku sempat ditemani oleh Kak Jewel ke Mayofield Mall, sebuah mal tempat di mana mobil SIM keliling melayani masyarakat. Sayangnya, seorang petugas keamanan memberitahu kami bahwa mobil tersebut baru datang pukul 16:30. Kayaknya kesorean deh. Belum juga kalau mobilnya kebetulan hari ini pas tidak datang, aku tak mau penantianku nanti sia-sia.

Menghubungi Kak Bere, kami pun mendapatkan masukan untuk bergerak menuju Kantor Satlantas Polres Cilegon yang letaknya berada di dekat alun-alun. Dengan bantuan dari googlemaps kami pun berhasil sampai di sana pukul 13:15. Ah, lagi-lagi usahaku untuk membuat SIM masih menemui kendala. Seperti yang sudah aku duga, layanan SIM di hari Sabtu kemungkinan besar hanya berlangsung setengah hari, sampai dengan jam 12 siang saja. Mungkin memang belum jodohku untuk membuat SIM di Kota Cilegon ya. "Ya elah, orang Jateng mau bikin SIM, jauh bener bikinnya nyampai kota Cilegon. Masih mending kalau tinggalnya memang di sini, sampeyan juga siapa, cuman pelancong aja di kota baja ini..", demikian imajinasiku mencoba membayangkan percakapan yang akan terjadi seandainya aku berhasil menemui petugas pembuatan SIM dan mengutarakan niatku untuk membuat SIM di Cilegon..

Sabtu berikutnya! Ndak enak kalau tidak datang ke pernikahan salah seorang engineer - customer kami di kantor -, aku jadi punya waktu beberapa jam untuk mengurus SIM di Kota Semarang, Jateng. Daya khayalku kembali bermain, "Sugeng enjing, Pak. Kula ajeng ndamel SIM ting mriki..", bahasa yang akan aku gunakan di kantor satlantas di sini. Huhu, lagi-lagi nasib sedang tidak berpihak padaku. Sabtu ini ternyata tanggal merah! Sebagai karyawan, aku tidak menghafalkan hari libur yang jatuh pada hari Sabtu, karena pada hari ini aku memang mendapatkan libur. Banten Banten. Mungkin memang peruntunganku masih ada di propinsi ini.. aku pun kembali ke Kota Benteng Tangerang ini dengan tangan hampa.

Seminggu yang berikutnya kembali berlalu. Kini aku berencana membuat SIM di kota domisiliku, Kab. Tangerang. Setelah kuparkirkan kendaraanku di sebuah lapangan parkir berlumpur di seberang, kumasuki Kantor Satlantas Polres Tangerang yang terletak di Pemda Tigaraksa. Petugas di posko menanyaiku apakah aku mau membuat SIM baru atau memperpanjang SIM. "Perpanjang SIM", jawabku mantap. Sebenarnya, dari referensi-referensi yang aku baca di dunia maya, sejak tahun 2017, SIM yang masa berlakunya sudah lewat 1 hari saja sudah dianggap mati. Orang tidak bisa lagi memperpanjangnya, melainkan harus membuat SIM yang baru. Rasa-rasanya sudah menjadi sifat dasarku yang iseng: aku tetap mencoba mengurus SIM dengan cara "perpanjang SIM", siapa tahu aturan tahun 2017 itu masih bisa dibelokkan, belum semulus dan selurus jalan tol.. Petugas pun mengarahkanku untuk membayar asuransi dan meminta surat kesehatan dari kantor terkait yang ada di seberang, yang letaknya persis di sebelah lapangan parkir berlumpur tadi.

Terasa betul manfaatnya membaca referensi dalam membuat SIM! Aku yang memang sudah menyiapkan beberapa fotokopi KTP dengan secepat kilat langsung menyerahkan syarat tersebut ketika diminta oleh petugas, baik petugas asuransi maupun kesehatan. Aku mengeluarkan kocek senilai Rp 30.000,- untuk membayar asuransi dan Rp 25.000,- untuk tes kesehatan. Sekalipun aku merasa bahwa berat badanku sudah tidak ideal lagi, aku tidak mengalami kesulitan ketika menjalani tes kesehatan. Aku hanya disodori beberapa pertanyaan dari buku tes buta warna, menyebutkan angka yang tertera di halaman satu dan halaman lainnya.

Usai mendapatkan kedua syarat ini, dengan meninggalkan KTP asli aku mendapatkan penang kuning bertuliskan "Perpanjangan SIM" dari petugas di posko satlantas. "I am on the right track to apply the driving license", gumamku percaya diri. Kepercayaan diriku seketika goyang di pos pengambilan formulir. Petugas itu menyampaikan bahwa SIM-ku sudah tidak berlaku lagi. Persis seperti referensi yang telah aku baca sebelumnya, beliau menjelaskan bahwa SIM dulunya memang diberi allowance masa berlaku sampai dengan 3 bulan ke depannya. Namun, sejak tahun 2017, aturan ini direvisi. Telat sehari pun, SIM sudah tidak berlaku lagi. Mau ngeles lupa ngecek masa berlakunya? Maaf, seperti yang aku tulis di atas tadi: SIM ternyata sudah didesain untuk habis masa berlakunya di hari ulang tahunmu 5 tahun yang akan datang. Jadi.. sama seperti visual plat nomor yang memberikan informasi bulan habisnya masa berlaku STNK, kamu memang harus selalu cek ketika bulan di kalender sudah berganti memasuki bulan kelahiranmu. Ah, 5 tahun itu 'kan lama Mas. Emm, menurutku sih nggak lama-lama amat ya, apalagi kalau kamu sudah mulai memasuki rutinitas di dunia kerja. Curcol dikit nih, gini-gini aku udah ada 2 tahun lebih lho mencari nafkah di Kab. Tangerang ini.. Adakah yang kelihatan berubah dari diriku? Kelihatannya sih nggak, kecuali perut yang sudah bertambah maju :D

Kembali ke kepengurusan SIM, aku perlu menebus uang senilai Rp 125.000,- untuk mengambil formulir tersebut. Setelah mengisi lengkap formulir dan menyertakan fotokopi KTP dan SIM, kuserahkan berkas itu ke pos berikutnya.

Sambil menunggu panggilan dari petugas untuk proses selanjutnya, aku pun sempat mengabadikan banner berikut, yang akan aku tuliskan lagi sehingga teman-teman pembaca dapat mengetahui jam pelayanan SIM di Satlantas Polresta Tangerang.

JAM PELAYANAN
Senin s/d Kamis: 08:00 WIB s/d 15:00 WIB
Jumat s/d Sabtu: 08:00 WIB s/d 14:00 WIB


... (bersambung)




Jumat, 15 November 2013

PBS = Psychosoziale Beratungsstelle

Wie gesund und leistungsfähig fühlen Sie sich gegenwärtig?

Wie gut kommen Sie gegenwärtig mit sich selbst zurecht?

Wie gut kommen Sie gegenwärtig mit anderen zurecht?

Wie zufrieden sind Sie gegenwärtig mit Ihrem Leben?

Wie zufrieden sind Sie mit Ihren gegenwärtigen Studienleistungen?

Wie zufrieden sind Sie gegenwärtig mit Ihrer persönlichen Studiensituation?

Wie zufrieden sind Sie gegenwärtig mit den Rahmenbedingungen Ihres Studiums?

...


sehr unzufrieden oder sehr zufrieden?

Danke Ihnen,
Prof. Dr. med. Rainer M. Holm-Hadulla
Psychosoziale Beratungsstelle (PBS) Heidelberg

Minggu, 14 Juli 2013

Abang oh Abang

Selamat ulang tahun SMA TN..!
Selamat ulang tahun TN18 ATMOSPHERE (Taruna Nusantara Angkatan 18)..!!!

PF: 14 Juli 2013


Pada kesempatan menulis kali ini, aku ingin mengungkap bahwa "Abang" memiliki peran yang cukup penting dalam membina adik-adiknya.
Hal ini karena adik lebih segan terhadap "Abang" daripada Pamong (guru).

Setelah 3 tahun lulus dari SMA TN, aku pun ternyata masih seperti itu.
Adalah Bang Anton, TN9 yang sore tadi mengontakku. Dia menanyakan kabarku.
Akupun membalas dengan menanyakan kabarnya. Karena Bang Anton ini juga pernah berkuliah di Jerman dan kini bekerja di Indonesia, akupun meminta penerangan terhadap masa depanku setelah selesai kuliah.
Hal ini karena, apabila kuliahku lancar insya Allah aku akan lulus tahun depan.


"Tp abg yakin, ortu-mu akan respect apapun keputusan yg kamu ambil di masa depan"
 
"Enjoy every moment & step of your life. You may think about the future, but don't be so worry about it"

"Apapun pilihan yg akan kamu ambil, tdk masalah. Mau bekerja dimanapun, asal dilakukan dgn sungguh2, pasti akan membawa hasil yg baik"


Terima kasih Bang, kata-kata Abang telah berhasil menginspirasi adik Abang yang satu ini..

Sabtu, 29 Juni 2013

Maraton Film

Hei semuanyaaa,

Sejak Selasa kemarin ada tamu yang bermalam di kamarku. Dia mahasiswa kedokteran UI yang sedang melakukan pertukaran selama 1 bulan dengan mahasiswa kedokteran Uni Heidelberg.

Dia punya prinsip, kalau makan itu harus sambil nonton film. Kalau enggak, itu such a wasting time.
Alhasil sejak Rabu sampai Jumat kemarin, akhirnya aku yang punya gen nggak terlalu demen nonton film (karena di Salatiga nggak ada bioskop :( ) nonton 3 film berturut-turut yaitu

- Wreck-It Ralph
- Invictus
- Total Recall

Aku mulai ngrasa betapa pentingnya nonton film-film (terutama yang berkualitas).

Film Wreck-It Ralph misalnya mempunyai amanat
"Orang jahat boleh-boleh aja suatu saat berkeinginan jadi orang baik. Tapi caranya tidak harus dengan memperoleh medali, membuktikan diri kepada semua orang kalau dirinya bisa menjadi seorang pahlawan. Sebenarnya caranya cukup dengan membahagiakan 1 orang saja, apakah dengan begitu aku masih dianggap sebagai orang jahat?"

Dan yang kedua adalah Invictus
"Forgiveness liberates the soul. It removes fear. That is why it is such a powerful weapon" - Nelson Mandela -
Sebuah film yang menceritakan sepotong cara kepemimpinan Nelson Mandela, presiden pertama berkulit hitam di Afrika Selatan.
Film ini memberiku 2 inspirasi:
1. Olahraga ternyata bisa menyatukan kita sebagai suatu bangsa.
2. Apakah mungkin, Indonesia suatu saat memiliki presiden dari suku x atau selain yang beragama y?
Sudah bukan saatnya lagi judge the book by its cover. Nilailah seorang manusia bukan dari outter beautynya (warna kulit, tinggi badan), tapi dari diri mereka masing-masing. Karena dari mata kuliah evolusi kita belajar: variasi gen terbesar justru terjadi di antara populasi dalam sebuah negara (bukan antarbenua). Dari 200 juta penduduk Indonesia, kita nggak bisa memukul rata kalau suku x pasti memiliki sifat z atau agama y pasti memiliki sifat a :) Betul kan?

Dan berikutnya yang aku suka adalah tipe film Sci-Fi, seperti yang beberapa waktu lalu aku tonton: Star Trek. Film Total Recall ini tidak kalah serunya dalam memberikan inspirasi.
1. Alat transportasi dari Inggris ke Australia yang bisa menembus inti Bumi?
Ini cukup masuk akal sih, setengah keliling Bumi itu = pi.d, diameter Bumi sendiri = d
Tanpa faktor pi, jarak perjalanan memang lebih singkat :)
2. Alat Total Recall yang seperti di film Inception, membuat kita bingung: ada di dunia manakah kita sebenarnya saat ini.


Dan, dgn menonton film2 itu, kemampuan bahasa Inggris kita sedikit demi sedikit bisa berkembang :)
That's why kita perlu menonton film (terutama yang berkualitas).

Sabtu, 27 April 2013

KNKP: Kenusantaraan dan Kepemimpinan

KNKP merupakan akronim dari KeNusantaraan dan KePemimpinan, salah satu dari 3 mata pelajaran kurikulum khusus SMA Taruna Nusantara Magelang.

Pelajaran ini (pada masanya) diampu oleh Bapak Banar Budiyono dan Bapak Henang Widayanto.


Yang membuatku tiba-tiba menulis tentang ini adalah
Ketika liburan di Indonesia, aku mencoba membongkar-bongkar kardus dokumen-dokumenku di SMA untuk mencari buku paket Kimia.
Tiba-tiba aku melihat sebuah buku tulis yang waktu itu aku pakai untuk mencatat di pelajaran KNKP ini.

Arsip ini ditulis pada tahun 2009, tahun di mana aku menjabat sebagai Ketua 2 OSIS di SMA itu. Tahun di mana kata "Kepemimpinan" menjadi sebuah kata yang sangat berarti bagiku. Ya, di tahun itulah aku boleh mendapatkan kesempatan untuk belajar memimpin di sekolah yang memang sengaja dipersiapkan untuk mendidik calon-calon pemimpin bangsa ini di masa mendatang.

Berikut cuplikannya
"Terima kasih, Anda tidak terlambat (16:00)
Salah satu ciri pemimpin potensial:
-> "rasa bersalah dan rasa malu jika terlambat""

Aku cuman bisa bilang "wow" bila mengenang lagi masa-masa itu.
Sebuah metode yang unik untuk memanajeri manusia. Bukannya menegur dan menasehati mereka yang datang terlambat, tapi Beliau memberikan masukan bagi mereka yang ingin disebut sebagai seorang pemimpin yang potensial.

Jiwa mudaku bergejolak.
Aku merasa mirip dengan Harry Potter, yang di edisi keenamnya menemukan sebuah buku ramuan ajaib milik Profesor Snape (Harry Potter and the Half Blood Prince).
Mudah-mudahan manfaat dari membaca buku tersebut juga mirip, aku bisa "meracik" diriku dengan baik, sehingga bisa memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara, dan dunia.

N.B.
Bedanya, buku yang kutemukan adalah buku milikku sendiri :)

Selasa, 23 April 2013

Keep a Journal

Successful people keep a journal.
Why must?

"Keeping a journal equals keeping track of your life"


#dankemeinemblog
#duhastnochmalmeinlebengerettet


Jumat, 19 April 2013

Universitas dan Kehidupan

Pernahkah kalian mendengar frasa universitas kehidupan?


Frasa universitas kehidupan barangkali muncul pertama kali dari buku Sepatu Dahlan Iskan.

"Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR.
Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata
Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan
Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit
Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI.
Tetap semangat….
Tetap sabar….
Tetap tersenyum…..
Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN
TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”
Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
MEREKA di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA."

[Disadur dari Buku "Sepatu Dahlan Iskan"]


Sangat menginspirasi sekali.
Melalui tulisan berikut ini, aku ingin menambahkan sedikit saja:

Tautologi adalah hal yang sangat aku sukai. Kalau Dahlan Iskan menggabungkan kata universitas dan kehidupan menjadi satu frasa, aku justru memisahkannya menjadi 2 kata.
Tujuannya bukan untuk menghilangkan maknanya sepenuhnya, melainkan untuk menambahkan sedikit makna, bahwa aku sedang tidak mengalami kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan di universitas pada saat sekarang ini.

Tapi aku tiba-tiba teringat pada apa yang kutulis pada buku katalog SMP Domsav tahun 2006/2007:
"Even though i will fail many times, i will be reborn forever"

Aku sangat suka dengan tantangan, dan itu benar: keputusan untuk berkuliah di Jerman cukup banyak adalah karena egoku: aku ingin sebuah tantangan baru.
Melalui kesukaran, tantangan, dan air mata yang kini berkecamuk dalam hatiku ini, setelah aku telaah lebih lanjut, mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan atas doaku selama ini.

Mungkin inilah tantangan itu. Apakah aku pantas mengeluh untuk keinginanku yang terkabul ini?
Tiba saatnya motto hidupku sejak SMP itu untuk diuji.
"Aufgeben ist nicht da in meinem Wörterbuch. Ich werde niemals, niemals und NIEMALS aufgeben!"

Sabtu, 23 Februari 2013

Sang Pujangga Bahasa Jerman

Aku sayang sama kamu

Ich liebe dich

Du bist echt wunderschön wie eine chinesische Frühlingsrolle
Kamu benar-benar cantik seperti lumpia cina (Whaaat?)

Kamu cantik banget
Du bist sehr schön/ hübsch

Du bist echt schön wie eine Puppe
Kamu cantiknya kayak boneka (imut kali ya yang dimaksud, hmm bolehlah..)

Ku merindumu..
Ich vermisse dich

Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Mein Leben ist leer ohne dich

Kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku
Du bist das schönste Geschenk in meinem Leben

Kalau kamu kembang, biar aku jadi kumbangnya
Wenn du eine Blume bist, dann bin ich der Flieger

Aku suka deh kalau kamu senyum
Ich mag dein Lächeln.

Aku tak bisa hidup tanpamu
Ich kann nicht ohne dich leben

Sampai kapan aku bisa bertahan tanpamu?
Bis wann kann ich ohne dich überleben?

Du bist das Beste was mir je passiert ist
Kamu adalah yang terbaik dari hal-hal yang pernah terjadi padaku

Du bist süß wie ein Honig
Kamu manis seperti madu (bolehlah..)

Satu jam saja kutelah bisa cintai kamu kamu kamu di hatiku, namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup.. (ST 12, tariiik maaang)
Obwohl ich nur eine Stunde dich geliebt habe, aber ich brauche mein ganzes Leben, dich zu vergessen

Mimpiin aku ya!
Träum etwas Süßes von mir!

Aku kangen kamu sayang
Ich habe dich lieb

Sayang

Schatz

Aku nggak bisa berhenti memikirkanmu, walaupun hanya sedetik
Obwohl nur eine Sekunde ist, kann ich nicht aufhören, dich zu denken

Aku setia koq sama kamu
Ich werde auf dich treuen


#BukuHarianSeorangPujanggaBernamaKristanto
Disusun bersama Chrisly L. Anggoro waktu masih di Stutensee
beberapa tahun yang lalu..

Rabu, 20 Februari 2013

Hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu.

Seorang profesor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di mejanya.
Saat kelas di mulai tanpa berbicara dia mengambil sebuah toples kosong  yang besar dan mulai mengisinya dengan bola-bola golf.
Kemudia di bertanya pada muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.
Kemudian profesor mengambil sekotak batu koral dan menuanngkannya di dalam toples. Dia mengguncang toples dengan ringan. Batu-batu koral masuk mengisi ruang kosong diantara bola-bola golf.
Kemudia dia bertanya kepada muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa kembali setuju bahwa toples sudah penuh.
Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkannya ke dalam toples. Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatu di dalam toples. Profesor kembali bertanya apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa yang melihat hal tersebut kembali menyatakan iya.
Profesor kemudian menyeduh dua gelas kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.
Mahasiswa di kelas tersebut tertawa..
“Sekarang “ kata profesor ketika suara tawa mereda. “ saya ingin kalian memahami toples itu mewakili kehidupanmu”
“Bola-bola golf tersebut mewakili  hal-hal penting dalam hidupmu, Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan dan para sahabat”
“Batu-batu koral adalah mewakili segala hal laiin , seperti pekerjaan, rumah dan mobil, “
“Pasir adalah hal-hal lainnya yang sepele”
“Jika kalian pertama kali memasukkan pasir kedalam toplesmu, maka tidak akan ada ruangan tersisa untuk koral ataupun bola-bola golf. Hal yang sama terjadi pada hidupmu”
“Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele maka kalian akan kehabisan energi untuk melakukan hal-hal yang penting buat kalian”
“Jadi,, Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu, bermainlah dengan anak-anakmu, luangkan waktu untuk check up kesehatan. Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah dan memperbaiki mobil serta perabotan”
“Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf, Hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir urus pasirnya”
Mendengar itu salah satu murid menganngkat tangan dan bertanyaj,” kalau begitu untuk apa kopi yang dituangkan tadi?”
Profesor tersenyum, “saya senang kamu bertanya, itu untuk menunjukkan bahwa sekalipn hidupmu tampak sudah penuh, tetap selalu tersedia untuk secangkir kopi bersama sahabat”

Jumat, 15 Februari 2013

Ndherek Dewi Maria

Ohrwurm..!
Danke, Tin..!!!
(buat postingan videonya beberapa waktu yang lalu)

Danke, Bang..!!!
(buat ngembaliin gitar dan mbenerin sarung gitarnya)


NDHEREK DEWI MARIA
Do = D

D               G           D
Ndherek Dewi Maria/ Meneladan Maria

Em             A           D
temtu 'geng kang manah/ hati 'kan gembira
A         E           A
Boten yen kuwatosa/ Tidak akan kecewa
Bm          E            A
Ibu njangkung tansah/ Ibu 'kan bersama

G                A         D    Bm
Kanjeng Ratu ing swarga/ Ya Maria, Ratu Surga

D           Em        A
amba sumarah samya/ kami menyerah semua

G                         F#m

Sang Dewi, Sang Dewi,/ Sang Dewi, Sang Dewi,

G                 A   
mangestonana / tolonglah kami
D                          G
Sang Dewi, Sang Dewi,
D         A     D
mangestonana


Nadyan manah getera/ Walau hati tertekan
dipun godha setan/ Digodai setan

Nanging batos engetnya/ tapi kami percaya

nyuwun pitulungan/ akan pertolongan

Wit sang Putri Maria/ Kar'na Ibu Maria

mangsa tega anilar/ akan beserta kita

Sang Dewi, Sang Dewi,
mangestonana (2x)


Interlude
Overtone: Do = E

A                          G#m
Sang Dewi, Sang Dewi,
A                 B
mangestonana
E                          A
Sang Dewi, Sang Dewi,
E          B     E
mangestonana




Senin, 11 Februari 2013

Chinese New Year 2564

Dua kata bijak pada hari yang berbahagia ini


#1 Aku senang karena aku mendapat sudut pandang yang berbeda, yang sama sekali tidak pernah terpikirkan :)

#2 Merasa lapar itu juga bisa membuat kita merasa senang koq :D


#buffetallyoucaneat
#zurfastenzeit

Kamis, 07 Februari 2013

Doa Seorang Ibu

Kalau anak ada beberapa, kata "dia" diganti "mereka"

DOA SEORANG IBU

Kuserahkan nama dia, ke dalam tanganMu, ya Tuhan
Tulislah nama dia, dengan tinta yang tak terhapuskan agar tak ada siapapun juga yang dapat merebutnya
tidak juga iblis durhaka, mengayaknya seperti gandum celaka

Peganglah tangan dia, bila dia harus kulepaskan
Biarlah dia dilindungi kuatMu, terlepas bebas dari segala kelemahan
Tuhan, Kau tahu betapa hebatnya, dunia membenci dia dengan sewenang-wenang
Jagalah jangan sampai dia tenggelam dalam gelombang cobaan dunia yang kejam

Aku tak meminta agar dia, bebas lepas dari setiap penderitaan
hanya kuminta keberanian dan daya tahan bagi dia dalam ketakutan dan kesepian
Biarlah di dalam namaMu dia beroleh perlindungan dalam satu ikatan yang tak terputuskan
Jangan biarkan dia terasing dari padaMu Tuhan, melainkan akrab setia padaMu sepanjang kehidupan

Kuserahkan nama dia, ke dalam tanganMu ya Tuhan. Amin.


T-T
Doa ini adalah doa yang selalu ibuku doakan di gereja setelah komuni.
Baru-baru ini aku tiba-tiba teringat masa-masa itu lagi dan jadi benar-benar ingin tahu isinya setelah pergi ke gereja bersama seorang temanku di sini. Entah bagaimana, aku merasa bahwa Tuhan waktu itu sedang ingin menunjukkan bahwa ia mewakili figur ibuku di sini.
Penasaran apa sebenarnya isi doanya, aku pergi mencari tahu ketika bermain ke rumah temanku yang lain. Setelah membaca doa ini, spontan mataku berkaca-kaca, aku terharu. Isinya bagus,
terutama di bagian ini

"Aku tak meminta agar dia, bebas lepas dari setiap penderitaan
hanya kuminta keberanian dan daya tahan bagi dia dalam ketakutan dan kesepian"

Pas sekali dengan apa yang kadang-kadang aku rasakan selama studiku di sini.

Terima kasih, ibu, kau telah mendoakan doa ini setiap hari Minggu untuk anak-anakmu T-T


Sekarang saatnya Kris, yang sejak tahun lalu berusia kepala 2 untuk beraksi..
- Ibu sayang kepada anak-anaknya kan ya?
- Kalau anak hanya satu, kata "mereka" diganti "dia" kan ya?
-> Aku juga belakangan ini punya satu orang yang benar-benar aku sayang. Boleh kan aku doakan doa ini untuk dia Tuhan?

"Jangan biarkan dia terasing dari padaMu Tuhan, melainkan akrab setia padaMu sepanjang kehidupan"

Kamis, 24 Januari 2013

Katalisator (2/2) Teil 2

Tulisan kali ini buat menyambung postingan sebelumnya ya.

Kali ini aku akan membahas ulahku sendiri.
Karena ini tentang ulahku sendiri, rasa-rasanya aku tidak perlu menggunakan kalimat-kalimat implisit seperti postingan sebelumnya :D

Aku adalah biang kerok yang ngebikin masalah kecil menjadi masalah besar.
Suatu notulen rapat mengatakan, "... seperti halnya susu untuk anak adalah salah satu program kami.."
Aku merasa bahwa notulen itu benar adanya, karena memang begitulah yang kami sampaikan di rapat waktu itu.

Tetapi salah seorang dari kami mengatakan bahwa, "Notulennya salah, kami tidak mengatakan hal seperti itu. Memang itu ada di file presentasi, tapi kami juga sempat bilang bahwa itu hanyalah contoh adanya inisiatif yang datang dari warga untuk bikin kegiatan".

Sebelumnya, aku sudah sampaikan ke orang ini, bahwa susu ini tidak perlu dimasukkan ke dalam file presentasi, karena memang tidak ada kaitannya dengan institusi yang kami tangani. Tetapi orang ini tetap memasukkannya, dengan alasan "nggak papa, ini contoh inisiatif dari warga".

Masalahnya bermulai di sini, aku coba iseng menanyakan ke pemilik program susu ini apakah dia sudah membaca notulen rapat yang sudah keluar beberapa hari yang lalu.
Awalnya dia tidak mencermati bagian yang aku maksud ini, sampai akhirnya dia menemukannya setelah membacanya 2 kali. Spontan dia langsung membuat group message berisikan beberapa orang yang kira-kira punya andil dalam penyusunan notulen ini untuk dimintai keterangan.

Beberapa menit setelah itu, dimulailah diskusi seru di antara "kami". Diskusi dan melobby. Sampai akhirnya, seorang dari kami meminta maaf kepada si pemilik program susu ini karena programnya telah dianggap dijadikan program kami.

"Notulennya salah, kami sudah ausdrucken kalau ini hanya contoh inisiatif warga, tapi si notulis kelihatannya salah tangkap", demikian permintaan maaf orang ini.

Setelah itu pun notulen diperbaiki dan diiringi permintaan maaf dari perwakilan "kami" dan notulis.


.. dan aku disalahkan oleh tim "kami" karena dinilai telah mengadu domba (iseng2 nanyain si pemilik program apakah sudah baca notulen). Aku sempat jengkel, kenapa sih "kami" nggak mengakui kalau "kami" memang salah? Kenapa malah si notulis yang disalahin..

Well, di sini aku juga mungkin sedikit nggak netral karena beberapa hal. Tapi aku berargumen,
1. Notulen rapat sudah keluar. Cepat atau lambat kan pemilik programnya bisa sadar akan tulisan itu. Aku cuman membantu mempercepat :D
2. Oke, mungkin notulennya memang sudah diganti, tapi aku cukup yakin, sebagian besar orang yang ada di rapat itu memang menangkap kalau susu itu program "kami" (informasi bersifat rancu)
3. Sesuatu yang nggak relevan dengan pemaparan program kami tidak perlu ditulis di sana, bahkan untuk kepentingan apapun.

Oh iya, sebelum ada kesalahpahaman setelah membaca tulisanku ini, aku katakan secara tegas di sini, ini cerita aku susun berdasarkan versiku.
Tidak tertutup kemungkinan ada versi lain :D

Na ja, tapi semuanya telah berakhir. Aku sudah meninggalkan beban kasus ini. Aku tidak jengkel lagi. Aku memaafkan.

Aku juga merasakan sudah sedikit berkembang ke arah yang lebih baik, pola pemikiranku berkembang sedikit demi sedikit.
Aku tidak mau hidup dalam beban dendam dan kebencian, tapi aku mau hidup dalam kasih.
Kalah aku boleh sombong sedikit,
"Menang jadi arang, kalah jadi abu" adalah ajaran dunia ini, tapi
"Jika ditampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu" adalah ajaranNya.


Satu hal yang positif dari ulahku adalah, dalam waktu singkat tadi notulen itu akhirnya diperbaiki juga..
lol :p

Kamis, 10 Januari 2013

Katalisator (2/2) Teil 1

... dan kali ini akhirnya kuseselesaikan tulisanku yang berjudul Katalisator setahun yang lalu (November 2012) :p

Aku mulai ceritanya dengan ulah temanku.
Dalam sebuah kepanitiaan, rapat persiapan adalah sebuah momen yang tepat untuk saling berkoordinasi dan menentukan langkah berikutnya. Ceritanya, karena suatu hal temanku ini tidak bisa ikut rapat. Padahal di rapat ini dibahas beberapa hal yang cukup fundamental bagi persiapan sebuah acara ini, dan karena rapat malam baru selesai jam 03:30 dini hari kami tidak sempat membuat notulen!

Di rapat itu disepakati bahwa kami akan menerapkan plan A terlebih dahulu di acara ini, bila gagal baru akan menerapkan plan B. Temanku tadi tidak ikut rapat, tidak ada notulen rapat, dan dia bukan tipe orang yang berpikiran rumit. Mendengar adanya bisikan "saatnya untuk terapkan plan B", dia spontan langsung menerapkan plan B, bahkan tidak terkontrol sampai jadi plan B+ (karena dia memang tidak ikut rapat persiapan). 
(Pass auf juga di sini, "saatnya untuk terapkan plan B" tadi sifatnya masih bisikan, belum jadi keputusan, sehingga sebenarnya masih perlu dibicarakan lebih lanjut)  

Karena ulah inilah, kami geger satu sama lain. Kenapa sih dia yang terkesan anteng-anteng saja saja selama ini tiba-tiba berulah, dan ulahnya ini menimbulkan masalah..

Untungnya kami kompak dalam satu tim. Adalah tidak penting untuk menyalahkan pihak X, Y, atau Z, yang lebih penting adalah bagaimana kita mencari solusi dari masalah ini.

Dan solusinya adalah
kami akan mengumumkan kepada masyarakat luas secara tertulis, bahwa "plan A yang sudah kami terapkan di awal akan digeser dengan plan B+ karena plan A terbukti tidak cukup sukses".
Dengan demikian diharapkan masyarakat luas ini mengetahui bahwa secara prosedural apa yang kami lakukan sudah benar. Seperti bunyi sebuah iklan di layar kaca: "Ini dulu, baru itu".

Iklan apa hayooo?? lol :p

TAPI untuk mengerjakan solusi ini, seorang teman panitia yang lain mengatakan kendalanya, "Tapi jaringan komunikasi kita untuk menyampaikan hal ini itu masih belum beres". Dan akhirnya, menjadi terkatalisasilah proses pemberesan jaringan komunikasi itu, yang sebelumnya memang sudah sempat tertunda-tunda.

Awal mulanya aku kesel, tapi berkat ulah temanku ini ada hikmah tersendiri yang bisa dipetik: program pemberesan jaringan komunikasi ini akhirnya diingat lagi dan terkatalisasi juga.
(NB. Walaupun sebenarnya sampai sekarang juga masih belum beres-beres juga.
Kelihatannya mesti butuh seseorang yang berulah lagi.. :D)

Sekian dulu tulisan kali ini..
Maaf, ternyata harus bersambung lagi.

Selasa, 08 Januari 2013

Ketulusan

Ketulusan:
Inti dari ketulusan adalah kasih.
Jauhkan dirimu jauh-jauh dari sikap pamrih.

Jangan memasang topeng, jangan menggunakan teknik apapun dalam memberi kebaikan kepada orang lain. Lakukanlah kebaikan itu dengan segenap hatimu.

Dan lakukanlah itu secara personal, curahkanlah seluruh perhatianmu secara utuh, tak terbagi.


Dan karena itulah, aku mengakui keterbatasanku. Aku hanya sanggup memberikan perhatian itu kepada orang-orang di sekitarku. Tuhan, ampuni aku atas ketamakanku.

P.S.
Teman Facebookku yang mula-mula ada 3000 hari ini tinggal 2772 :)
Maafkan aku.

Ketulusan dan Perjuangan

Bahahaha
Selama bulan Desember aku ternyata tidak menulis apapun.. :D

Ihr habt mich sehr inspiriert. Ich danke euch!

Demikian bunyi status yang aku pasang di Facebook, sebelum aku mengakhiri hari yang luar biasa ini.
Aku benar-benar merasa beruntung, karena mendapatkan sahabat-sahabat yang begitu baik di perantauanku yang ke-4 ini.

Salah seorang sahabatku ini telah mengajarkan kelemahlembutan, ketulusan, dan pelayanan.
Sedangkan sahabat yang lain mengajarkan ambisi, kesederhanaan, tanggung jawab, dan perjuangan hidup.

Aku sungguh merasa diingatkan kembali, betapa malasnya ternyata diriku selama ini..


Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh-sungguh mau hadir dalam hidupku melalui mereka.
Berkatilah mereka Tuhan, jagailah mereka selalu.


P.S.
Sennin mesum, suatu saat nanti bukumu benar-benar akan membawa angin perubahan besar dalam dunia ninja!

Jumat, 30 November 2012

Katalisator (1/2)

Judulnya memang sedikit berbau Bioteknologi. Aku memang suka menautkan hal yang satu dengan hal yang lainnya, supaya lebih lama membekas dalam hati.
 
Inspirasi menulis pada malam hari ini bersumber dari pengalaman pribadi minggu ini koq.

Sebenarnya, pengalaman ini bisa dibagikan ketika sesi sharing dalam Persekutuan Doa hari Sabtu, tapi karena sudah merencanakan akan mbolos, aku bagikan ke kalian di sini aja :p


Singkat cerita, sama seperti suatu proses bioteknologi pada umumnya, proses perkembangan organisasi ternyata juga membutuhkan sebuah katalisator, atau dalam bahasa manajemennya lebih dikenal dengan motor penggerak.

Sudah 2 kali dalam seminggu ini aku merasa ada katalisator di dalam organisasi ini. Yang pertama adalah ulahku dan yang satu lagi adalah ulah temanku. Ada 1 hal yang membuat kedua ulah manusia ini menjadi mirip, yaitu kami menimbulkan masalah, yang mana harus segera diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dari perasaan "ini harus segera diselesaikan" ini, aku bisa katakan organisasi ini sedang naik ke level berikutnya. Kenapa begitu?
Hal ini karena organisasi ini telah menyadari kelemahannya dan ia tahu bahwa ia harus segera melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Ia bergerak, ia terkatalisasi untuk berkembang.


(Mungkin tulisan ini masih sangat abstrak, tunggu detail ulah-ulah kami di postingan selanjutnya..)
 

Minggu, 11 November 2012

Tuhan itu Mahakreatif

Setelah lama tidak muncul di dunia tulis-menulis, pada malam hari yang berbahagia ini aku merasa mendapatkan panggilan kembali untuk menulis.

Tuhan itu Mahakreatif.
Sebenarnya julukan ini sudah pernah terlintas di kepalaku beberapa waktu yang lalu, tapi sayang berlalu begitu saja di kepalaku tanpa seorangpun tahu kenapa aku menjulukiNya begitu.

Hari ini aku baru saja mendapatkan pengalaman yang mengingatkanku pada kekreatifan Tuhan ini.

Akhir-akhir ini aku merasa cukup tertarik dengan teori klasifikasi manusia berdasarkan punya perencanaan atau cenderung spontan. Menurutku, aku adalah tipe orang yang punya perencanaan.

Beberapa hari ini misalnya, aku sering mengalami masalah dengan jam bangun pagiku. Jam wekerku sudah berbunyi sejak jam 07:30. Entah karena masih ingin merem beberapa menit lagi atau karena suara jam wekernya kurang keras, ujung-ujungnya aku jadi baru bangun sejam kemudian.
Sejak saat itu, aku mencoba untuk mengeraskan suara jam wekerku. Jadi pagi ini seharusnya aku benar-benar bisa bangun pada jam yang aku inginkan, karena aku akan pergi ke Karlsruhe.

Jam berbunyi pagi-pagi. Aku berhasil bangun tepat waktu! Setelah bangun, siap-siap, aku pun berhasil berangkat ke stasiun kereta sesuai dengan waktu yang aku inginkan.

Setelah keluar rumah, muncullah masalah pertama: aku sempat frustrasi karena hujan lebat. Tapi aku memang tidak punya pilihan lain. Sesuai yang kurencanakan, kuambil sepedaku dari parkiran, kunaiki, dan kukayuh sepeda itu sampai ke stasiun. Nggak masalah.

Setelah 3 menit berkendara, muncullah masalah kedua: angin yang menerpa saat itu memang cukup kencang, sehingga aku harus memegang Kapuze Pulloverku erat-erat, supaya kepalaku tidak kena air hujan. Mengendarai sepeda dengan satu tanganpun aku sudah terbiasa, es geht.

Sesampai di 2 perempatan pun, semuanya pun berjalan sesuai rencana. Lampu hijau selalu menyala untukku. Aku tiba di stasiun 2 menit sebelum keberangkatan keretaku. "Ah, masih sempat, yang lalu-lalu pun sempat", pikirku.
Aku pun setengah berlari menuju ke peron. Setiba di sana, aku merasa jantungku serasa dihujam oleh pisau belati. "Jlebbb", keretaku mulai bergerak perlahan-perlahan..

Aku pun ketinggalan kereta ke Karlsruhe.

Memang sih, ini nggak terlalu buruk. Toh masih ada kereta berikutnya, yang akan datang 30 menit lagi. TAPI, aku merasa keterlambatanku yang 30 menit ini cukup berarti untuk mereka, apabila karena aku acaranya harus mundur 30 menit. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak jadi berangkat, karena sampai di sana ada kemungkinan acaranya sudah mendekati selesai, atau apabila menjadi belum dimulai karena menungguku pun, aku malah merasa nggak enak sendiri.

Jadilah akhirnya aku ikut kegiatan Persekutuan Doa (PD) di Mannheim, di mana aku sudah pernah mbolos 2 kali di dalam PD sebelum-sebelumnya :p

Setelah aku mengikuti PD ini, aku merasakan kelegaan batin yang luar biasa, sama seperti yang aku alami 2 bulan lalu setelah mengikuti retret. Aku benar-benar bisa merasakan kehadiran Tuhan.
Ia telah menjamahku dan mencurahkan kembali Roh Kudus-Nya untuk membimbing hidupku, karena Allah adalah kasih (1 Yoh. 4: 7-21)

Aku yang telah merencanakan segala sesuatunya dengan rapi pun akhirnya harus mengangkat bendera putih terhadap rencana Tuhan. Aku berencana mbolos Persekutuan Doa lagi, tapi Tuhan telah merancang semua hal kreatif tadi untuk menggagalkan rencanaku. Ia tahu apa yang mungkin lebih aku butuhkan saat ini, daripada diriku sendiri.
Tulisan ini juga barangkali adalah salah satu buah Roh Kudus yang boleh aku bagikan ke kalian semua.

Tuhan itu Mahakreatif, bukan?
Rencanaku mungkin berkata A, tapi Tuhan telah menjadikannya berkata B. Dan memang indah pada waktunya.
Kreatif, alur ceritanya benar-benar tak bisa ditebak.
Satu hal yang aku percaya, rencana Tuhan selalu baik adanya.