Laman

Tampilkan postingan dengan label Indonesia Jaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Jaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2018

Aku, Komplainku, dan Kebodohanku (Pembayaran Layanan Internet Ind*home)

Aku
Aku termasuk salah seorang anak yang beruntung, boleh lahir dalam sebuah keluarga yang berkecukupan - bahkan menurut beberapa orang, termasuk yang berlebih - sehingga bisa memasang beberapa layanan internet Ind*home yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini. Mengingat orang-tuaku lahir di tahun 60an awal, mereka cukup gaptek sehingga layanan-layanan internet ini didaftarkan menggunakan namaku dan aku mempunyai kewajiban untuk membayar layanan internet ini setiap bulannya.

Sebelum aku menjadi bagian dari masyarakat Tangerang, aku telah mendaftarkan namaku untuk 2 layanan internet di kampung halaman. Seiring waktu berlalu, di tahun 2018 aku mendaftarkan namaku lagi untuk 2 layanan internet lagi di Tangerang ini: di TBM Citra Raya dan di rumah kontrakanku, tempatku tinggal bersama teman-teman yang lain. Lagi-lagi, di sini aku tinggal bersama 2 orang rekan kerja yang lahir di tahun 70an awal, sehingga tingkat kemelekan mereka terhadap dunia internet rasa-rasanya masih kalah denganku. Sekali lagi kupakai namaku untuk mendapatkan layanan internet di rumah ini.

Curahan hati seorang teman malam ini meningatkanku bahwa dunia kerja memang berbeda dengan dunia kuliah. Aku menyadari betul bahwa waktu luang yang kupunyai saat ini jauh lebih sedikit daripada di masa lalu. Ya, sepertinya kata-kata seorang teman baikku yang lain - yang sudah lebih dulu menginjakkan kakinya di dunia kerja - memang benar adanya: ketika bekerja, kita menukarkan waktu yang kita miliki dengan uang berupa gaji yang masuk ke dalam rekening bank kita setiap bulannya.. Layanan internet yang dipasang di Tangerang ini semuanya dilakukan tanpa keberadaanku, mengingat teknisinya bekerja di siang hari, saat di mana aku sedang bekerja menukarkan waktuku dengan uang tadi. Jadilah internet ketika sore hari sudah terpasang, dan aku pun tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan para teknisi itu. Untungnya, aku termasuk bagian dari generasi milenial yang cukup cepat beradaptasi dengan teknologi ini. Dengan satu klik, klik, dan klik, aku tidak mengalami kendala yang berarti untuk menggunakan layanan ini dengan baik.

Angin bertiup, daun berguguran, hari demi hari silih  berganti. Setelah beberapa saat menggunakan layanan, tibalah saatnya untuk membayar. Berbekal nomor yang tertera di sebuah box modem, aku pun membayar layanan internet di rumah kontrakan melalui layanan mobile banking yang disediakan oleh sebuah bank swasta terbesar di Indonesia. Aku pun juga merasa telah membayar layanan di TBM Citra Raya, berbekal nomor telepon yang disampaikan oleh teknisi Ind*home itu melalui pesan singkat di WhatsApp. Jadilah pada bulan itu, aku telah menyelesaikan tagihan layanan internet untuk kedua termpat tersebut.

Komplain
Suatu hari di tanggal 20an bulan itu, aku mendapati bahwa di rumah kontrakanku kami tidak bisa menikmati layanan TV berlangganan dengan pesan sebagai berikut:

Disebutkan di sana bahwa layanan terganggu karena kami belum melakukan pembayaran. Wah wah wah, ini jelas membuatku merasa terhina. Bagaimana mungkin aku yang sudah melakukan pembayaran dianggap belum melakukan pembayaran sehingga layanannya diputus? Kuambil telepon genggamku dan segeralah kulakukan komplain. Jujur saja, aku cukup merasa terganggu waktu itu dengan petunjuk dari operator telepon hotline tersebut, karena mereka selalu menyarankan menyampaikan komplain menggunakan aplikasi MyInd*home, yang mana tidak lagi bisa aku akses karena aku telah mendaftarkan diriku untuk 4 layanan internet berbeda dengan provider yang sama ini. Besar harapanku, ke depannya layanan aplikasi MyInd*home ini bisa ditingkatkan oleh pihak Ind*home untuk pelanggan yang memiliki lebih dari 1 layanan sepertiku. Komplain kusampaikan dan berakhirlah hari itu.

Pihak Ind*home berusaha untuk melakukan reset dari server dengan cara memintaku untuk mematikan, kemudian menghidupkan modemnya lagi setelah beberapa saat. Petunjuk ini telah kulakukan, dengan beberapa jeda waktu antara mematikan dan menghidupkan misalnya:
Matikan, 5 menit tunggu, hidupkan
Matikan, 1 jam tunggu, hidupkan
Matikan, 1 hari tunggu, hidupkan
.. dan upaya ini ternyata seperti menggarami air laut. Akupun melakukan komplain sekali lagi via telepon. Aku mendapatkan petunjuk lagi, yakni untuk melakukan reset setting'an pada TV menggunakan nomor internet yang tertera di box. Kulakukan cara ini, kukombinasikan dengan cara klasik matikan hidupkan.. dan lagi-lagi upaya ini juga tidak membuahkan hasil. Pitamku mulai tinggi kembali, keesokan harinya kulakukan lagi komplain.

Di hari Minggu, aku mendapati bahwa komplainku kali ini disambut sangat baik, di mana teknisi Ind*home mau datang langsung dan mau mengecek akar masalahnya. Harapan bisa menikmati layanan internet lagi pun muncul dan membuatku bahagia, terlebih ketika menghitung hari-hari tanpa internet yang hilang, di mana aku tetap harus membayar layanannya. Mereka muncul pertama kali di TBM Citra Raya, menanyaiku apakah layanan yang terkendala ada di TBM. Aku pun menjawab bahwa layanan terkendala ada di rumah kontrakan. Aku tidak berpikir panjang kenapa mereka justru datang kemari, karena aku memang mendaftarkan diriku untuk 2 layanan: di TBM dan kontrakan. Usut punya usut, ternyata ada kebodohan yang telah kulakukan yang membuat pihak Ind*home mungkin juga kesal terhadap komplain-komplainanku selama ini.

Kebodohan
Sekalipun ketika pemasangan aku dan teknisi itu berkoordinasi via WhatsApp dan telepon, rupa-rupanya ada saja hal yang ketinggalan untuk disampaikan: aku ternyata tidak mengetahui secara persis nomor internet yang harus kupakai untuk membayar layanan ini setiap bulannya. Nomor internet yang kugunakan untuk membayar layanan internet di kontrakan, ternyata adalah nomor layanan internet untuk TBM. Nomornya tertukar, sehingga layanan di kontrakan memang belum pernah dibayar selama sebulan dua bulan ini. Wajar dong kalau layanannya diputus. Wah, ini jelas sesuatu. Betapa malunya aku yang sempat berniat melaporkan layanan Ind*home yang kurang profesional ini ke khalayak ramai!

Tulisan ini aku buat untuk menghibur para pembaca akan kebodohanku, sekaligus sebagai bentuk permohonan maaf kepada Ind*home yang telah membuat KPI mereka (mungkin) menjadi tidak tercapai karena komplain-komplainku yang berkepanjangan, yang mana disebabkan karena kebodohanku sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat.


Tangerang, 26 Juni 2018


der Gruene Baum

Selasa, 22 Mei 2018

Kisah Perburuan Foto di Landau in der Pfalz dan Sebuah Refleksi

Sebuah pertanyaan TTS dari Cak Lontong di acara Waktunya Indonesia Berbuka hari ini (ya, ini tidak typo. "Berbuka" bukan bercanda, karena acara ini acara live di bulan puasa) telah membuatku menuliskan artikel ini.

Ada enam kotak, huruf ke-5 nya O.
Seorang kiper kesebelasan Juventus yang tahun ini memutuskan untuk gantung sepatu ...

Buffon (Gianluigi Buffon)! Kira-kira begitu jawaban normatifnya dari TTS di atas. Namun, Cak Lontong adalah Cak Lontong. Ia tidak mungkin begitu saja membenarkan jawaban normatif Anda di acara kuis yang dibawakannya. Adakah di antara teman-teman yang kebetulan juga menonton atau bisa menjawab?

Sambil memikirkan jawabannya, ini saya mau menceritakan sebuah kisah lawas..

***

Pernahkah teman-teman mendengar sebuah kota di Jerman yang bernama Landau? Kalau ternyata belum, jangan merasa malu atau minder.  Seperi halnya kota Frankfurt yang harus memakai embel-embel nama “am Main“, kota Landau yang dijadikan tempat perburuan foto kali ini pun mesti diberi embel-embel  tambahan “in der Pfalz“, karena ada sebuah kota Landau yang lain di Jerman, yaitu Landau an der Isar.

Landau in der Pfalz merupakan kota terbesar ketiga di Pfalz. Pfalz sendiri adalah nama sebuah regio yang terletak di bagian selatan negara bagian Rheinland-Pfalz. Terletak di südliche Weinstraße (jalur anggur selatan), kota ini merupakan daerah irisan Semesterticket KVV (Karlsruher Verkehrsverbund) dan VRN (Verkehrsverbund Rhein-Neckar). Dengan demikian, diharapkan akan ada semakin banyak peserta yang berminat untuk mengikuti kegiatan baru dari KMKI MWD ini karena tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi (hanya KMKI Hessen yang perlu membeli tiket).
-->

***

Sudah ketemu jawabannya? Lho Kak, lagi asyik-asyik bertualang ke negeri Jerman koq ditanya jawaban pertanyaan Cak Lontong lagi? Iya Dek, karena sekali lagi jawabannya berhubungan dengan tulisan di atas.

Jawaban yang benar adalah.. tet teret teret.. "MoveOn". Sebuah kata yang harus kurefleksikan di malam hari ini. Apakah aku sudah benar-benar move on dari cara hidupku yang lama? Hmm, setidaknya aku belajar banyak dari Cak Lontong hari ini: seorang kiper itu tidak suka melihat ke belakang karena tahu di depannya ia harus menjaga gawangnya dengan baik untuk menghadapi penyerang-penyerang dari kesebelasan lawan..

Jadi, Buffon aja move on, Bang KIP nggak mau ikutan move on nih?
 
.. pengen baca kelanjutan kisah perburuan foto di Landau in der Pfalz? Yuk yuk yuk mari di mari baca artikelnya di sini:

Tangerang, 22 Mei 2018


der gruene Baum

Senin, 14 Mei 2018

Orang Jateng bisa Membuat SIM Banten di Kab Tangerang? (Bagian 3/3 Final)

24-4-2018

Hari itu hari Selasa. Sebelum aku kembali melanjutkan kisah pembuatan SIM di Tanah Jawara Banten ini, aku ingin menyisipkan cerita kejadian tilang yang juga kualami di Kabupaten Tangerang ini, yang terjadi ketika aku mengendarai mobil pulang dari Kota Cilegon. 

***

Pembaca yang berasal dari Kecamatan Cikupa dan sekitarnya pasti tahu bahwa di dekat sini terdapat pertigaan yang angker bagi pengendara mobil.. ya betul Lampu Merah Pertigaan Tigaraksa! Adanya pos polisi dan halte angkutan umum yang terdapat di pertigaan ini seakan-akan menjadi spot yang ideal bagi polisi lalu lintas untuk mengadili pengendara mobil yang "kurang berhati-hati dan waspada" dalam berlalu lintas. "Pelanggaran lalu lintas apa sih yang kakak langgar?" Jawabannya klasik: Menerjang lampu merah.

Tentu aku tidak dengan secara sengaja menerjang lampu merah itu. Hanya sebuah perkara lampu hijau yang pelan-pelan berpindah ke warna kuning-lah yang membuat jiwa mudaku merasa gemezzz untuk tetap melaju sambil berguman "mung kacek sithik". Ketika melintasi lampu itu, mataku benar-benar masih melihat bahwa lampu itu sedang berpindah dari warna hijau ke warna kuning.. tetapi kami pengendara mobil memang tengah ditunggu oleh seorang polisi yang berdiri di tengah-tengah jalan itu. Tidak ada mobil berikutnya yang menyusul mengikutiku melintasi lampu itu. Itu berarti - sebagai mobil terakhir - sudah menjadi hal yang naas bagiku untuk memperoleh surat tilang berwarna biru itu.

"Tilang SIM atau STNK?", tanya Pak Polisi kepadaku.
Tanpa berpikir panjang, aku pun segera memilih STNK, mengingat SIM yang kubawa di hari itu sebenarnya masa berlakunya sudah habis. Aku beruntung karena Pak Polisi tadi tidak menyadari hal itu. Seandainya ia menyadari, mungkin aku akan menerima 2 surat tilang sekaligus di hari itu: Pelanggaran Menerjang Lampu Merah dan Tidak Mempunyai SIM.. Tampaknya Dewi Fortuna masih berpihak padaku di hari itu. Aku diminta untuk membayar uang tilang dan mengambil STNK itu di Kejaksaan pada hari Selasa, 24 April 2018 jam 10 pagi.

***

Maka jadilah aku mempunyai 2 agenda di hari Selasa itu: Melanjutkan Pembuatan SIM dan Mengambil STNK yang Ditilang. Usai meminta izin kepada atasanku, akupun berangkat ke Kawasan Pemda Tigaraksa. Tujuan pertamaku adalah Bank BRI yang ada di Kampung Gudang Tigaraksa. Aku membayar Rp 500.000,- ke sana sebagai uang tilang. Sigh, di tanggal yang ranum aku harus mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar, jumlah uang yang cukup untuk menghidupiku di minggu terakhirku di bulan April.. Untungnya, aku masih ingat dengan nasihat Rizal, teman seperjuanganku sebagai pegiat literasi di sebuah TBM yang terletak di Perum Citra Raya: "Anggap aja ber-shodaqoh kepada negara". Nasihat itu begitu menentramkan kalbu dan memantapkan diriku untuk mengurus segala sesuatunya sesuai prosedur yang memang ditetapkan oleh pihak kepolisian. Tidak melakukan salam tempel, ikut sidang, semoga berkah!

Aku pun kemudian beranjak ke Satlantas untuk melanjutkan pembuatan SIM terlebih dahulu, mengingat waktu masih menunjukkan pukul 08:45. Sidang pengambilan STNK baru akan dilaksanakan pukul 10:00. Sesampai di Satlantas, sesuai arahan Pak Polisi di Pos 5 hari Sabtu lalu, aku langsung bergerak menuju pos itu. Aku disambut ramah oleh Pak Polisi, beliau memintaku untuk menunggu sebentar di kursi depan sambil beliau mencari berkas dokumen kepunyaanku. Aku pun duduk di kursi di depan pos itu, sambil menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan - sebuah ritual untuk membuat diri merasa rileks. Perlahan-perlahan kugerakkan bola mataku untuk memandangi suasana kantor polisi di hari kerja. Suasananya sangat sepi, hanya 2 - 3 orang yang kulihat sedang mengurus SIM sepertiku. "Oh, begini toh rupa-rupanya pemandangan kantor polisi di hari kerja, sepi juga ya kerjanya bisa nyantai..", pikirku dalam hati.

"Saudara Kristanto". Pak Polisi menyebutkan namaku. "Ayo kita ke lapangan untuk ujian praktik", sambungnya. It's the showtime, waktunya telah tiba. Aku pun berjalan di samping Pak Polisi tadi sambil mengajak bercakap-cakap ringan - lagi-lagi sebuah cara yang kulakukan untuk mengurangi ketegangan menjelang ujian praktik. Hari itu sedikit gerimis, Pak Polisi pun menanyakan kepadaku apakah aku mau menunggu dulu atau mau lanjut saja. "Lanjut, Pak", jawabku mantap mengingat aku sendiri sebenarnya sedang ditunggu oleh bos dan timku di kantor. Pak Polisi itu pun membawaku ke lapangan, menunjukkan kepadaku sebuah mobil Avanza yang nantinya digunakan untuk ujian. Beliau kemudian mengajakku untuk menuju tempat ujian praktik, yang lokasinya hanya berjarak 20 meter dari tempat diparkirnya mobil ujian praktik itu.

"Jadi begini ya, saya jelaskan dulu aturan mainnya", kata Pak Polisi itu ramah. Ujian praktik yang pertama: aku diminta untuk mengendarai mobil keluar dari parkiran, belok ke kiri dan mengendarai mobil itu di jalan tanjakan dan berhenti di situ. Ujian berikutnya adalah bagaimana aku dapat melanjutkan mengendarai mobil di tanjakan itu tanpa mobil bergerak mundur. Ini adalah seni berkendara yang menurutku mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi, tetapi memang wajib dikuasai demi keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan yang lain ketika berkendara. Ujian praktik yang kedua: Setelah mobil lanjut bergerak di tanjakan, aku kembali diminta untuk menghentikan laju mobil sejenak di jalan turunan. Usai berhenti, mobil harus dikendarai kembali, sekali lagi belok ke kiri, dan diparkir di area parkir yang telah ditentukan. Titik kesulitan di ujian yang kedua ini, menurutku ada di bagian di mana aku harus memarkirkan mobil tanpa mengenai batas patok yang telah ditetapkan oleh Pak Polisi tersebut.

.. dan dimulailah ujian praktik itu!

Setelah kukenakan safety belt, kukendarai mobil ujian praktik itu dengan hati-hati, mengingat aku harus bersahabat terlebih dahulu dengan level ketinggian koplingnya. Ah, kopling mobil ini ternyata cukup tinggi, sangat signifikan bedanya dengan mobil balap yang aku kendarai sehari-hari. Ya, dengan level ketinggian kopling yang rendah, seseorang akan lebih cepat memindahkan transmisi kecepatannya, khususnya ketika start mengakselerasi mobil. Sudah menjadi kebiasaanku dalam berlalu lintas untuk menyalakan lampu sen sebelum berbelok. Ini pun kulakukan secara otomatis ketika aku menjalani ujian praktik ini.

Akhirnya pun tiba saat di mana aku menghadapi tanjakan itu. Hand rem dan kulanjutkan lajuku menaiki tanjakan itu. Mengingat level ketinggian kopling cukup tinggi, aku yang merasa sedikit panik pun secara refleks menginjak tuas gas cukup dalam sehingga menimbulkan suara mesin cukup keras. Aku cukup berhasil, tetapi tampaknya Pak Polisi tidak begitu happy mendengar suara mesin yang kasar itu. Ujian berikutnya: memarkir mobil. Torsi mobil yang biasa kukendarai sangat berbeda dengan torsi mobil Avanza ini. Aku yang merasa cukup gugup pun sempat mengambil ancang-ancang mundur yang terlalu mepet, sehingga aku harus bergerak maju sekali lagi sebelum memundurkan mobil itu masuk ke tempat parkirnya. Aku berhasil. Aku pribadi memberikan skor 75 kepada diriku di hari itu, harusnya masih bisa lulus.

Pak Polisi itu - entah karena ingin mempersulitku atau sekedar menghabiskan waktu kerjanya sedikit lebih lama lagi bersamaku - memintaku untuk mengulang serangkaian ujian praktik itu sekali lagi. "Suara mobil di tanjakan masih kasar dan parkir mobil belum bisa 1x jadi", begitu jelasnya kepadaku.

Singkat cerita, aku yang sudah lebih menguasai bagaimana mengendarai mobil Avanza dan mempunyai rasa percaya diri yang lebih pun berhasil perform lebih bagus di kesempatan kedua yang beliau tawarkan itu. Aku tak mengalami kesulitan yang berarti saat parkir di kesempatan kedua, mengingat hari Senin lalu aku baru saja memarkirkan mobil dengan posisi yang lebih sulit di gedung parkir tempatku bekerja. Bedanya hanya di soal torsi mobil, dan kali ini aku sudah lebih tahu keterbatasan torsi mobil ini. Setelah kuparkirkan mobil dengan sempurna, Pak Polisi itu pun mengulurkan tangannya dan menyelamatiku. "Selamat ya, Mas. Ujian SIM itu tidak susah 'kan?", tanyanya retoris. Beliau seakan memintaku untuk menyebarkan informasi kepada khalayak luas bahwa pembuatan SIM dengan jalur ujian itu machtbar, bukanlah "bikin SIM yang harus nembak karena ujiannya sangat sulit" seperti desas-desus yang ada..

Wah, ternyata aku sudah menulis cukup panjang. Pun malam ketika aku menuliskan artikel ini sudah semakin larut. Dear pembaca, tanpa bermaksud mengurangi keasyikan kalian ketika sedang tenggelam membaca tulisan ini (sok banget, pede amat kalau tulisannya bisa bikin orang tenggelam), izinkan penulis untuk kembali menggunakan otak kirinya ya :D
1. Sistem pembuatan SIM hari itu sedang offline. Proses pencetakan SIM-nya harus menunggu.
2. Kesempatan menunggu kugunakan untuk pergi ke Kejaksaan untuk mengambil STNK. Jam 10 pagi. Ini pengalaman pertamaku. Aku memasukkan surat tilang, memesan kopi di warung sambil menunggu panggilan. Seperti observasiku sebelumnya, ada banyak Kaizen Idea yang bisa didapat dengan melihat kekurangefektifan ini. Secara mengejutkan aku mendapatkan panggilan jam 11 siang. STNK kuperoleh, bersama secarik surat yang menyebutkan bahwa denda tilang itu hanya Rp 150.000,-. Aku bisa mengambil kembali sisa uang yang telah kubayarkan tadi di Bank BRI. Senangnya hatiku, ini artinya tidak ada ancaman yang berarti untuk berat badanku di akhir bulan ini.
3. Aku kembali ke Satlantas. Sistem masih saja offline. Kutanyakan kemungkinan untuk datang kembali sore hari, selepas kerja. Bosku sudah menunggu. Bapak-bapak Polisi itu menyanggupi.
4. Jam 13 aku dikabari kalau SIM-ku sudah jadi. Jam 17:15 aku kembali meluncur ke Satlantas. Kutanyakan SIM-ku di Posko. Kudapatkan SIM itu, dan betapa bangganya diriku melihat bahwa Orang Jateng yang satu ini kini telah memiliki SIM A terbitan Banten, dengan tanda tangan Bapak M. Sabilul Alif, Kapolresta Tangerang yang juga menjadi junjunganku di dunia literasi..

Ya betul, beliau adalah juga seorang penulis..

Summary:
--> Kab. Tangerang telah menjadi contoh untuk Propinsi Banten ini dalam hal praktik anti-korupsi dalam kasus tilang dan pembuatan SIM
--> Biaya pembuatan SIM A hanya ~Rp 180.000,- (tahun 2018). Aku mendengar gosip bahwa SIM Nembak biayanya Rp 550.000,- (3x lipat)
--> Jujur saja, SIM pertamaku di Jawa Tengah kudapatkan dengan cara nembak.. . Betapa bangganya aku sebagai orang Jawa Tengah boleh memiliki SIM Banten, lebih-lebih dengan cara ujian

Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi dan sedikit menginspirasi..


PS: Otak kiriku ternyata sudah tidak pure otak kiri lagi ya.. aku tidak bisa menulis secara singkat, padat, dan jelas lagi.. Apakah ini efek samping dari membaca buku-buku nonfiksi?

Tangerang, 14 Mei 2018


der Gruene Baum

Kamis, 03 Mei 2018

Orang Jateng Bisa Membuat SIM Banten di Kab Tangerang? (Bagian 2/ 3)

..

Mulanya aku sempat bingung karena Pos 4 Ujian Teori tidak mempunyai loket seperti di pos-pos sebelumnya. Hanya ada sebilah pintu di hadapanku dan tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka secara berkala. Meski hanya sedikit, aku sempat merasa ngeri. Ngeri kenapa aku mengurus SIM sendiri di tanah perantauan ini. Aku tak tahu ke mana aku harus bertanya: tidak ada petugas yang menggunakan baju seragam, aku tidak bisa membedakan yang mana petugas dan yang mana orang awam sepertiku. Satu dua kali aku sempat bertanya, akan tetapi jawaban yang aku dapatkan tidaklah pasti. Semuanya simpang siur.

Perlahan mulai terbersit dalam pikiranku, kepengurusan SIM yang kurang jelas ini, jangan-jangan memang ada unsur kesengajaan, mengingat propinsi ini termasuk salah satu propinsi dengan peringkat korupsi tertinggi di Indonesia.

"Panggilan kepada Bapak Indrayana, Bapak Kristanto.., ", tiba-tiba terdengar suara yang memecah pergumulan batinku. Uh, sialnya aku tidak mendengarkan panggilan itu sampai selesai. Aku hanya bergerak masuk ke dalam sebuah ruangan yang dimasuki orang sesaat setelah diumumkannya panggilan itu. Sebelum aku masuk, aku sempat membaca nama ruangan itu: Pos 6 Foto dan Rekam Sidik Jari. Ruangan itu cukup ramai: ada orang yang menunggu sambil duduk, ada pula orang yang menunggu sambil berdiri. Ada 2 meja kerja yang terdapat di ruangan itu. Aku kembali bertanya di dalam hati, "Apakah benar aku dipanggil masuk ke sini? Kenapa dari Pos 3 aku langsung dipanggil ke Pos 6? Di meja kerja manakah aku harus mengantri?".

Satu per satu nama orang dipanggil di ruangan itu untuk difoto dan direkam sidik jarinya. Aku, bersama puluhan orang di ruangan itu pun tampak berkonsentrasi menunggu datangnya panggilan kedua itu. Dua puluh menit menunggu, namaku belum juga disebut oleh petugas yang ada di kedua meja kerja itu. Pikiranku kembali mengajak diriku berdialog: "Kami seperti sedang berada di sebuah penjara, di mana panggilan dari petugas artinya adalah kami akan diselamatkan". Pertanyaannya tinggal, apakah nama kami benar-benar akan dipanggil petugas tersebut? Aku sempat gugup melihat bahwa petugas-petugas itu memegang setumpukan berkas-berkas - yang aku tidak tahu apakah itu dari Pos 3 Penyerahan Berkas, Pos 4 Ujian Teori, atau Pos 5 Ujian Praktik -. Orang keluar masuk silih berganti terus menerus memberikan tambahan berkas kepada kedua petugas itu. Yang menjadi pertanyaanku: Bagaimana seandainya berkasku jatuh? Bagaimana seandainya berkasku dilewati terus oleh petugas, tenggelam ketika banyak berkas baru yang ia terima dari orang-orang yang hilir mudik tadi? Berbekal ilmu dan pengalaman yang kudapatkan di perusahaan tempatku bekerja, mengamati ketidakefektifan ini rasa-rasanya aku akan sanggup membuat lusinan PDCA dari mekanisme pembuatan SIM tanpa masalah yang berarti. Dan inilah salah satu alasanku menulis artikel ini: untuk mengabadikan current state-nya. Apakah pembaca bisa membantu memikirkan future state-nya? :)

.. dan aku pun tiba-tiba melihat berkasku! Secara kebetulan, ia tertumpuk pada bagian paling atas! Aku pun mengikuti ke arah mana saja berkas itu akan dibawa - dari petugas di meja 1 ke petugas di meja 2. Namaku sempat dipanggil lagi oleh petugas di meja 2 untuk memasuki ruangan. Aku pun hanya tersenyum terheran-heran, karena sudah dari tadi aku memasuki ruangan ini. Ini tidak efektif. Aku pun harus menunggu sejenak lagi sampai semua nama dalam berkas itu sudah disebutkan namanya oleh petugas. Akhirnya, datang juga saat yang ditunggu-tunggu. Namaku dipanggil dan aku - dengan gaya menirukan anak anjing yang melihat tulang - dengan patuh segera mengikuti segala instruksi untuk foto dan rekam sidik jari. AKHIRNYA!

Sebelum meninggalkan meja petugas di Pos 6 itu, aku kembali bertanya ke pos mana aku harus menuju setelah ini. Petugas itu kembali menyebutkan Pos 4. Aku pun kembali bertanya-tanya dalam hati. Ah, aku ini sudah dari pos 6, sudah difoto dan direkam sidik jari, kenapa diminta kembali ke pos 4 untuk ujian teori? Mungkin aku tidak akan mengajukan pertanyaan seperti itu, seandainya ada sedikit kejelasan di Pos 4. Sekali lagi, aku hanya bisa melihat sebilah pintu yang tertutup di sana, bertuliskan jadwal tes yang hanya dimulai 1 jam sekali. Waktu menunjukkan pukul 10:35. Apakah benar aku harus menunggu sampai jam 11, dan pintu itu akan terbuka sesuai jadwalnya? Atau apakah aku, mendapatkan hak privilege untuk memperoleh SIM tanpa ujian, sehingga sudah diizinkan masuk ke pos foto? Ini karena memang aku bukan mengajukan SIM untuk yang pertama kalinya.. Sungguh, aku tidak tahu di pos mana aku seharusnya memposisikan diriku untuk menunggu. Pos 7 ada di lorong depan sana, tempat orang-orang mengambil SIM mereka. Apakah setelah foto, aku tinggal menunggu di depan seperti mereka?

Sedikit intermezzo. Pojok baca di seberang pos 4 ini sudah menjadi tempat incaranku untuk menunggu dalam proses pembuatan SIM. Hanya saja, aku khawatir apabila aku sudah tenggelam dalam membaca buku, aku bisa saja melewatkan panggilan dari pos selanjutnya.. Sebuah panggilan yang menyelamatkan jiwa kami dari penjara ketidakpastian ini :)

Alhasil, kata-kata Bung Hatta ini pun, tidak dapat aku implementasi dalam kasus pengurusan SIM ini. Aku rasa-rasanya tidak akan bebas apabila aku di penjara bersama buku di tempat ini. Satu-satunya yang bisa membebaskanku hanyalah sebuah panggilan nama yang cukup random tadi, baik secara nama, pos maupun timing :D

Menunggu panggilan di depan pintu pos 4 sampai lewat jam 11 membuatku cukup yakin bahwa pos 4 ini kemungkinan besar hari ini ditiadakan, karena pintu itu tidak sekalipun terbuka. Mungkin orang yang mengajukan SIM hari ini memang yang sedang memperpanjang SIM semua, sehingga tidak membutuhkan syarat ujian lagi. Aku pun beranjak dari tempat duduk dan bergerak untuk menunggu di Pos 7: Pos Pengambilan SIM. Memakai ilmu cocokologi dalam mengambil kesimpulan: kalau aku sudah difoto dan direkam sidik jari di pos 6, bukankah itu artinya aku tinggal menuju pos 7?

Adapun pos 4 merupakan pos ujian teori dan pos 5 adalah ujian praktik. Pintu pos 5 berada di samping pintu belakang pos 4. Aku bisa melihat kedua pos pintu itu ketika aku menunggu di ruang tunggu pos 7. Senyum nyinyir terpancar dari wajahku ketika aku justru mendapat panggilan dari pintu belakang pos 4.. Ujian Teori! Ternyata aku memang harus mengikuti ujian teori terlebih dahulu. Aku pun memasuki ruangan itu. Ketegangan sempat kurasakan. "Jangan-jangan aku tidak lulus, atau kalau aku lulus pun, SIM ku tidak akan bisa jadi hari ini karena lembar jawabnya tidak mungkin dikoreksi dalam waktu sebentar..", gumamku dalam hati. Oleh petugas berseragam polisi itu, aku dipandu untuk duduk di depan sebuah komputer, tempat di mana aku harus mengerjakan soal-soal ujian teori itu. Ahaaa, ilmu baru..! Ternyata ujian teori dalam proses pembuatan SIM itu sudah  computer-based. Ini artinya, kemungkinan besar hasil ujian akan bisa langsung diketahui di detik aku melakukan submit jawaban. Setelah mengisi identitas dan menjawab beberapa kuesioner awal, soal-soal ujian praktik pun muncul.

Kami hanya diberi waktu 15 menit untuk menyelesaikan 30 soal yang berbentuk pilihan ganda. Di sini, aku tidak mau berkomentar lebih jauh terkait soal-soalnya, takut kalau dikira memberi bocoran soal hehehe.. Benar saja, setelah submit, aku pun segera mendapatkan pemberitahuan skor yang aku peroleh. Bersamaan dengan itu, aku melihat secarik kertas print out yang keluar dari printer komputer dari petugas pengawas yang ada di depan. Aku dinyatakan LULUS! "Yeaaay, tidak ada halangan dari ujian teori, akhirnya aku akan bisa memperoleh SIM hari ini". Demikian kataku dalam hati. Aku pun segera keluar pos 4 melalui pintu belakang untuk selanjutnya menuju ke Pos 5: Ujian Praktik.

Sedikit dag-dig-dug tentunya, karena aku sempat mendengar bahwa banyak orang tidak lulus ujian SIM karena ujian praktiknya. Kita diminta untuk jalan maju membuat angka 8 ataupun diminta jalan mundur secara zig-zag. Dan ternyata.. - sebelum aku sempat berpikiran macam-macam - petugas pos 5 menyebutkan, "Kami mohon maaf, jalan di depan sedang diaspal. Sekali lagi maaf, apakah Bapak bisa kembali ke sini hari Selasa? Bapak bisa langsung ke sini, tinggal membawa kertas hasil ujian teori ini saja, tidak perlu mengantri di depan di pos-pos sebelumnya lagi". Aku kemudian melihat jam dinding. Waktu memang telah menunjukkan jam 12 kurang 5. Aku sudah punya janji dengan teman-temanku jam 13. Mungkin memang belum rezekiku untuk bisa mendapatkan SIM hari Sabtu ini.. 

..atau mungkin aku memang diberi kesempatan untuk latihan menyetir lagi..
ke Rumah Dunia Serang untuk berjumpa dengan Mbak Nana Najwa Shihab!

Salam Literasi..! 

.. (bersambung)




Senin, 30 April 2018

Orang Jateng Bisa Membuat SIM Banten di Kab Tangerang? (Bagian 1/ 3)

Dear All,

Uh uh.. Tepat 1 hari setelah hari ulang tahunku, suatu peristiwa telah menggerakkanku untuk membuka dompet mengambil Surat Izin Mengemudi (SIM) yang kupunya. Betapa kagetnya diriku melihat bahwa SIM itu ternyata masa berlakunya telah habis kemarin, di hari ulang tahunku! Usut punya usut, ternyata masa berlaku SIM itu memang didesain tepat di tanggal kelahiran 5 tahun yang akan datang..

Aduuuh, masalah ini. Aku orang Jateng yang semenjak tahun 2016 lalu telah berganti domisili di Kab. Tangerang sebagai seorang karyawan di sebuah pabrik manufaktur. Hmm, sebenarnya bisa-bisa aja sih bikin SIM di kota asalku. Hal ini sudah diatur oleh Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di tempatku bekerja: aku akan mendapatkan izin 1 hari untuk itu. Akan tetapi, aku menilai ini sebagai suatu hal yang kurang bijak untuk dilakukan mengingat ada banyak kerjaan yang harus kuselesaikan di kantor di bulan April ini. Aku pun mencoba untuk mengurus perpanjangan SIM ini di Tanah Jawara. 

Maka jadilah hari Sabtu, hari libur yang kudapatkan setelah membanting tulang selama 5 hari. Sabtu itu sayangnya aku sudah membuat janji untuk mengajar anak-anak di Kota Baja Cilegon melalui kegiatan Kelas Inspirasi (KI) Cilegon 2. Memang, siang hari usai mengajar aku sempat ditemani oleh Kak Jewel ke Mayofield Mall, sebuah mal tempat di mana mobil SIM keliling melayani masyarakat. Sayangnya, seorang petugas keamanan memberitahu kami bahwa mobil tersebut baru datang pukul 16:30. Kayaknya kesorean deh. Belum juga kalau mobilnya kebetulan hari ini pas tidak datang, aku tak mau penantianku nanti sia-sia.

Menghubungi Kak Bere, kami pun mendapatkan masukan untuk bergerak menuju Kantor Satlantas Polres Cilegon yang letaknya berada di dekat alun-alun. Dengan bantuan dari googlemaps kami pun berhasil sampai di sana pukul 13:15. Ah, lagi-lagi usahaku untuk membuat SIM masih menemui kendala. Seperti yang sudah aku duga, layanan SIM di hari Sabtu kemungkinan besar hanya berlangsung setengah hari, sampai dengan jam 12 siang saja. Mungkin memang belum jodohku untuk membuat SIM di Kota Cilegon ya. "Ya elah, orang Jateng mau bikin SIM, jauh bener bikinnya nyampai kota Cilegon. Masih mending kalau tinggalnya memang di sini, sampeyan juga siapa, cuman pelancong aja di kota baja ini..", demikian imajinasiku mencoba membayangkan percakapan yang akan terjadi seandainya aku berhasil menemui petugas pembuatan SIM dan mengutarakan niatku untuk membuat SIM di Cilegon..

Sabtu berikutnya! Ndak enak kalau tidak datang ke pernikahan salah seorang engineer - customer kami di kantor -, aku jadi punya waktu beberapa jam untuk mengurus SIM di Kota Semarang, Jateng. Daya khayalku kembali bermain, "Sugeng enjing, Pak. Kula ajeng ndamel SIM ting mriki..", bahasa yang akan aku gunakan di kantor satlantas di sini. Huhu, lagi-lagi nasib sedang tidak berpihak padaku. Sabtu ini ternyata tanggal merah! Sebagai karyawan, aku tidak menghafalkan hari libur yang jatuh pada hari Sabtu, karena pada hari ini aku memang mendapatkan libur. Banten Banten. Mungkin memang peruntunganku masih ada di propinsi ini.. aku pun kembali ke Kota Benteng Tangerang ini dengan tangan hampa.

Seminggu yang berikutnya kembali berlalu. Kini aku berencana membuat SIM di kota domisiliku, Kab. Tangerang. Setelah kuparkirkan kendaraanku di sebuah lapangan parkir berlumpur di seberang, kumasuki Kantor Satlantas Polres Tangerang yang terletak di Pemda Tigaraksa. Petugas di posko menanyaiku apakah aku mau membuat SIM baru atau memperpanjang SIM. "Perpanjang SIM", jawabku mantap. Sebenarnya, dari referensi-referensi yang aku baca di dunia maya, sejak tahun 2017, SIM yang masa berlakunya sudah lewat 1 hari saja sudah dianggap mati. Orang tidak bisa lagi memperpanjangnya, melainkan harus membuat SIM yang baru. Rasa-rasanya sudah menjadi sifat dasarku yang iseng: aku tetap mencoba mengurus SIM dengan cara "perpanjang SIM", siapa tahu aturan tahun 2017 itu masih bisa dibelokkan, belum semulus dan selurus jalan tol.. Petugas pun mengarahkanku untuk membayar asuransi dan meminta surat kesehatan dari kantor terkait yang ada di seberang, yang letaknya persis di sebelah lapangan parkir berlumpur tadi.

Terasa betul manfaatnya membaca referensi dalam membuat SIM! Aku yang memang sudah menyiapkan beberapa fotokopi KTP dengan secepat kilat langsung menyerahkan syarat tersebut ketika diminta oleh petugas, baik petugas asuransi maupun kesehatan. Aku mengeluarkan kocek senilai Rp 30.000,- untuk membayar asuransi dan Rp 25.000,- untuk tes kesehatan. Sekalipun aku merasa bahwa berat badanku sudah tidak ideal lagi, aku tidak mengalami kesulitan ketika menjalani tes kesehatan. Aku hanya disodori beberapa pertanyaan dari buku tes buta warna, menyebutkan angka yang tertera di halaman satu dan halaman lainnya.

Usai mendapatkan kedua syarat ini, dengan meninggalkan KTP asli aku mendapatkan penang kuning bertuliskan "Perpanjangan SIM" dari petugas di posko satlantas. "I am on the right track to apply the driving license", gumamku percaya diri. Kepercayaan diriku seketika goyang di pos pengambilan formulir. Petugas itu menyampaikan bahwa SIM-ku sudah tidak berlaku lagi. Persis seperti referensi yang telah aku baca sebelumnya, beliau menjelaskan bahwa SIM dulunya memang diberi allowance masa berlaku sampai dengan 3 bulan ke depannya. Namun, sejak tahun 2017, aturan ini direvisi. Telat sehari pun, SIM sudah tidak berlaku lagi. Mau ngeles lupa ngecek masa berlakunya? Maaf, seperti yang aku tulis di atas tadi: SIM ternyata sudah didesain untuk habis masa berlakunya di hari ulang tahunmu 5 tahun yang akan datang. Jadi.. sama seperti visual plat nomor yang memberikan informasi bulan habisnya masa berlaku STNK, kamu memang harus selalu cek ketika bulan di kalender sudah berganti memasuki bulan kelahiranmu. Ah, 5 tahun itu 'kan lama Mas. Emm, menurutku sih nggak lama-lama amat ya, apalagi kalau kamu sudah mulai memasuki rutinitas di dunia kerja. Curcol dikit nih, gini-gini aku udah ada 2 tahun lebih lho mencari nafkah di Kab. Tangerang ini.. Adakah yang kelihatan berubah dari diriku? Kelihatannya sih nggak, kecuali perut yang sudah bertambah maju :D

Kembali ke kepengurusan SIM, aku perlu menebus uang senilai Rp 125.000,- untuk mengambil formulir tersebut. Setelah mengisi lengkap formulir dan menyertakan fotokopi KTP dan SIM, kuserahkan berkas itu ke pos berikutnya.

Sambil menunggu panggilan dari petugas untuk proses selanjutnya, aku pun sempat mengabadikan banner berikut, yang akan aku tuliskan lagi sehingga teman-teman pembaca dapat mengetahui jam pelayanan SIM di Satlantas Polresta Tangerang.

JAM PELAYANAN
Senin s/d Kamis: 08:00 WIB s/d 15:00 WIB
Jumat s/d Sabtu: 08:00 WIB s/d 14:00 WIB


... (bersambung)




Sabtu, 29 Juni 2013

Maraton Film

Hei semuanyaaa,

Sejak Selasa kemarin ada tamu yang bermalam di kamarku. Dia mahasiswa kedokteran UI yang sedang melakukan pertukaran selama 1 bulan dengan mahasiswa kedokteran Uni Heidelberg.

Dia punya prinsip, kalau makan itu harus sambil nonton film. Kalau enggak, itu such a wasting time.
Alhasil sejak Rabu sampai Jumat kemarin, akhirnya aku yang punya gen nggak terlalu demen nonton film (karena di Salatiga nggak ada bioskop :( ) nonton 3 film berturut-turut yaitu

- Wreck-It Ralph
- Invictus
- Total Recall

Aku mulai ngrasa betapa pentingnya nonton film-film (terutama yang berkualitas).

Film Wreck-It Ralph misalnya mempunyai amanat
"Orang jahat boleh-boleh aja suatu saat berkeinginan jadi orang baik. Tapi caranya tidak harus dengan memperoleh medali, membuktikan diri kepada semua orang kalau dirinya bisa menjadi seorang pahlawan. Sebenarnya caranya cukup dengan membahagiakan 1 orang saja, apakah dengan begitu aku masih dianggap sebagai orang jahat?"

Dan yang kedua adalah Invictus
"Forgiveness liberates the soul. It removes fear. That is why it is such a powerful weapon" - Nelson Mandela -
Sebuah film yang menceritakan sepotong cara kepemimpinan Nelson Mandela, presiden pertama berkulit hitam di Afrika Selatan.
Film ini memberiku 2 inspirasi:
1. Olahraga ternyata bisa menyatukan kita sebagai suatu bangsa.
2. Apakah mungkin, Indonesia suatu saat memiliki presiden dari suku x atau selain yang beragama y?
Sudah bukan saatnya lagi judge the book by its cover. Nilailah seorang manusia bukan dari outter beautynya (warna kulit, tinggi badan), tapi dari diri mereka masing-masing. Karena dari mata kuliah evolusi kita belajar: variasi gen terbesar justru terjadi di antara populasi dalam sebuah negara (bukan antarbenua). Dari 200 juta penduduk Indonesia, kita nggak bisa memukul rata kalau suku x pasti memiliki sifat z atau agama y pasti memiliki sifat a :) Betul kan?

Dan berikutnya yang aku suka adalah tipe film Sci-Fi, seperti yang beberapa waktu lalu aku tonton: Star Trek. Film Total Recall ini tidak kalah serunya dalam memberikan inspirasi.
1. Alat transportasi dari Inggris ke Australia yang bisa menembus inti Bumi?
Ini cukup masuk akal sih, setengah keliling Bumi itu = pi.d, diameter Bumi sendiri = d
Tanpa faktor pi, jarak perjalanan memang lebih singkat :)
2. Alat Total Recall yang seperti di film Inception, membuat kita bingung: ada di dunia manakah kita sebenarnya saat ini.


Dan, dgn menonton film2 itu, kemampuan bahasa Inggris kita sedikit demi sedikit bisa berkembang :)
That's why kita perlu menonton film (terutama yang berkualitas).

Sabtu, 27 April 2013

KNKP: Kenusantaraan dan Kepemimpinan

KNKP merupakan akronim dari KeNusantaraan dan KePemimpinan, salah satu dari 3 mata pelajaran kurikulum khusus SMA Taruna Nusantara Magelang.

Pelajaran ini (pada masanya) diampu oleh Bapak Banar Budiyono dan Bapak Henang Widayanto.


Yang membuatku tiba-tiba menulis tentang ini adalah
Ketika liburan di Indonesia, aku mencoba membongkar-bongkar kardus dokumen-dokumenku di SMA untuk mencari buku paket Kimia.
Tiba-tiba aku melihat sebuah buku tulis yang waktu itu aku pakai untuk mencatat di pelajaran KNKP ini.

Arsip ini ditulis pada tahun 2009, tahun di mana aku menjabat sebagai Ketua 2 OSIS di SMA itu. Tahun di mana kata "Kepemimpinan" menjadi sebuah kata yang sangat berarti bagiku. Ya, di tahun itulah aku boleh mendapatkan kesempatan untuk belajar memimpin di sekolah yang memang sengaja dipersiapkan untuk mendidik calon-calon pemimpin bangsa ini di masa mendatang.

Berikut cuplikannya
"Terima kasih, Anda tidak terlambat (16:00)
Salah satu ciri pemimpin potensial:
-> "rasa bersalah dan rasa malu jika terlambat""

Aku cuman bisa bilang "wow" bila mengenang lagi masa-masa itu.
Sebuah metode yang unik untuk memanajeri manusia. Bukannya menegur dan menasehati mereka yang datang terlambat, tapi Beliau memberikan masukan bagi mereka yang ingin disebut sebagai seorang pemimpin yang potensial.

Jiwa mudaku bergejolak.
Aku merasa mirip dengan Harry Potter, yang di edisi keenamnya menemukan sebuah buku ramuan ajaib milik Profesor Snape (Harry Potter and the Half Blood Prince).
Mudah-mudahan manfaat dari membaca buku tersebut juga mirip, aku bisa "meracik" diriku dengan baik, sehingga bisa memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara, dan dunia.

N.B.
Bedanya, buku yang kutemukan adalah buku milikku sendiri :)

Jumat, 12 April 2013

Aku pulang..!

Huhu allerseits,

Aku pulang..!
Setelah kurang lebih 1 bulan berpisah dengan dunia maya, kini aku kembali lagi ke tanah Jerman untuk menulis..!!!

Memang benar kata seorang sahabatku di sini, sebetah-betahnya kamu di negeri orang, kamu tetep butuh sesekali kembali ke negaramu, untuk mengisi bahan bakar.
Aku nggak tahu apa yg ia maksud dengan bahan bakar, tapi aku merasa telah menemukannya. Bahan bakar itu adalah cinta terhadap tanah air.

Aku cinta Indonesia.
Tiga kata itu gampang untuk diucapkan, tapi ketika aku mengucapkannya pada hari ini, aku merasa ada kebahagiaan yang meluap-meluap yang membuatku mau mengatakannya dari lubuk hati yang terdalam.

Weeez, apa jangan-jangan Kristanto sudah menemukan pujaan hatinya selama liburan kali ini?
Atau gara-gara puas makan banyak makanan yang enak-enak di sana?
Atau karena apa nih? hehe

Satu-satu aja ya aku ceritainnnya.
Bagian pertama adalah soal biaya.
1. Aku baru aja perpanjang SIM C di kota Salatiga, perpanjang selama 5 tahun dan hanya dikenakan biaya Rp 105.000,00..!!!
Hal yang pengen aku soroti di sini adalah, tampaknya sudah semakin sedikit pungutan-pungutan liar di Indonesia, semenjak ada KPK :)
2. Biaya kirim kartu pos ke Jerman, Rp 5.000,00..!
3. Biaya kirim surat dalam kota Salatiga, Rp 2.000,00; Jawa Tengah Rp 2.500,00; dan Ekspress 1-2 hari (Nasional) Rp 9.000,00!
 4. Aku selalu membangga-banggakan Mitfahrgelegenheit di negara Jerman. Ternyata di Indonesia juga ada lho, tapi namanya travel :D
Aku sempet survei harga nih ceritanya, yakni Cipaganti ke Jogja.
- Titip barang Rp 30.000,00
- Penumpang Rp 40.000,00
Yang membuat aku lebih bahagia lagi adalah, aku pernah mencoba naik bus umum dari Salatiga ke Jogja.
- Salatiga - Bawen tarifnya Rp 3.000,000 (Ekonomi)
- Bawen - Jogja tarifnya Rp 35.000,00 (Patas)
Jadi kalau dihitung-hitung, travel Salatiga - Jogja itu harganya merakyat..!!!

Sekian dulu postinganku yang pertama setelah pulang ke Jerman lagi ini.
Ternyata aku makin cinta Indonesia, makin sayang, abdi bogoh kasalirang, kula tresena sliramu, Indhonesiya..!!!

Selasa, 08 Januari 2013

Ketulusan dan Perjuangan

Bahahaha
Selama bulan Desember aku ternyata tidak menulis apapun.. :D

Ihr habt mich sehr inspiriert. Ich danke euch!

Demikian bunyi status yang aku pasang di Facebook, sebelum aku mengakhiri hari yang luar biasa ini.
Aku benar-benar merasa beruntung, karena mendapatkan sahabat-sahabat yang begitu baik di perantauanku yang ke-4 ini.

Salah seorang sahabatku ini telah mengajarkan kelemahlembutan, ketulusan, dan pelayanan.
Sedangkan sahabat yang lain mengajarkan ambisi, kesederhanaan, tanggung jawab, dan perjuangan hidup.

Aku sungguh merasa diingatkan kembali, betapa malasnya ternyata diriku selama ini..


Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh-sungguh mau hadir dalam hidupku melalui mereka.
Berkatilah mereka Tuhan, jagailah mereka selalu.


P.S.
Sennin mesum, suatu saat nanti bukumu benar-benar akan membawa angin perubahan besar dalam dunia ninja!

Jumat, 28 September 2012

Smartphone Merusak Moral!?

Halooo semua,
Inspirasi buat menulis hari ini datang dari seorang sahabat.
Tema ini sebenarnya cukup berat, tapi memang sangat relevan dengan apa yang telah terjadi di zaman sekarang, yang mungkin tidak mudah untuk kita sadari.

Era Smartphone di Indonesia diawali dengan masuknya sebuah Handphone (HP) canggih: Blackberry (BB). Seorang teman pernah berkelakar, "Sama seperti penyakit DB (Demam Berdarah), penyakit BB ini juga mewabah di Indonesia". Benar saja, paling tidak sampai tahun 2011 lalu hampir semua anak muda di Indonesia menggembol HP yang satu ini di saku celananya. Bahkan ada seorang teman kuliah yang berkata, "Saya memang mengalami kesulitan untuk bisa menebak orang Asia itu datang dari negara mana. Tetapi ketika saya melihat dia membawa Blackberry, saya bisa pastikan bahwa ia berasal dari Indonesia". Wow!!!

Era Smartphone ini pun kemudian berlanjut dengan datangnya iPhone dan Android, yang menawarkan segudang aplikasi yang lebih menarik lagi dibanding Smartphone-Smartphone pendahulunya. Entah di tahun 2013 nanti akan jadi tinggal berapa anak muda di Indonesia yang tidak bersenjatakan Smartphone ini.

Teknologi memang akan terus berkembang. Trend Smartphone pun sepertinya akan terus berkelanjutan tiada berkesudahan.

Kalau ada pertanyaan: Apa sih sebenarnya yang membuat Smartphone bisa berkembang sepesat ini?
Jawaban yang pertama kali terpikir adalah karena Smartphone menawarkan kemudahan dalam berkomunikasi. Jarak ribuan kilometer bisa ditempuh dalam waktu sekian detik aja dengan adanya Smartphone. Sebut saja fasilitas chat yang dimiliki oleh Blackberry: BlackBerryMessenger (BBM). Aku yang kebetulan mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di Eropa tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia berkat ini. Doktrin klasik "tetap menjaga koneksi teman di Indonesia" pun bukan menjadi suatu hal yang sulit untuk dilakukan berkat kecanggihan teknologi ini, lebih-lebih karena hampir semua teman sebayaku menggunakannya. Selain cepat, chat ini juga tidak mahal. Biaya langganan paket Blackberry di sini hanya 10 Euro (= Rp 120.000,-) per bulannya. Dua hal inilah yang kiranya melatarbelakangi alasan kemudahan yang aku ungkapkan di awal.

Dunia ini pun tanpa kita sadari telah sedikit berubah. Aku hampir tidak pernah merasa kesepian ketika sendiri di rumah maupun di jalan. Smartphone selalu bisa menemaniku! Dengan sedikit tarian jempol di atas keypad saja, aku sudah bisa membuat mata dan pikiranku kembali sibuk bekerja. Aku berinteraksi dengannya, menangkap kata-kata sambil membayangkan ekspresi wajahnya. Dan ini menyenangkan, ini adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan!
Dan hal ini berbeda dengan game-game di dunia maya, karena Smartphone itu nyata. Orang-orang yang aku ajak untuk berinteraksi di sana adalah orang-orang yang memang pernah aku jumpai. Mereka eksis di dunia ini. Lalu apa salahnya aku menginvestasikan waktuku untuk hal ini?

Karena aku mempunyai pandangan demikian, tanpa disadari aku telah kehilangan etika dan tata krama.
1. Ketika menonton TV bersama teman-teman di kos-kosan, aku sering tidak menjawab ketika diajak ngobrol, karena ketika ada notifikasi baru, aku segera asyik dengan Smartphoneku :)
2. Ketika ada di dalam mobil, di mana cuma ada aku dan sopir di dalam mobil itu, aku justru tidak mengajaknya ngobrol, tapi malah sibuk sendiri dengan dunia Smartphoneku :I
3. Ketika makan malam bersama sekeluarga di rumah, aku bukannya melihat itu sebagai kesempatan untuk ngobrol dengan mereka, melainkan tetap asyik sendiri dengan duniaku :(
4.  Puncaknya adalah ketika aku sedang ngobrol berdua saja dengan sahabatku ini. Aku bahkan sering kali masih saja berasyik-asyik ria di dunia yang kuanggap nyata itu TT
Beruntung aku mempunyai sahabat yang kritis seperti dia. Dia berani menegur dan menumpahkan segala rasa kekesalannya karena tidak dianggap sebagai manusia di saat itu juga. Benar juga, secara tidak sadar aku telah kehilangan moral kemanusiaanku karena Smartphone ini!

Orang-orang di sekitarku, maafkan aku. Aku menjadi tidak peka dan kehilangan nilai-nilai moral dan kemanusiaanku karena sibuk dengan dunia Smartphoneku ini. Kini aku temukan jawaban yang lebih utama dari pertanyaan di atas: kenapa Smartphone telah berkembang sepesat ini.

Bukan "kemudahan", melainkan "keserakahan". Serakah, karena di saat yang bersamaan manusia ingin memberikan perhatian yang sedalam-dalamnya kepada sebanyak-banyaknya manusia.

Apakah itu mungkin? Dulu aku memang menjawab mungkin. Akan tetapi dengan ketidakpekaanku terhadap orang yang ada di sekitarku, bahkan terhadap orang yang saat itu sedang berinteraksi denganku di depan mata dan kepalaku sendiri, itu sudah menjadi bukti yang cukup bahwa hal itu tidak mungkin.
Daripada melayani obrolan dengan orang yang berjarak puluhan, ratusan, bahkan ribuan kilometer dengan kita, bukankah orang yang berada di depan kita saat itu jauh lebih penting? Aku yakin, Tuhan pun sengaja menciptakan keterbatasan pada penglihatan kepada kita, (tidak bisa zoom in dan tidak bisa menembus benda lain) karena alasan ini.

Akhir kata, seperti motto Mas Jokowi, "Nguwongke uwong", aku akan berusaha mulai detik ini untuk sebisa mungkin lebih menghargai orang-orang di sekitarku. Melaksanakannya ternyata tidak semudah mengucapkannya, apalagi dengan godaan-godaan teknologi seperti ini!

Rabu, 13 Juni 2012

Cara Memilih Raket Badminton yang Baik

Inspirasi untuk menulis hari ini datang dari Boedi Ha, seorang pemain badminton asal Semarang yang tergabung dalam sebuah klub Badminton kota Kaiserslautern.

Seperti yang kita ketahui bersama, Badminton adalah olahraga yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia setelah sepak bola. Merk YONEX yang begitu melekat di olahraga ini tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita.

Setidaknya pada tahun 2012 ini, YONEX menawarkan 4 jenis raket yang telah disesuaikan dengan gaya permainan kita, yaitu
1. Voltric - power
2. Nanoray - speed
3. ArcSaber - accuracy
4. Nanospeed - swing movements (offensive)

Dan berikut ini adalah raket-raket terbaik di jenisnya masing-masing
1. Voltric Z-Force (209,95 €)
2. Nanoray 700RP dan 700FX (189,95 €)
3. ArcSaber Z-Slash (199,95 €)
4. Nanospeed 9900 (199,95 €)

Pengen tahu lebih lanjut?
Silakan menuju ke TeKaPe..
http://www.yonex.de/fileadmin/user_content/artikel/badminton/PDF/YONEX_2012_Badminton_web.pdf

Jumat, 08 Juni 2012

Pesan Lord Baden-Powell of Gilwell yang Terakhir

Para pramuka yang kucinta !

Jika kamu pernah melihat sandiwara “Peter Pan”, maka kamu akan ingat mengapa Pemimpin Bajak
Laut selalu membuat pesan-pesan terakhirnya sebelum ia meninggal, karena ia takut tak akan
sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, kalu tiba saatnya ia menutup mata nanti.

Demikian halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum meninggal, namun saat itu akan tiba
juga bagiku. Oleh karenanya aku ingin menyampaikan sekedar kata-kata perpisahan untuk minta diri
kepadamu.

Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu. Oleh karena itu renungkanlah !

Saya telah memiliki kehidupan yang sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian
masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.
Saya yakin, bahwa Tuhan menciptaan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan
bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan
ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri. Jalan menuju kebahagiaan ialah dengan membuat dirimu
sehat dan kuat, lahir dan batin sejak kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi
sesamamu dan dapat menikmati hidup jika kamu kelak telah dewasa. Usaha menyelidiki alam akan
menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyak keindahan dan keajaiban yang diciptakan
Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya ! Bersyukurlah dengan sesuatu yang telah
kamu dapatkan dan berbuatlah yang terbaik atas apa yang telah kamu dapatkan.

Lebih baik melihat suatu hal dari sisi baiknya daripada dari sisi buruknya. Cara yang benar untuk
memperoleh kebahagiaan ialah dengan membahagiakan orang lain. Berusahalah agar kamu dapat
meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada ketika kamu datang. Dan ketika tiba
giliranmu untuk meninggalkan dunia ini, maka kamu akan meninggal dengan hati bahagia karena
ketika masih hidup kamu tidak menyia-nyiakan waktumu, tetapi telah kamu gunakan dengan sebaikbaiknya.

Sedialah dengan cara ini, untuk hidup bahagia dan meninggal dengan bahagia pula.
Letakanlah niat ini senantiasa dalam Janji/Satya Pramukamu, meskipun kamu sudah bukan anakanak
lagi, dan Tuhan akan selalu menganugerahi pertolongan kepadamu dalam melaksanakan
niatmu.

Temanmu,



Baden-Powell Of Gilwell
(pesan ini ditemukan diantara kertas-kertas Baden-Powell, sesudah beliau meninggal pada tanggal 8 Januari 1941)

sumber: http://racanamuria.multiply.com

Sabtu, 12 Mei 2012

KNKP: 11 Asas Kepemimpinan

Pak Henaaang, saya kangen dapet pelajaran KNKP lagi..!
Buat sobat pembaca yang belum tahu apa KNKP itu, begini penjelasannya.
KNKP adalah salah satu mata pelajaran khusus yang hanya ada di SMA TN, yaitu singkatan dari KeNusantaraan dan KePemimpinan.

Berikut ini adalah 11 Asas Kepemimpinan
1. Takwa
2. Ambeg Parama Arta
3. Waspasa Purba Wisesa
4. Ing Ngarsa sung Tuladha
5. Ing Madya Mangun Karsa
6. Tut Wuri Handayani
7. Blaka
8. Legawa
9. Gemi
10. Nastiti
11. Prasaja

SMA Taruna Nusantara
School for Indonesian Future Leader

Jumat, 27 April 2012

Lebih Indah - Adera

Fyuuuh, lega banget rasanya habis nulis Klausur Humanbiologie sore tadi.
Puji Tuhan aku diberi kelancaran dalam mengerjakan, mudah-mudahan hasilnya juga memuaskan.

Pulang dari Klausur, entah datangnya dari mana, tiba-tiba aku terngiang-ngiang lagu "Lebih Indah - Adera".
"... Dan kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah..."

Demikian kurang lebih lirik lagu bagian refrennya.
Penasaran, sepulang dari belanja Paprika Chips XXL dari LIDL aku cari chord + lirik lagunya, kuambil gitar dan mulai kumainkan..

Lebih Indah - Adera

      Am                   E
Saat ku tenggelam dalam sendu
      Am                   D
Waktupun enggan untuk berlalu
        F                Em      Am
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
   Bm                  E
Entah untuk siapapun itu

     Am                 E
Semakin ku lihat masa lalu
     Am                  D
Semakin hatiku tak menentu
     F                Em     Am
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
   Dm                  E
Saat ku melihat senyummu

Reff :
           A   C#m       F#m   Bm
Dan kau hadir merubah segalanya
     E     D     C#m
Menjadi lebih indah
            F#m                Bm
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
     E                 A
Membuatku merasa sempurna
      C#m   F#m Bm          E    D   C#m
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
           F#m               Bm
Berdua denganmu selama-lamanya
     E                  A
Kaulah yang terbaik untukku

Intro : Em Am Em

    Am                    E
Kini ku ingin hentikan waktu
      Am                D
Bila kau berada di dekatku
      F                 Em      Am
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
    Bm                E
Kan ku petik satu untukmu

Back to Reff

F     Em Am       A#            A
Ku percayakan seluruh hatiku padamu
F        Em      Am
Kasihku satu janjiku
     Dm                  E
Kaulah yang terakhir bagiku

Back to Reff

http://adera-online.com/
 
Sumber: http://tabs.ultimate-guitar.com

Minggu, 22 April 2012

TLR Signaling is Required for Salmonella typhimurium Virulence

Hmm, judul jurnal ilmiah yang kedengarannya susah.
Tapi aku tidak mau kalah.
 Aku tidak akan menyerah..!

Apalagi setelah aku nonton video ini: http://www.youtube.com/watch?v=iVMIZy-Y3f8
dan tentuya tak ketinggalan yang satu ini: http://www.youtube.com/watch?v=XyYXICcZw70

I believe, that they are just what i do want to be: Researcher.

Sabtu, 07 April 2012

Semesterticket Paling Dewa..!

Sudah lama aku tidak menulis artikel apapun di blog ini.
Sejak tanggal 18 Februari kemarin sebenarnya aku sudah libur sih, tapi entah kenapa justru tidak produktif menulis :D

Inspirasi untuk menulis hari ini datang dari seorang Abang TN16.
Ia memamerkan Semesterticket-nya yang begitu dewa: 1 negara bagian Hessen + penggunaan IC/ EC..!



Sumber: http://www.das-marburger.de/

Waw..!
Selama ini aku mengira, Semesterticket yang paling luar biasa adalah milik Mahasiswa di Nord-Rhein-Westfallen (NRW): 1 negara bagian NRW.
Oleh karena itu, aku sempat berpikir untuk berkuliah di sana.

Melihat kenyataan super luar biasa ini, aku merekomendasikan pelajar-pelajar Indonesia yang ingin berkuliah di Jerman untuk mempertimbangkan Universitas Marburg sebagai prioritas tempat kuliah.

Urutan Kedewaan Semesterticket:
1. Semesterticket Marburg (Hessen + Penggunaan IC/ EC)
2. Semesterticket NRW (NRW)
3. Semesterticket Niedersachsen (Niedersachsen, tapi tidak termasuk di dalam kotanya)
4. Semesterticket Kaiserslautern (VRN: Mannheim, Heidelberg, Würzburg + Westpfalz: Kaiserslautern, Zweibrücken, Homburg)
5. ...

Angaben ohne Gewähr. Penulis dengan senang hati menerima koreksi dan tambahan informasi yang berguna bagi kesejahteraan rakyat Indonesia di tanah Jerman ini :p

Jumat, 06 Mei 2011

Hentikan Celaan terhadap "komisi8@yahoo.com"!

Baru-baru ini Indonesia diributkan oleh berita Kunjungan Komisi 8 DPR RI ke Australia dalam rangka Studi Banding. Dalam kunjungannya ini, Komisi 8 sempat singgah di KJRI Melbourne dan bertatap muka dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA).

Hal yang paling menarik dari Tatap Muka ini adalah digemborkannya alamat email "komisi8@yahoo.com" sebagai alamat email resmi dari Komisi 8 DPR oleh salah seorang anggota komisi tersebut. Tentu, sebagai sebuah lembaga sekelas DPR, masih digunakannya domain yahoo sebagai alamat email resmi adalah sebuah hal yang patut ditertawakan. Belum lagi, alamat email yang bersangkutan ternyata memang tidak pernah ada (sampai dengan berita itu dipaparkan oleh PPIA).

Dari sinilah terlihat ketidakprofesionalan para anggota DPR. Dari sudut pandang saya, para anggota DPR ini mungkin sudah mempunyai alamat email resmi, tetapi belum digunakan secara efektif. Pada saat mereka ditanya, mereka panik (tak terbiasa menggunakan sehingga tak tahu) dan akhirnya mencoba menjawab "komisi8@yahoo.com", yang pada akhirnya justru mempermalukan mereka sendiri.

Saya setuju, bahwa DPR perlu mengadakan pembenahan atas hal ini. Di era teknologi dan informasi ini, Internet memegang peranan penting dalam komunikasi dan saya rasa tepat, apabila aspirasi dari rakyat bisa disalurkan melalui email ke para wakil rakyat ini.

Akan tetapi, saya tidak setuju apabila berita ini diekspos besar-besaran melalui berbagai media yang ada. Sebut saja media youtube, yang bisa diakses oleh seluruh orang di dunia. Malu rasanya menjelek-jelekkan lembaga negara sendiri di hadapan seluruh dunia, bukan?

Mencela pihak lain tidak akan pernah ada habis-habisnya. Seperti kata pepatah, "gajah di pelupuk mata tak tampak, tetapi kuman di seberang lautan tampak". Perubahan besar hanya akan terjadi apabila masing-masing orang melakukan perubahan-perubahan kecil, yakni perubahan terhadap dirinya sendiri. Daripada sibuk mencela pihak lain, lebih baik kita ubah diri kita sendiri menjadi lebih baik daripada hari kemarin...


Hidup Indonesia, Jayalah Indonesia..!!!
- Untuk Indonesia yang lebih baik -

Jumat, 11 Februari 2011

Anime-nya Indonesia

Anime-nya Indonesia
Teringat masa SD-ku. "One Piece? Apa bagus sih??" Itu adalah kata-kata yang telah kuucapkan ke seorang teman lesku pada waktu itu.

Waktu berputar, hingga aku beranjak dewasa, menempuh jenjang pendidikan SMA-ku di SMA Taruna Nusantara Magelang. Di situlah aku menemukan istilah "komik TN", buku bacaan yang beredar dari kamar ke kamar dalam satu graha, maupun lintas graha.
Ya, Fight IPPO, Naruto, dan One Piece adalah yang aku maksud. Komik-komik itu baru kukenal semenjak aku masuk TN. Komik Fight IPPO barangkali doyan dibaca oleh anak-anak TN gara-gara menyangkut soal sayap dan melatih otot. Sedangkan One Piece yang menceritakan kisah petualangan kelompok Bajak Laut Topi Jerami mencari harta karun terbesar di dunia, One Piece, mestinya tidak berhubungan dengan TN, selain warna biru lautan yang dominan dengan seragam pesiar, seragam kebesaran SMA TN.

Bicara tentang komik dan Anime, jangan lupa untuk menyebutkan kata Pokemon, Digimon, dan Doraemon. Bahkan kisah Kapten Tsubasa sampai melegenda di kalangan anak-anak di seluruh dunia.
Ada pesona tersendiri, yang membuat kita tak bisa berkutik, "kecanduan" untuk terus mengikuti serial Anime ini sampai akhir. Dan sedikit demi sedikit, tanpa sadar kita sedang belajar budaya Jepang. Sebut saja permainan catur Jepang Go dalam Anime Hikaru No Go, dunia ninja Shinobi dalam Anime Naruto, di mana istilah Hokage, Kyubi, dan Shuriken kita kenal dengan baik artinya.
Salut dengan negara Jepang atas ini.
Aku pun hanyut dalam rasa penasaran akan kelanjutan serial Naruto dan One Piece. =p
*Film serial ini dapat diunduh secara cuma-cuma di http://cinema3satu.blogspot.com/ (koq malah jadi promosi)

Kembali ke judul, apakah bangsa Indonesia perlu meniru bangsa Jepang, dengan membuat Anime seperti ini?
Sebuah Video di Youtube tentang Suro dan Boyo berikut ini patut untuk disimak
Aku suka dengan dialek Jawa Timurnya yang kental, mengingatkanku akan kenangan kelas XII-IA8 dan Graha 7 SMA Taruna Nusantara...

Akan tetapi, dari segi internasionalisme, aku lebih suka video berikut ini
http://www.youtube.com/watch?v=4IOqLV3rGWk&playnext=1&list=PL72D9DF2532CF10B5
Seperti halnya Anime Jepang, yang diucapkan dalam bahasa Jepang, ternyata subtitelnya telah dibuat ke dalam berbagai bahasa, antara lain bahasa Inggris, Spanyol, Jerman, dan Portugis, sehingga dapat dimengerti dengan baik oleh seluruh dunia, bahkan sampai di-dubbing dengan bahasa negara yang bersangkutan.
Aku merasa unsur kebudayaan Indonesia akan bisa tersampaikan dengan baik oleh Anime-anime semacam ini.
Indonesia tidak hanya meniru, tetapi telah mengembangkannya, sehingga unsur kebudayaan dan pariwisata Indonesia ikut ditonjolkan melalui Anime ini.

Hidup Suro Boyo..! Salut buat Indonesia..!!!
*Mana Asem Arang dan Salah Tiga?=p

Jumat, 21 Januari 2011

Apa itu Kuliah?

Mengutip kata-kata Frau Kintzen, Dosen Bahasa Jermanku, "Studieren bedeutet aktiv etwas zu machen...", yang artinya kurang lebih adalah "Kuliah berarti secara aktif melakukan sesuatu".

Pengertian inilah yang membedakan antara "kuliah" dengan "belajar", antara "mahasiwa" dengan "siswa".
Secara aktif berarti ada unsur kemuauan dari yang bersangkutan.

Tipikal kesalahan yang sering dilakukan oleh kita adalah baru belajar dengan sungguh-sungguh pada H-1 yang terkenal dengan istilah "Sistem Kebut Semalam". Kita semua menyadari bahwa cara belajar ini salah dan ingin kita ubah, tetapi pada praktiknya terasa sulit.

Sekilas, aku ingin menceritakan sesuatu.
Ada 1 hal menarik yang kutemui di Jerman ini, yaitu perbedaan tradisi mendidik anak di benua Eropa dengan non-Eropa.
Di Benua Eropa ini, seorang anak berusia 12 tahun sudah dituntut untuk bisa menceritakan kembali suatu cerita rakyat dengan kata-katanya sendiri. Apabila anak ini menggunakan kata-kata yang sudah tercantum di buku bacaan tersebut, anak ini akan mendapatkan nilai 0. Seorang anak ini dinilai tingkat pemahamannya terhadap suatu bacaan dengan cara ini. Tradisi memahami benar-benar, kemudian mengembangkannya sendiri secara kreatif dan inovatif)
Menarik.

Tradisi yang selama ini melekat di kita adalah, kita mendengar, kita kembali mengucapkan - kita membaca, kita kembali menceritakan - kita mencatat, kita kembali menulisnya pada saat ulangan - harus kita akui, banyak menghafal. Akan tetapi, tunggu dulu. Tradisi ini sebenarnya bukanlah tradisi yang jelek.

Tradisi bangsa Eropa yang menekankan konsep ini tetap memiliki kelemahan. Misalnya, penggunaan kalkulator dan kertas kumpulan rumus. Dalam ulangan Matematika, Fisika, maupun Kimia, hukumnya legal di sini untuk menggunakan kalkulator dan membawa kertas yang berisi kumpulan rumus.
Bukan berarti ulangan openbook juga, karena itu memang efektif, dipakai.
Hanya saja, masalah akan timbul apabila orang Eropa diminta menghitung tanpa kalkulator dan kertas kumpulan rumus. Mereka akan kelabakan, karena mereka memang tidak menghafalnya sama sekali.

Berbeda dengan bangsa non-Eropa yang menekankan tradisi menghafal. Kita memang terbiasa menghitung dan menghafal rumus-rumus yang ada, sehingga tanpa kalkulator dan kertas kumpulan rumus yang memang menjadi barang-barang yang ilegal hukumnya apabila digunakan saat ulangan pun bagi kita bukan masalah. Itulah kelebihan kita.

Kembali ke konsep "kuliah" yang benar. Mengerti suatu hal adalah suatu proses, apalagi di Jerman, di mana konsep menjadi sebuah penekanan di dalam pendidikannya. Aku menjadi semakin mengerti, kenapa tanpa membuat Termin (=Janji) terlebih dahulu, orang menjadi tidak bisa bertemu dengan orang Jerman di sini. Sudah bukan saatnya lagi untuk belajar pada hari H-1. Aku akan menyempatkan 1-2 jam dalam 24 jamku untuk mengulang kembali pelajaran, mencoba mengerti konsep apa yang disampaikan oleh Dosen di sini.
Ayo, bikin jadwal kegiatan seminggu..!

Ada pertanyaan menarik.
Jadi, apakah benar orang Jerman, semacam Albert Einstein yang telah menemukan banyak hal di dunia ini berarti telah mengoptimalkan potensinya? Jawabannya belum. Kitalah, yang sebenarnya mempunyai potensi ini. Tradisi menghafal yang sudah belasan tahun kita dapat, mari kita gabungkan dengan tradisi bangsa Eropa - tradisi memahami benar-benar, kemudian mengembangkannya sendiri secara kreatif dan inovatif´. Hasilnya akan optimal..!!!

Jadi, bangsaku, bangkitlah, balaslah bangsa Eropa yang telah menjajah kita dulu, dengan menjajah buminya di bangku perkuliahan (entah S1, S2, bahkan S3 - sempatkan mencicipi Eropa..!). Sudah cukup bagi kita untuk menghafal, kini saatnya memahami benar-benar, dan mengembangkannya sendiri secara kreatif dan inovatif..!

Rabu, 12 Januari 2011

Penekanan Pelajaran di Jerman

Deutschland: Land der Ideen
(Jerman: Negara Ide)

Motto ini benar adanya. Sebagai mahasiswa di Studienkolleg KIT yang sudah mendapatkan pelajaran selama kurang lebih 3 bulan, aku menyadari beberapa perbedaan penekanan pelajaran di Jerman dengan di Indonesia.

Penekanan yang dimaksud adalah soal konsep.
Berbeda dengan pelajaran di Indonesia yang lebih terkesan menghafal, pelajaran di Jerman menekankan pemahaman konsep. Misalnya, pelajaran tentang Limit dan Diferensial.

Penjelasan tentang Limit di Jerman memakan waktu cukup lama, hanya untuk menjelaskan konsep tentang apa sebenarnya Limit itu.
Penjelasan tentang Limit bermula dari barisan bilangan.

Misalnya a(n) = 1, kemudian a(n+1) = 4a(n) - 13

Kita diminta untuk menentukan, bagaimana kecenderungan grafiknya, apakah dari lembah ke bukit, atau dari bukit ke lembah. Apakah ada nilai batas, apakah konvergen atau divergen. Dengan mencari nilai batas itulah, sebenarnya kita sedang belajar Limit tak hingga dari suatu fungsi.

Setelah paham dengan Limit, sama halnya dengan di Indonesia, kita menuju ke konsep Diferensial. Penjelasan tentang Diferensial juga memakan waktu yang tidak sebentar. Dosen itu sampai menggambar grafik f(x), f '(x), dan f ''(x) sebagai fungsi f(x), turunan pertama dari f(x) dan turunan kedua dari f(x) untuk menjelaskan apa itu diferensial dan bagaimana kita dapat menemukannya.
Ternyata, diferensial bisa dikatakan adalah kecenderungan gradien suatu grafik.

Grafik barangkali, adalah sesuatu yang banyak membantu pemahaman konsepku. Dari pelajaran Matematika, sekarang kita beralih ke pelajaran Fisika.

Pelajaran Fisika tentang gelombang di kelas 3 SMA di Indonesia banyak menggunakan fungsi sinus dan kosinus, misalnya

y = 4 sin (5x + 17)

Entah intuisiku benar atau tidak, aku merasa pembelajaran itu lebih menekankan ke bagaimana orang dapat menghitung dan menjawab pertanyaan Fisika itu dengan cepat dan tepat. Akan tetapi, apabila ditanya, apa bedanya grafiknya dengan grafik y = sin (x) biasa? Sedikit banyak, pelajar Indonesia akan mengalami kesulitan.

Dengan grafik, semua akan terasa lebih mudah. Kita bisa membayangkan bagaimana kecenderungan grafiknya, bisa memperkirakan nilai puncak dan sebagainya.

Jujur, aku belum paham konsep Integral secara matang. Akan tetapi, karena kebutuhan yang mendesak, terpaksa aku menghafal rumus-rumusnya supaya bisa mengerjakan soal Matematika UN dan SNMPTN.

Mudah-mudahan, konsep Integral yang akan dijelaskan pada Semester 2 Studienkolleg di Jerman (yang memang lebih menekankan konsep itu) nanti membuat aku lebih paham dan bukan lagi menjadi momok seperti yang dialami oleh pelajar-pelajar SMA maupun di bangku kuliah di Indonesia.
Ini jugalah salah satu alasanku melanjutkan studi ke Jerman. Sekalipun aku orang Indonesia, aku ingin mengerti konsepnya benar-benar, sehingga bisa mengembangkan ilmu, bukan menunggu pengembangan ilmu dari negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, maupun Jerman ini.