Laman

Tampilkan postingan dengan label adil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2023

A Sharing Knowledge from #BeatPlasticPollution (Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023)

 Happy World Environment Day!

Coincidentally, the Closing of CAP-SEA Project (March 2023) and the recent World Environment Day Celebration of UNEP shared the similar tagline #BeatPlasticPollution

It encourages me to share the knowledge from The Design for Recycling (D4R) Study for Plastic Packaging from the CAP-SEA Project. One of the waste management challenges in the downstream is the segregation effort of PET plastic bottles into three components before recycling: the closure, label, and the body, since they are made from diverse plastic materials. Perhaps, they were not designed by the brand owners/ converters for the ease of recycling.

The D4R Study in Indonesia have proposed several criteria for PET mineral water bottles, in which the label should be <25% coverage and easy to remove (for reference: https://lnkd.in/gub_tA6q).

The figure above indicates three bottles' designs for current available products in the market (June 2023). Regarding the D4R label criterion, the design of the third bottle seems to be fully compatible for recycling. A waste collector only needs to remove the cap from the bottle's body, and so does the recycling will be more efficient than before. The third bottle is also made from the recycled PET (rPET), declaring that the closed-loop circular economy of plastic material is really possible.

For the better plastic circularity in Indonesia, the remaining tasks lay to us as consumers:
1) Do we support the implementation of a mandatory D4R criteria for all products distributed in Indonesia? The waste problem in the temporary- and final disposal site in our city really matters. Together we can urge the importance of the recycling of our daily waste.

2) How strong is our commitment and our willingness-to-pay for a better waste management in Indonesia? Even if the mandatory D4R criteria is applied, the segregation from source (Pilah Sampah) and the "reverse logistic" needs to be well-financed (Iuran Sampah/ Retribusi), especially for the plastic packaging located in sub-urban/ rural areas or outside the Java Island (where plastic recycling factories usually do not exist).

As consumers, or as the part of civil society, we always have the right and opportunity to choose, for establishing a better world.


Diposting pertama kali di LinkedIn

Kamis, 09 Maret 2023

Disiplin Pribadi Mendorong Tumbuh Kembangnya Kreativitas

Demikian kiranya kalimat yang tertulis pada Prasasti Ki Suratman yang berada di Kampus SMA Taruna Nusantara Magelang.

Dilihat dari sudut pandang etimologi, kata 'disiplin' tentunya tidak terasosiasi erat dengan kata 'kreativitas'. Keduanya bahkan cenderung bertolak belakang, mengingat kata 'disiplin' mengandung arti menjalankan hal yang sama secara kontinyu, sebaliknya, kata 'kreativitas' terasosiasi dengan kata 'inovasi' - baru/ hal lain yang berbeda dari yang sudah pernah ada.

Namun demikian, saya menerjemahkan kalimat tersebut mengandung arti, "Bisa itu karena biasa. Jika kamu berdisiplin, kamu akan berkemampuan, sehingga dapat lebih cepat mengerjakan suatu hal yang bersifat rutin. Selanjutnya, akhirnya kamu akan mempunyai waktu lebih yang kamu idam-idamkan untuk memikirkan dan mengerjakan hal yang lain - sesuai kreativitasmu".

Terjemahan di atas bisa jadi keliru, karena saya pribadi belum pernah bertanya langsung pada Ki Suratman, maupun melakukan studi terkait hal tersebut. Akan tetapi, menganut paham Post-Modernisme - di mana semua kebenaran adalah relatif - secara mantap dan meyakinkan saya yakin dengan kebenaran hal tersebut, karena rasa-rasanya cukup sesuai dengan konteks kehidupan yang saya jalani ini.

Saya perlu lebih disiplin dalam menulis. Selain karena menurut Pramoedya Ananta Toer menulis adalah bekerja untuk keabadian, menulis ternyata adalah sebuah cara agar dunia mengenal kita.


KP, 8 Maret 2023

Jumat, 11 Oktober 2019

DAS Daerah Aliran Sungai di Salatiga yang bermuara di Danau Rawa Pening

Bersama Komunitas TUK dan LP3 Global Green Indonesia, saya mempelajari lebih dalam mengenai DAS, yang merupakan singkatan dari Daerah Aliran Sungai.

Sejauh yang saya tangkap, Danau Rawa Pening sebenarnya merupakan bagian dari DAS Tuntang, di mana danau tersebut dianggap sebagai hulu sungainya. Jadi, bicara soal DAS, Danau Rawa Pening itu bukan DAS, melainkan hanya Sub-DAS.

Sebenarnya ada 16 anak sungai yang bermuara di danau ini. Hanya saja, karena beberapa anak sungai sudah bertemu sebelum sampai ke Danau Rawa Pening, disebutkan bahwa aliran sungai yang masuk ke Rawa Pening hanya berasal dari 9 sungai.

Adapun kesembilan sungai tersebut sebagian besar terletak di Kabupaten Semarang dan sebagian kecilnya di Kota Salatiga. Benar, aliran sungai yang di Kota Salatiga asalnya adalah dari The Mighty Mount Merbabu alias Gunung Merbabu yang menjadi salah satu ikon Kota Salatiga ini.

Jadi, berikut ini adalah Kelurahan/ Kecamatan di Salatiga yang dilalui oleh aliran sungai yang akhirnya akan bermuara di Danau Rawa Pening
1. Kecamatan Argomulyo (Kelurahan Randuacir, Kumpulrejo, dan Tegalrejo)
2. Kecamatan Sidomukti (Kelurahan Mangunsari, Dukuh, dan Kecandran)
3. Kecamatan Sidorejo (Kelurahan Pulutan, Salatiga, Bugel, Sidorejo Lor, dan Blotongan)



So, total ada berapa kelurahan di Salatiga yang punya andil terhadap kelestarian air di Rawa Pening?
Jawabnya ada 11 kelurahan, yang terletak di 3 kecamatan di Kota Salatiga.

Siap beraksi untuk hijau bumiku dan lestari alamku di Salatiga Raya, khususnya di 11 kelurahan ini?
Yuk ikuti Festival Rawa Pening #2 yang diadakan bersamaan dengan Kongres Sampah Nasional di Kesongo, Tuntang, Kab. Semarang pada tanggal 12 - 13 Oktober 2019 ini.


Salatiga, 10 Oktober 2019


Kristanto Irawan Putra
Aktivis Lingkungan Hidup

Selasa, 26 Juni 2018

Aku, Komplainku, dan Kebodohanku (Pembayaran Layanan Internet Ind*home)

Aku
Aku termasuk salah seorang anak yang beruntung, boleh lahir dalam sebuah keluarga yang berkecukupan - bahkan menurut beberapa orang, termasuk yang berlebih - sehingga bisa memasang beberapa layanan internet Ind*home yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini. Mengingat orang-tuaku lahir di tahun 60an awal, mereka cukup gaptek sehingga layanan-layanan internet ini didaftarkan menggunakan namaku dan aku mempunyai kewajiban untuk membayar layanan internet ini setiap bulannya.

Sebelum aku menjadi bagian dari masyarakat Tangerang, aku telah mendaftarkan namaku untuk 2 layanan internet di kampung halaman. Seiring waktu berlalu, di tahun 2018 aku mendaftarkan namaku lagi untuk 2 layanan internet lagi di Tangerang ini: di TBM Citra Raya dan di rumah kontrakanku, tempatku tinggal bersama teman-teman yang lain. Lagi-lagi, di sini aku tinggal bersama 2 orang rekan kerja yang lahir di tahun 70an awal, sehingga tingkat kemelekan mereka terhadap dunia internet rasa-rasanya masih kalah denganku. Sekali lagi kupakai namaku untuk mendapatkan layanan internet di rumah ini.

Curahan hati seorang teman malam ini meningatkanku bahwa dunia kerja memang berbeda dengan dunia kuliah. Aku menyadari betul bahwa waktu luang yang kupunyai saat ini jauh lebih sedikit daripada di masa lalu. Ya, sepertinya kata-kata seorang teman baikku yang lain - yang sudah lebih dulu menginjakkan kakinya di dunia kerja - memang benar adanya: ketika bekerja, kita menukarkan waktu yang kita miliki dengan uang berupa gaji yang masuk ke dalam rekening bank kita setiap bulannya.. Layanan internet yang dipasang di Tangerang ini semuanya dilakukan tanpa keberadaanku, mengingat teknisinya bekerja di siang hari, saat di mana aku sedang bekerja menukarkan waktuku dengan uang tadi. Jadilah internet ketika sore hari sudah terpasang, dan aku pun tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan para teknisi itu. Untungnya, aku termasuk bagian dari generasi milenial yang cukup cepat beradaptasi dengan teknologi ini. Dengan satu klik, klik, dan klik, aku tidak mengalami kendala yang berarti untuk menggunakan layanan ini dengan baik.

Angin bertiup, daun berguguran, hari demi hari silih  berganti. Setelah beberapa saat menggunakan layanan, tibalah saatnya untuk membayar. Berbekal nomor yang tertera di sebuah box modem, aku pun membayar layanan internet di rumah kontrakan melalui layanan mobile banking yang disediakan oleh sebuah bank swasta terbesar di Indonesia. Aku pun juga merasa telah membayar layanan di TBM Citra Raya, berbekal nomor telepon yang disampaikan oleh teknisi Ind*home itu melalui pesan singkat di WhatsApp. Jadilah pada bulan itu, aku telah menyelesaikan tagihan layanan internet untuk kedua termpat tersebut.

Komplain
Suatu hari di tanggal 20an bulan itu, aku mendapati bahwa di rumah kontrakanku kami tidak bisa menikmati layanan TV berlangganan dengan pesan sebagai berikut:

Disebutkan di sana bahwa layanan terganggu karena kami belum melakukan pembayaran. Wah wah wah, ini jelas membuatku merasa terhina. Bagaimana mungkin aku yang sudah melakukan pembayaran dianggap belum melakukan pembayaran sehingga layanannya diputus? Kuambil telepon genggamku dan segeralah kulakukan komplain. Jujur saja, aku cukup merasa terganggu waktu itu dengan petunjuk dari operator telepon hotline tersebut, karena mereka selalu menyarankan menyampaikan komplain menggunakan aplikasi MyInd*home, yang mana tidak lagi bisa aku akses karena aku telah mendaftarkan diriku untuk 4 layanan internet berbeda dengan provider yang sama ini. Besar harapanku, ke depannya layanan aplikasi MyInd*home ini bisa ditingkatkan oleh pihak Ind*home untuk pelanggan yang memiliki lebih dari 1 layanan sepertiku. Komplain kusampaikan dan berakhirlah hari itu.

Pihak Ind*home berusaha untuk melakukan reset dari server dengan cara memintaku untuk mematikan, kemudian menghidupkan modemnya lagi setelah beberapa saat. Petunjuk ini telah kulakukan, dengan beberapa jeda waktu antara mematikan dan menghidupkan misalnya:
Matikan, 5 menit tunggu, hidupkan
Matikan, 1 jam tunggu, hidupkan
Matikan, 1 hari tunggu, hidupkan
.. dan upaya ini ternyata seperti menggarami air laut. Akupun melakukan komplain sekali lagi via telepon. Aku mendapatkan petunjuk lagi, yakni untuk melakukan reset setting'an pada TV menggunakan nomor internet yang tertera di box. Kulakukan cara ini, kukombinasikan dengan cara klasik matikan hidupkan.. dan lagi-lagi upaya ini juga tidak membuahkan hasil. Pitamku mulai tinggi kembali, keesokan harinya kulakukan lagi komplain.

Di hari Minggu, aku mendapati bahwa komplainku kali ini disambut sangat baik, di mana teknisi Ind*home mau datang langsung dan mau mengecek akar masalahnya. Harapan bisa menikmati layanan internet lagi pun muncul dan membuatku bahagia, terlebih ketika menghitung hari-hari tanpa internet yang hilang, di mana aku tetap harus membayar layanannya. Mereka muncul pertama kali di TBM Citra Raya, menanyaiku apakah layanan yang terkendala ada di TBM. Aku pun menjawab bahwa layanan terkendala ada di rumah kontrakan. Aku tidak berpikir panjang kenapa mereka justru datang kemari, karena aku memang mendaftarkan diriku untuk 2 layanan: di TBM dan kontrakan. Usut punya usut, ternyata ada kebodohan yang telah kulakukan yang membuat pihak Ind*home mungkin juga kesal terhadap komplain-komplainanku selama ini.

Kebodohan
Sekalipun ketika pemasangan aku dan teknisi itu berkoordinasi via WhatsApp dan telepon, rupa-rupanya ada saja hal yang ketinggalan untuk disampaikan: aku ternyata tidak mengetahui secara persis nomor internet yang harus kupakai untuk membayar layanan ini setiap bulannya. Nomor internet yang kugunakan untuk membayar layanan internet di kontrakan, ternyata adalah nomor layanan internet untuk TBM. Nomornya tertukar, sehingga layanan di kontrakan memang belum pernah dibayar selama sebulan dua bulan ini. Wajar dong kalau layanannya diputus. Wah, ini jelas sesuatu. Betapa malunya aku yang sempat berniat melaporkan layanan Ind*home yang kurang profesional ini ke khalayak ramai!

Tulisan ini aku buat untuk menghibur para pembaca akan kebodohanku, sekaligus sebagai bentuk permohonan maaf kepada Ind*home yang telah membuat KPI mereka (mungkin) menjadi tidak tercapai karena komplain-komplainku yang berkepanjangan, yang mana disebabkan karena kebodohanku sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat.


Tangerang, 26 Juni 2018


der Gruene Baum

Minggu, 22 Januari 2017

Gerakan "Amalkan Pancasila: Makin Adil, Makin Beradab"

Amalkan Pancasila: Makin Adil, Makin Beradab

Tahun 2017 ditetapkan sebagai "Tahun Kemanusiaan" oleh KAJ Keuskupan Agung Jakarta. Kemanusiaan di sini memiliki makna yang universal. Ia mengatasi perbedaan bahasa, budaya, agama, kepercayaan, dan ikatan-ikatan primordial lainnya..

























.. mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab adalah bagian dari perwujudan iman kristiani kita sendiri. Selamat hari Minggu!


Disadur dari "Info Gembala Baik Edisi 01, Tahun ke-6, 2017"
Keuskupan Agung Jakarta
Gembala Baik dan Murah Hati