Laman

Senin, 01 November 2010

Kereta di Jerman

Kereta di Jerman
                Secara umum (di seluruh Bundesland (=Provinsi)), kereta di Jerman dibagi tiga
1.       ICE (Inter-City-Express)
Kecepatan sangat tinggi, bisa mencapai 300 km/jam. Minimnya guncangan membuat orang berkata, “Serasa naik pesawat”. Cepat sampai, karena hanya berhenti di Hauptbahnhof (Stasiun utama) Kota besar. Harga cukup mahal, tapi kalau memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya (1 minggu misalnya), bisa dapat harga hemat.
2.       IC/EC (Inter-/Euro-City)
Kecepatan cukup tinggi. Cepat sampai, karena hanya berhenti di Hauptbahnhof (Stasiun utama) Kota. Harga lebih hemat daripada harga ICE. Sama seperti ICE, kalau memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya (1 minggu misalnya), bisa dapat harga hemat.
3.       IRE/RE/RB/S-Bahn (Nahverkehr/ Kereta Jarak Dekat/ Kereta Regional) 
Kecepatan sedikit lebih rendah. Cukup lambat sampai, karena berhenti hampir di setiap stasiun (tapi cuman sebentar koq, cuman sekitar 15 detik). Harga günstig (murah meriah). Malahan ada tawaran menarik, namanya Laender-Ticket dan Schoenes-Wochenende-Ticket.
a.       Länder-Ticket
Dijual setiap hari. Satu tiket bisa dipakai oleh max. 5 orang, di semua kendaraan umum jarak dekat (IRE/RE/RB/S-Bahn/Bus) di satu Bundesland (=Provinsi) dari pukul 9 pagi sampai pukul 3 pagi (hari berikutnya). Harga untuk masing-masing Bundesland berbeda, sekitar 28-31 Euro.
b.      Schönes-Wochenende-Ticket
Berlaku pada hari Sabtu atau Minggu saja. Satu tiket bisa dipakai oleh max. 5 orang, di semua kendaraan umum jarak dekat (IRE/RE/RB/S-Bahn) di seluruh penjuru Jerman dari pukul 00.00 sampai pukul 3 pagi (hari berikutnya). Harga 37 Euro.
               
                Berbeda dengan Indonesia, Jerman memprioritaskan sektor transportasinya pada kereta (untuk jarak jauh) serta pengendara sepeda dan pejalan kaki (untuk jarak dekat)
1.       Kereta di Jerman selalu ramai penumpang (terutama hari Sabtu dan Minggu, mungkin karena ada Schoenes-Wochenende-Ticket). Tempat penumpang di dalam kereta didesain untuk segala usia (dari bayi sampai lansia), sehat maupun (maaf) cacat, atau yang membawa barang sekalipun (koper, anjing, sepeda). Ada bagian di mana tempat duduk bisa dilipat untuk tempat menaruh kereta bayi, sepeda, maupun kursi roda, dan tempat duduk yang diprioritaskan bagi para lansia (biasanya dekat pintu keluar), serta semacam bagasi di kabin pesawat udara untuk tempat menaruh barang (koper, tas). Kereta juga bisa kita ketahui berapa menit lagi akan tiba dan jam berapa akan sampai di tempat tujuan. Antara jadwal dan realita, jarang meleset
2.       Di Stasiun kereta banyak diparkir mobil dan sepeda. Bukan mobil penjemput, melainkan mobil yang sengaja diparkir karena pengendara dan penumpangnya naik kereta untuk bepergian jarak jauh
3.       Jarang sekali terlihat sepeda motor di sepanjang jalan, orang cenderung menggunakan sepeda ontel (mungkin karena bensin 1 L = 1,2 Euro atau naik sepeda bisa sambil berolahraga dan bisa lebih ramah lingkungan)
4.       Di jalan raya disediakan jalur khusus untuk pengendara sepeda
5.       Jembatan penyeberangan di Jerman hampir tidak ada, karena di setiap lampu merah selalu ada lampu merah tersendiri bagi para pejalan kaki maupun pengendara sepeda yang ingin menyeberang
6.       Apabila menyeberang di persimpangan jalan yang tidak ada lampu merahnya sekalipun (jalan kecil/ gang), pengendara mobil mempunyai budaya untuk selalu mempersilakan pejalan kaki atau pengendara sepeda untuk menyeberang terlebih dahulu

Misalnya, bepergian dari Frankfurt am Main Flughafen (=Bandara) ke Aachen. Kisaran harga kereta: Naik ICE harga hemat, bisa dapat harga 29 Euro (dari harga normal 76 Euro). “Frankfurt(M)Flugh. Gleis 7, Koeln Hbf Gleis 5, Koeln Hbf Gleis 8, Aachen Hbf Gleis 6”. Teknisnya
a.       Mendarat di Frankfurt, pergi ke terminal 1. Khusus di Frankfurt(Main), stasiun kereta dibedakan menjadi dua, Fernbahnhof (=long-distance train) dan Regionalbahnhof. Karena kita mau ke Aachen (beda Bundesland), pergilah kita ke Fernbahnhof. Petunjuk arahnya jelas koq, ada gambarnya pula, jadi tenang aja. Tenteng barang bawaan sendiri, jangan pakai kereta dorong (=trolley), karena membawa trolley akan mempersulit mobilitas kita
b.      Beli tiket kereta itu bisa di dua tempat, Automat (mesin otomatis) atau di DB-Reise-Zentrum (=loket tiket kereta, penjualnya manusia). Beli di Automat bisa menghemat uang 2 Euro daripada di DB-Reise-Zentrum.
c.       Setelah beli tiket, ada 3 informasi yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah di Gleis (=rel) nomor berapa, yang kedua adalah nama dan nomor keretanya, dan yang terakhir adalah kapan waktu keberangkatannya. Rel nomor 7, berarti cari petunjuk arah bertuliskan angka 7, dan pergilah ke sana. Sampai di sana, temukan layar digital bertuliskan rel nomor berapa, kereta apa, dan kapan waktu keberangkatannya.
d.      Jangan panik. Mungkin tujuan kereta yang akan kita naiki (yang tertera di Reiseplan-kita (=rencana perjalanan)) itu tidak tertera di layar. Contoh, di Reiseplan kita temukan “Frankfurt(M)Flugh. Gleis 7, Koeln Hbf Gleis 5, Koeln Hbf Gleis 8, Aachen Hbf Gleis 6”. Sedangkan yang tertera adalah Hamburg Altona (sebagai tujuan akhir kereta yang akan kita naiki itu).  Yang penting nama, nomor kereta, dan waktu keberangkatannya cocok.
e.      Kereta berjalan ke Mainz, Koblenz, Bonn, dan akhirnya sampai di Koeln. Sesuai Reiseplan, kita mesti turun buat umsteigen (=oper/ pindah kereta), karena kereta ini tidak menuju ke Aachen. Umsteigen cuman 10 menit, gimana nih? Tenang aja, di Koeln dan stasiun lainnya, Fernbahnhof dan Regionalbahnhof tidak berpisah stasiun, alias jadi satu. Sampai di sana, turun dari kereta (pasti di rel nomor 5), lalu cari tangga/ eskalator buat turun ke lantai dasar. Ikuti petunjuk arah bertuliskan angka 8, karena selanjutnya kita mesti ke rel nomor 8. Naik eskalator lagi dan sampailah ke rel nomor 8. Tunggu kereta datang dan masuklah. Selesai! Sampai di Aachen Hbf, kita akan tiba di rel nomor 6. Cari petunjuk arah Ausgang (=pintu keluar), dan selamat datang di Aachen, kota tempat Pak B.J. Habibie disanjung dan dipuja!

2 komentar:

  1. you really inspires me!!
    thanks..
    i think 'our beloved country' should learn from 'your current country'
    i really mad with all traffic especially in bandung!!! i imagine about cycling there, very interesting, right???

    BalasHapus
  2. bener, Nas. Aku setuju..
    Tapi nggak semuanya yang di sini bisa diserap mentah2 sama Indo lho.
    Itu berarti kita meniru, alias menyontek...

    BalasHapus

Ada kesalahan di dalam gadget ini