Laman

Kamis, 29 Juni 2023

Subsidi Transportasi Publik

Sepuluh tahun yang lalu, saya menikmati subsidi tarif khusus angkutan/transportasi publik untuk mahasiswa, di negeri orang..


Selasa lalu, saya bersyukur boleh menikmati subsidi transportasi publik untuk mahasiswa itu, di negeri sendiri..!

Kota Semarang Hebat, dan ke depannya akan benar-benar #SemakinHebat ketika komitmen Pemkot yg begitu luar biasa ini disambut baik oleh warganya (masyarakat sipil, swasta, dan personil pemerintahnya sendiri): Ayo lanjutkan naik (bagi yg sudah), dan ayo ikutan naik Angkutan Publik (bagi yg belum)..!!!

Tarifnya terjangkau:
a. Tunai Rp 4.000
b. Non-tunai Rp 3.500
c. Tarif khusus Rp 1.000 berlaku untuk kelompok pelajar, MAHASISWA, veteran, lansia, dan orang berkebutuhan khusus

Dan syarat untuk mendapatkan tarif khusus ini, nggak pakai ribet dong: kelompok di atas cukup membayar sambil menunjukkan kartu identitasnya

Memang sih transportasi publik di Kota Semarang ini (@transsemarang@brttransjateng) masih buanyakk kurangnya. Kita terus suarakan saja yg mjd saran/ masukan kita. Contoh baik salah duanya telah dilakukan oleh teman2 dari #KPTS dan @transportforsmg. Izinkan saya untuk spill ya: Angkutan publik di kabupaten/kota sebelah lebih parah lagi kondisinya, jadi kita Warga Semarang sebenarnya boleh untuk sedikit berbangga (tapi harus ikut mendukung perkembangan angkutan publik kotanya ya.. :D)

Untuk mewujudkan #JalanRayaMilikKitaBersama (jalan raya yg berkurang kemacetan, tingkat kecelakaan, dan emisi CO2nya), kita anak2 muda perlu bergerak dan berjuang bersama, biar Kota Semarang suatu hari nanti juga nggak kalah dari Jakarta dan kota2 besar lainnya di dunia


Tulisan ini pertama kali muncul di Instgaram milik penulis Kristanto Irawan Putra (@kris_sal3) | Instagram

Rabu, 07 Juni 2023

A Sharing Knowledge from #BeatPlasticPollution (Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023)

 Happy World Environment Day!

Coincidentally, the Closing of CAP-SEA Project (March 2023) and the recent World Environment Day Celebration of UNEP shared the similar tagline #BeatPlasticPollution

It encourages me to share the knowledge from The Design for Recycling (D4R) Study for Plastic Packaging from the CAP-SEA Project. One of the waste management challenges in the downstream is the segregation effort of PET plastic bottles into three components before recycling: the closure, label, and the body, since they are made from diverse plastic materials. Perhaps, they were not designed by the brand owners/ converters for the ease of recycling.

The D4R Study in Indonesia have proposed several criteria for PET mineral water bottles, in which the label should be <25% coverage and easy to remove (for reference: https://lnkd.in/gub_tA6q).

The figure above indicates three bottles' designs for current available products in the market (June 2023). Regarding the D4R label criterion, the design of the third bottle seems to be fully compatible for recycling. A waste collector only needs to remove the cap from the bottle's body, and so does the recycling will be more efficient than before. The third bottle is also made from the recycled PET (rPET), declaring that the closed-loop circular economy of plastic material is really possible.

For the better plastic circularity in Indonesia, the remaining tasks lay to us as consumers:
1) Do we support the implementation of a mandatory D4R criteria for all products distributed in Indonesia? The waste problem in the temporary- and final disposal site in our city really matters. Together we can urge the importance of the recycling of our daily waste.

2) How strong is our commitment and our willingness-to-pay for a better waste management in Indonesia? Even if the mandatory D4R criteria is applied, the segregation from source (Pilah Sampah) and the "reverse logistic" needs to be well-financed (Iuran Sampah/ Retribusi), especially for the plastic packaging located in sub-urban/ rural areas or outside the Java Island (where plastic recycling factories usually do not exist).

As consumers, or as the part of civil society, we always have the right and opportunity to choose, for establishing a better world.


Diposting pertama kali di LinkedIn

Kamis, 18 Mei 2023

Bursa Politik Jateng 1

Lingkungan dan Perkotaan pada hari itu membawa saya ke sebuah ruangan, di mana saya berada di ruangan yang sama dengan orang nomor satu di kota/ kabupaten Jawa Tengah: setidaknya dapat diamati di foto ada Mas Gibran (Walikota Surakarta), Mas Dico (Bupati Kendal), dan Bu Ita (Walikota Semarang).


Publik mungkin lebih mengenal Mas Gibran karena latar belakang Sang Bapak. Elektabilitas Mas Gibran dalam perebutan posisi Jateng 1 mungkin cukup tinggi karena popularitasnya. Namun, apakah elektabilitas itu dapat menjamin bahwa Mas Gibran adalah seorang pemimpin yang baik, karena Bapaknya dikenal lebih dulu sebagai pemimpin yang baik?

Manusia hidup dibekali akal budi, kitapun patut bersyukur bahwa dengan pendidikan kita semakin mampu membaca, mengumpulkan data, mengolah menganalisis, dan menarik kesimpulan secara kritis, sesuai sudut pandang kita masing-masing.

Jadi, saya tidak sepandangan dengan orang yang menganggap Pemilu adahal hal yang sesederhana
"Siapapun calonnya, yang penting saya akan memilih partai Y", apalagi yang sesederhana "Siapapun calonnya, rasanya tidak akan berdampak langsung pada kehidupan saya"

Demokrasi adalah partisipasi publik, dan kita sebagai bagian dari publik memiliki kuasa untuk mempengaruhi peta politik dalam kontestasi perebutan posisi ini. Belum tentu akan berhasil berubah sih, tapi setidaknya ya sudah berusaha. Ingat Rumus Fisika? Kalau kita bergaya, kita dapat memberikan tekanan, karena P = F/A.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan atau mempengaruhi pembaca untuk memilih atau menolak calon/ merk yang satu ataupun yang lainnya. Tulisan ini dibuat dalam rangka latihan menulis dari seorang pribadi yang dalam hidupnya tidak mau sekedar "elek-elekan" saja.

Selamat berpikir kritis..!



Tulisan ini dipublikasikan pertama kali melalui Instagram kris_sal3

Selasa, 25 April 2023

Hari Angkutan Nasional dan BRT Kawasan Metropolitan Semarang

 Happy National Transportation Day 2023..!


In 1946, the so-called DAMRI (Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia) was in charge of bus transportation development in Indonesia. From the Cikar (a traditional cart) - to motorised Buses. As far as my current understanding, this bus transportation could be called as the Bus 1.0.

The Bus 2.0, or the next generation for the bus transportation, was the Bus Rapid Transit (BRT). Its history began in Curitiba, Brazil, with its previous term: "the Speedybus". The Curitiba's BRT was invented by Jaime Lerner, who acts as the City Mayor, and following is his quote for the public transportation:

"If you provide good alternatives for public transport, you won't have traffic problems"

To be realistic with the current condition of BRT Kawasan Metropolitan Semarang (is it rapid, is it speedy?), what should we do?
I suggest that we keep being the traffic (keep using our own motorised vehicles :p). However, I will call the BRT as "angkutan publik" instead of "angkutan umum", spread this term over and over during this year, and hope a miracle happens in 2024 :D

Nowadays, the phrase with "umum" has a pejorative/ low-opinion meaning (e.g. fasilitas umum, toilet umum). Somehow the term "angkutan publik" gives more hope for a city, because it indicates the city residents' daily needs.

Kamis, 20 April 2023

Ayo Naik Transportasi Publik (1)

 Umum Publik


Seruan kampanye naik angkutan umum terus digencarkan oleh Pemerintah Indonesia, tak terkecuali pada momen Mudik Lebaran 2023 ini. Momen mudik lebaran memang telah menjadi sebuah ritual tersendiri bagi seluruh penduduk Indonesia. Tahun ini, pemerintah memperkirakan lebih dari 120 juta penduduk akan menjalani ritual yang satu ini: pergerakan penduduk dalam skala besar dan serentak dari kota metropolitan/ kota besar ke kampung halaman.  Berbagai moda angkutan umum ditawarkan, mulai dari mudik naik kapal, naik kereta, maupun naik bus. Sayangnya, saya menilai kegiatan mudik masih didominasi oleh pergerakan penduduk menggunakan kendaraan pribadi - termasuk menggunakan motor.

Dalam rangka menganalisis pilihan moda angkutan untuk pergerakan warga ke kampung halaman, saya akan menggunakan pendekatan faktor penarik (dari kampung halaman) dan faktor pendorong (dari kota). Pertama, analisis untuk moda angkutan umum. Faktor penarik dari kampung halaman, sayangnya hampir tidak ada. Beberapa kota "sedang" mungkin memang telah memiliki angkutan umum lanjutan yang andal, misalnya Trans Semarang di Kota Semarang. Di samping layanan operasi malam hari yang ditawarkan dari Terminal Mangkang - Simpang Lima, pada Mudik Lebaran 2023 ini juga ditawarkan layanan gratis bagi calon penumpang yang dapat menunjukkan bukti tiket bahwa dirinya memang sedang transit dalam rangkaian perjalanan mudik. Sementara itu, beberapa daerah lainnya masih belum memiliki angkutan umum lanjutan yang andal, sebut saja Kota Salatiga & sekitarnya. Penumpang yang turun di Terminal Tingkir tidak memiliki banyak pilihan angkutan lanjutan, selain dijemput atau naik ojek. Angkutan Kota Salatiga hanya beroperasi dari pagi sampai sore, dikelola oleh masing-masing sopir angkota, sehingga belum dapat memenuhi standar pelayanan yang dibayangkan oleh warga yang pernah tinggal di kota yang lebih besar. Kesimpulannya, warga yang mudik menggunakan angkutan umum akan mengalami kesulitan transportasi ketika berada di kampung halamannya. Di sisi yang lain, faktor pendorong dari kota untuk mudik menggunakan angkutan umum.. (bersambung)

Senin, 17 April 2023

Siapa Saya? Saya seorang Peneliti Ekonomi Sirkular

SIAPA SAYA?
Dulu, saya seorang peneliti, setidaknya ketika sedang mempelajari tentang Cysteine Synthase Complex (CSC) pada organisme yang tergolong ke dalam Kerajaan Plantae Arabidopsis thaliana.

Beberapa tahun terakhir, saya seorang seniman. Saya mengonsep beberapa workshop dan kegiatan lapangan untuk kampanye dan pendidikan lingkungan.

Beberapa bulan terakhir, semesta kembali mengarahkan saya untuk menjadi seorang peneliti melalui lowongan kerja berikut ASISTEN PENELITI UNTUK PLASTIK & EKONOMI SIRKULER YAYASAN BINA KARTA LESTARI (BINTARI) - SEMARANG - Devjobsindo ORG.


Jadi siapa saya sekarang?
Saya adalah seorang peneliti, dan peneliti itu ternyata adalah seorang seniman. Tertaut salah satu publikasi dari proyek yang kami kerjakan : Design for Recycling (D4R) Guidelines for Prioritized Plastic Packaging in Indonesia | Knowledge Hub for Green Technologies (greentechknowledgehub.de). Senang sekali  saya bisa belajar banyak hal dari para mentor dan senior dari mengerjakan proyek ini.


Otak kiri otak kanan, peneliti adalah seniman.
Saya Kristanto Irawan Putra, seorang peneliti ekonomi sirkular dari Indonesia.


KP, 16 April 2023

Minggu, 09 April 2023

Governance Lingkungan dan Refleksi Penghargaan Adipura 2022

 [LATE POST]


Akhir Februari 2023 ini, Kota Salatiga dianugerahi Penghargaan Adipura 2022 karena keberhasilannya dalam mengelola kebersihan dan lingkungan perkotaan secara berkelanjutan. Penghargaan Adipura ini merupakan penghargaan ke-4 yang boleh diterima kota ini (2016, 2017, 2018, dan 2022).

Saya sendiri pertama kali mengenal penghargaan dunia lingkungan perkotaan ini pada penganugerahan pada tahun 2019. Pada waktu itu Piala Adipura diarak Dalam konvoi keliling Kota Salatiga, di mana saya bersama teman-teman Komunitas TUK ikut berkeliling menjadi salah satu kontingennya. "Saya berkomitmen mengurangi sampah", demikian tulisan kampanye kami, yang mendapatkan bubuhan cap tangan dari para pihak.

Kini, empat tahun berlalu sejak hari itu, dan hari ini saya berkesempatan untuk merefleksikan pengalaman itu:
1. Apakah masing-masing dari kita sudah menjalankan komitmen itu?
2. Apakah penghargaan tahun ini semakin layak dan pantas untuk diterima oleh Kota Salatiga?
3. Bagaimana pengelolaan lingkungan di kota ini dapat menjadi lebih baik lagi?
4. Siapa saja aktor yang dapat terlibat dalam pengelolaannya?

Kota Salatiga menuju pembangunan yang berkelanjutan, sudahkah?

Tulisan ini dibuat sebagai pengantar tulisan saya tentang Governance Lingkungan, sekaligus sebagai latihan saya dalam menulis

A picture is worth a thousand words (sebuah foto bernilai seribu kata), tetapi "Menulis membantu menata pikiran, bahkan kadang menata hati" - Ivan Lanin -

Minggu, 26 Maret 2023

Bukan hanya Aktor Pemerintah, Ini Arti Governance menurut Chat GPT - AI (Artificial Intelligence)

Mari belajar menulis lagi

Kurang lebih tujuh bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali berkuliah. Berkuliah alias belajar lagi. Kembali berkuliah setelah 7 tahun meninggalkan  dunia akademik, membuat saya mesti ekstra beradaptasi lagi.

Anda dan saya tapi termasuk makhluk yang beruntung, karena perkembangan dunia teknologi informasi saat ini telah melahirkan dosen/ asisten yang super canggih bernama AI (Artificial Intelligence). Saya berkenalan lebih dekat dengan "robot" yang satu ini dari Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi: Pak Ridwan Sanjaya. Beliau memperkenalkan AI dengan GPT atau Generative Pre-Training yang dapat diakses melalui tautan berikut chat.openai.com

Supaya tulisan saya yang berikutnya lebih terdengar lebih akademis, yuk bisa yuk langsung saja ya.. 

Kata Governance berasal dari kata "to govern/ governing". Kita mungkin lebih akrab dengan kata Government yang sering diterjemahkan menjadi pemerintah. Pak Wijanto Hadipuro pertama kali memperkenalkan saya dengan kata ini, yang pada semester berikutnya dibahas lagi lebih panjang lebar oleh Pak Benny (Benediktus Danang Setianto). Kata Governance lebih luas dari sekedar kata Pemerintahan (aktornya hanya pemerintah), tetapi juga memiliki kata Pengaturan. Kata Pengaturan selanjutnya saya terjemahkan menjadi regulasi/ peran regulator yang juga dimiliki oleh pemerintah. Kata Governance ternyata belum memiliki padanan/ terjemahan yang mampu menjelaskan maknanya secara utuh di dalam Bahasa Indonesia.

Kembali ke Chat GPT. Berikut ini merupakan pertanyaan yang saya lontarkan dan jawaban yang AI berikan terhadap kata Governance:

"K: apakah governance juga bisa dilakukan oleh aktor non pemerintah?

A: Ya, governance atau tata kelola tidak hanya dilakukan oleh aktor pemerintah, tetapi juga dapat dilakukan oleh aktor non-pemerintah, seperti organisasi nirlaba, sektor swasta, atau kelompok masyarakat sipil. Hal ini disebabkan karena prinsip-prinsip tata kelola yang baik dapat diterapkan pada berbagai jenis organisasi dan entitas, baik yang bersifat publik maupun swasta.

Penerapan tata kelola yang baik oleh aktor non-pemerintah dapat membantu mereka mencapai tujuan mereka secara lebih efektif dan efisien, serta memperkuat kepercayaan dan dukungan masyarakat terhadap mereka. Contoh dari penerapan tata kelola yang baik oleh aktor non-pemerintah adalah dengan mematuhi standar etika dan transparansi dalam kegiatan mereka, melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan, dan memastikan akuntabilitas dan integritas dalam setiap tindakan yang dilakukan.

K: apakah itu berarti governance juga perlu dilakukan secara penta-heliks, atau hexa-heliks? melibatkan akademisi, media, dan LSM

A: Ya, dalam beberapa konteks, praktik tata kelola yang baik dapat diterapkan melalui pendekatan penta-heliks atau hexa-heliks, yang melibatkan berbagai aktor dari berbagai sektor dan bidang. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan multistakeholder, di mana keputusan dan implementasi kebijakan melibatkan partisipasi berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan peran dalam suatu masalah atau isu.

Dalam pendekatan ini, akademisi, media, dan LSM dapat memiliki peran yang penting dalam membantu mengawasi dan memantau proses tata kelola serta memberikan masukan dan perspektif yang berbeda dari pihak pemerintah atau sektor swasta. Akademisi dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman mereka dalam memahami isu-isu yang kompleks dan memberikan rekomendasi solusi yang berbasis bukti. Media dapat membantu mengawasi dan memantau tindakan pemerintah atau sektor swasta, serta memberikan informasi yang transparan dan akurat kepada masyarakat. LSM dapat menjadi wakil dan suara masyarakat dalam mengadvokasi kepentingan mereka, serta memastikan bahwa proses tata kelola berjalan dengan akuntabel dan adil.

Dengan melibatkan berbagai aktor dari berbagai sektor dan bidang, pendekatan multistakeholder dapat memperkuat proses tata kelola dan meningkatkan kepercayaan dan partisipasi masyarakat dalam mengambil keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka."

Singkatnya, Governance adalah kita. Governance berbicara tentang keseimbangan, bukan dominasi, sekalipun kekuatan triple/penta/hexaheliks selalu penuh dinamika dan akan terus berkontestasi memperebutkan kekuatan..


KP, 26 Maret 2023

Minggu, 19 Maret 2023

Tips Nyobain Naik Angkutan Umum Trans Semarang: Jalan-jalan PP cuman habis Rp 4.000 (2/2)

 .. singkat cerita, naiklah saya ke Angkutan Feeder - yang dilayani dengan Armada Elf. Adapun waktu itu, armada hanya terisi 5 penumpang dari total kapasitas 18 penumpang  (Load Factor = 28%?). Bisa jadi, ini adalah efek dari penambahan armada pada Feeder koridor 3 yang semula hanya 12 unit kini menjadi total 20 unit (selengkapnya dapat dibaca di sini https://www.suaramerdeka.com/semarang-raya/pr-046532084/trans-semarang-tambah-delapan-armada-feeder-rute-pasar-banyumanik-terminal-penggaron).

Sesampai di Terminal Banyumanik, saya pun duduk di halte menunggu kedatangan bus BRT. Sambil menunggu, saya mengamati papan bertuliskan Trans Jateng. Hal ini mengindikasikan bahwa halte bus TransSemarang (TS) dan halte bus TransJateng (TJ) di tempat tersebut letaknya di lokasi yang sama. Eeeh, lokasi pemberhentian bus TS dan TJ tidak selalu berlokasi di halte yang sama ya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, izinkan saya untuk lanjut menceritakan tips dulu sesuai judul tulisan. Tidak sampai 10 menit menunggu, akhirnya sebuah bus datang dan berhenti di Halte Terminal Banyumanik. "Koridor 2 tujuan Terminal Terboyo, persiapan", demikian seru salah seorang petugas di halte tersebut, memberikan petunjuk kepada para calon penumpang bahwa bus yang datang adalah Bus TS koridor 2 (Terminal Sisemut Ungaran - Terminal Terboyo Semarang/ Sisemut - Terboyo). Saya pun lanjut menaiki bus tersebut, bertualang ke Semarang-bawah.

Tempat duduk penumpang Bus TS dipisah menjadi tempat duduk penumpang laki-laki dan perempuan. Ketika saya menghitung jumlah kursinya, terdapat total 23 tempat duduk di bus berukuran sedang tersebut (biasanya disebut bus ukuran 3/4).  Dari 23 tempat duduk, hanya terdapat 5 - 6 kursi untuk penumpang laki-laki, dan saya beruntung bus tidak sedang ramai sehingga saya bisa mendapatkan tempat duduk. Apakah saya perlu membayar tiket lagi? Tentu tidak, mengingat saya tidak keluar dari halte. Dari angkutan feeder, saya bisa oper ke bus TS tanpa harus membayar lagi. Pertanyaan selanjutnya: Saya mau turun di halte mana ya? Rasanya bakal kemaleman deh kalau harus ikut bus sampai tujuan akhir Terminal Terboyo :D

Tiba-tiba saya teringat kembali saat-saat di mana saya pernah naik Bus TS pada tahun 2018 - 2019. Pada saat itu saya mengenal ada 2 Halte Bus TS untuk lokasi transit, yaitu Halte Elisabeth dan Halte Balaikota. Di Halte Kagok - halte sebelum Bunderan Elisabeth - kondektur bus sempat menyampaikan, "Kagok. Yang mau transit, yang mau transit persiapan..". Sebagai penumpang bus awam, saya belum familiar dengan halte transit yang satu ini sehingga saya pun mengurungkan niat untuk transit. Dan ternyata, bus yang menuju ke arah Terboyo ini tidak melewati Halte Elisabeth :( Saya pun melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk transit di Halte Balaikota - halte pusat transit berikutnya yang saya ketahui.

Sesampai di Simpang Tugu Muda, saya agak deg-degan mengingat kini arus lalu lintas satu arah diberlakukan untuk Jalan Imam Bonjol dan Jalan Pemuda. Saya sih tetap yakin kalau tetap bisa transit di Halte Balaikota, tapi pertanyaannya, di halte yang sebelah mana bus ini akan berhenti? Secara umum, Layanan Bus TransSemarang berbeda dengan Bus TransJakarta (TiJe), di mana halte Bus Tije terletak di pulau di tengah-tengah jalan - sehingga benar-benar memungkinkan orang untuk tidak keluar halte, apabila ingin naik bus ke arah sebaliknya. Halte Bus TS, sekalipun terletak di halte pusat transitnya di Halte Balaikota, sesempit pemahaman saya, Bus TS belum bisa menjawab tantangan ini. Menyeberang jalan untuk menaiki bus dengan arah sebaliknya, pasti akan dianggap keluar halte sehingga perlu membayar lagi.

Dan ternyata saya berhenti di halte yang berada di sebelah kiri jalan. Seingat saya, halte ini merupakan halte yang akan dilewati Bus Terboyo - Sisemut yang mengarah ke Semarang-atas/ Sisemut. Jadi, saya pun transit di halte, untuk kembali menaiki Bus TS dengan arah sebaliknya - arah pulang ke tempat saya berangkat. Berhasilkah saya naik bus tanpa bayar tiket lagi? Jawabannya iyesss, saya tanpa bayar - karena saya terhitung sedang transit = tidak keluar halte.

Seandainya saya keluar halte - mungkin untuk coba menaiki Bus Trans Jateng (TJ) - dapat dipastikan bahwa saya akan diminta untuk membayar tiket lagi. Di Halte Balaikota, halte Bus TJ tidak berada di lokasi yang sama dengan halte Bus TS - walaupun Halte Balaikota adalah halte pusat transit. Kenapa bisa begitu? Yaaa, mungkin kali lain akan saya ceritakan. Ceritanya bertahap saja ya, karena saya pun juga baru menyadari akhir-akhir ini bahwa layanan angkutan umum itu rumit: lebih dari sekedar menyediakan bus dan menginjak pedal gasnya. Ada komponen-komponen lain misalnya halte, yang walaupun terlihat sepele tetapi sebenarnya sangat menentukan kualitas layanan angkutan umum yang berbasis transit ini. 

Singkat perjalanan, saya pun akhirnya dapat kembali tiba di Halte Terminal Banyumanik pada pukul 19:30. Sayang, angkutan feeder sudah habis jam segini, sehingga saya harus berjalan kaki lebih jauh. Namun, perjalalanan sore-malam ini sangatlah menarik: ada beberapa poin pembelajaran yang saya dapatkan, dan untuk itu saya benar-benar hanya mengeluarkan Rp 4.000 - untuk sebuah round trip/ perjalanan pulang-pergi ini. Hidup BRT Metropolitan Semarang, hidup TransSemarang..!

Penulis berharap teman-teman yang lain mesti cobain deh layanan angkutan umum yang satu ini. Supaya tidak bingung, mungkin bisa dimulai dari Halte Terminal Banyumanik, atau dari Halte Balaikota saja? Selamat mencoba. Mari ikut berkontribusi terhadap upaya sharing kendaraan - kita bergerak bersama dalam rangka mengurangi emisi CO2 di perkotaan dari sektor transportasi.


KP, 19 Maret 2023

*Ke depannya, saya juga harus mencoba Bus TJ agar dapat menyediakan variabel pembanding :D