Laman

Senin, 30 April 2018

Orang Jateng Bisa Membuat SIM Banten di Kab Tangerang? (Bagian 1/ 3)

Dear All,

Uh uh.. Tepat 1 hari setelah hari ulang tahunku, suatu peristiwa telah menggerakkanku untuk membuka dompet mengambil Surat Izin Mengemudi (SIM) yang kupunya. Betapa kagetnya diriku melihat bahwa SIM itu ternyata masa berlakunya telah habis kemarin, di hari ulang tahunku! Usut punya usut, ternyata masa berlaku SIM itu memang didesain tepat di tanggal kelahiran 5 tahun yang akan datang..

Aduuuh, masalah ini. Aku orang Jateng yang semenjak tahun 2016 lalu telah berganti domisili di Kab. Tangerang sebagai seorang karyawan di sebuah pabrik manufaktur. Hmm, sebenarnya bisa-bisa aja sih bikin SIM di kota asalku. Hal ini sudah diatur oleh Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di tempatku bekerja: aku akan mendapatkan izin 1 hari untuk itu. Akan tetapi, aku menilai ini sebagai suatu hal yang kurang bijak untuk dilakukan mengingat ada banyak kerjaan yang harus kuselesaikan di kantor di bulan April ini. Aku pun mencoba untuk mengurus perpanjangan SIM ini di Tanah Jawara. 

Maka jadilah hari Sabtu, hari libur yang kudapatkan setelah membanting tulang selama 5 hari. Sabtu itu sayangnya aku sudah membuat janji untuk mengajar anak-anak di Kota Baja Cilegon melalui kegiatan Kelas Inspirasi (KI) Cilegon 2. Memang, siang hari usai mengajar aku sempat ditemani oleh Kak Jewel ke Mayofield Mall, sebuah mal tempat di mana mobil SIM keliling melayani masyarakat. Sayangnya, seorang petugas keamanan memberitahu kami bahwa mobil tersebut baru datang pukul 16:30. Kayaknya kesorean deh. Belum juga kalau mobilnya kebetulan hari ini pas tidak datang, aku tak mau penantianku nanti sia-sia.

Menghubungi Kak Bere, kami pun mendapatkan masukan untuk bergerak menuju Kantor Satlantas Polres Cilegon yang letaknya berada di dekat alun-alun. Dengan bantuan dari googlemaps kami pun berhasil sampai di sana pukul 13:15. Ah, lagi-lagi usahaku untuk membuat SIM masih menemui kendala. Seperti yang sudah aku duga, layanan SIM di hari Sabtu kemungkinan besar hanya berlangsung setengah hari, sampai dengan jam 12 siang saja. Mungkin memang belum jodohku untuk membuat SIM di Kota Cilegon ya. "Ya elah, orang Jateng mau bikin SIM, jauh bener bikinnya nyampai kota Cilegon. Masih mending kalau tinggalnya memang di sini, sampeyan juga siapa, cuman pelancong aja di kota baja ini..", demikian imajinasiku mencoba membayangkan percakapan yang akan terjadi seandainya aku berhasil menemui petugas pembuatan SIM dan mengutarakan niatku untuk membuat SIM di Cilegon..

Sabtu berikutnya! Ndak enak kalau tidak datang ke pernikahan salah seorang engineer - customer kami di kantor -, aku jadi punya waktu beberapa jam untuk mengurus SIM di Kota Semarang, Jateng. Daya khayalku kembali bermain, "Sugeng enjing, Pak. Kula ajeng ndamel SIM ting mriki..", bahasa yang akan aku gunakan di kantor satlantas di sini. Huhu, lagi-lagi nasib sedang tidak berpihak padaku. Sabtu ini ternyata tanggal merah! Sebagai karyawan, aku tidak menghafalkan hari libur yang jatuh pada hari Sabtu, karena pada hari ini aku memang mendapatkan libur. Banten Banten. Mungkin memang peruntunganku masih ada di propinsi ini.. aku pun kembali ke Kota Benteng Tangerang ini dengan tangan hampa.

Seminggu yang berikutnya kembali berlalu. Kini aku berencana membuat SIM di kota domisiliku, Kab. Tangerang. Setelah kuparkirkan kendaraanku di sebuah lapangan parkir berlumpur di seberang, kumasuki Kantor Satlantas Polres Tangerang yang terletak di Pemda Tigaraksa. Petugas di posko menanyaiku apakah aku mau membuat SIM baru atau memperpanjang SIM. "Perpanjang SIM", jawabku mantap. Sebenarnya, dari referensi-referensi yang aku baca di dunia maya, sejak tahun 2017, SIM yang masa berlakunya sudah lewat 1 hari saja sudah dianggap mati. Orang tidak bisa lagi memperpanjangnya, melainkan harus membuat SIM yang baru. Rasa-rasanya sudah menjadi sifat dasarku yang iseng: aku tetap mencoba mengurus SIM dengan cara "perpanjang SIM", siapa tahu aturan tahun 2017 itu masih bisa dibelokkan, belum semulus dan selurus jalan tol.. Petugas pun mengarahkanku untuk membayar asuransi dan meminta surat kesehatan dari kantor terkait yang ada di seberang, yang letaknya persis di sebelah lapangan parkir berlumpur tadi.

Terasa betul manfaatnya membaca referensi dalam membuat SIM! Aku yang memang sudah menyiapkan beberapa fotokopi KTP dengan secepat kilat langsung menyerahkan syarat tersebut ketika diminta oleh petugas, baik petugas asuransi maupun kesehatan. Aku mengeluarkan kocek senilai Rp 30.000,- untuk membayar asuransi dan Rp 25.000,- untuk tes kesehatan. Sekalipun aku merasa bahwa berat badanku sudah tidak ideal lagi, aku tidak mengalami kesulitan ketika menjalani tes kesehatan. Aku hanya disodori beberapa pertanyaan dari buku tes buta warna, menyebutkan angka yang tertera di halaman satu dan halaman lainnya.

Usai mendapatkan kedua syarat ini, dengan meninggalkan KTP asli aku mendapatkan penang kuning bertuliskan "Perpanjangan SIM" dari petugas di posko satlantas. "I am on the right track to apply the driving license", gumamku percaya diri. Kepercayaan diriku seketika goyang di pos pengambilan formulir. Petugas itu menyampaikan bahwa SIM-ku sudah tidak berlaku lagi. Persis seperti referensi yang telah aku baca sebelumnya, beliau menjelaskan bahwa SIM dulunya memang diberi allowance masa berlaku sampai dengan 3 bulan ke depannya. Namun, sejak tahun 2017, aturan ini direvisi. Telat sehari pun, SIM sudah tidak berlaku lagi. Mau ngeles lupa ngecek masa berlakunya? Maaf, seperti yang aku tulis di atas tadi: SIM ternyata sudah didesain untuk habis masa berlakunya di hari ulang tahunmu 5 tahun yang akan datang. Jadi.. sama seperti visual plat nomor yang memberikan informasi bulan habisnya masa berlaku STNK, kamu memang harus selalu cek ketika bulan di kalender sudah berganti memasuki bulan kelahiranmu. Ah, 5 tahun itu 'kan lama Mas. Emm, menurutku sih nggak lama-lama amat ya, apalagi kalau kamu sudah mulai memasuki rutinitas di dunia kerja. Curcol dikit nih, gini-gini aku udah ada 2 tahun lebih lho mencari nafkah di Kab. Tangerang ini.. Adakah yang kelihatan berubah dari diriku? Kelihatannya sih nggak, kecuali perut yang sudah bertambah maju :D

Kembali ke kepengurusan SIM, aku perlu menebus uang senilai Rp 125.000,- untuk mengambil formulir tersebut. Setelah mengisi lengkap formulir dan menyertakan fotokopi KTP dan SIM, kuserahkan berkas itu ke pos berikutnya.

Sambil menunggu panggilan dari petugas untuk proses selanjutnya, aku pun sempat mengabadikan banner berikut, yang akan aku tuliskan lagi sehingga teman-teman pembaca dapat mengetahui jam pelayanan SIM di Satlantas Polresta Tangerang.

JAM PELAYANAN
Senin s/d Kamis: 08:00 WIB s/d 15:00 WIB
Jumat s/d Sabtu: 08:00 WIB s/d 14:00 WIB


... (bersambung)




Rabu, 21 Maret 2018

PASCH Road to School: SMA TN



Sabtu, 17 Maret 2018

Pukul 14:00 - 16:30
1. Pembukaan dari Perwakilan Sekolah dan Perkenalan dari Alumni Sekolah sekaligus PASCH
2. Sesi I: Apa itu PASCH, tujuannya, mata kegiatan, dan kesempatan membuka cakrawalanya. Penayangan video PASCH Road to School (video kita)
3. Sesi II: Perkenalan Komunitas Alumni Sekolah yang ada di Jerman (Ikastara 49). Cerita ttg hidup di Jerman dan bagaimana cara lanjut studi di Jerman
4. Pembagian merchandise untuk adik-adik yang aktif bertanya dan mengikuti seminar dan foto bersama

.. to be continued

Minggu, 18 Februari 2018

Aku dan Dek Niki - ku: sekarang dan 7 tahun yang lalu

...

Selepas menjelaskan seputar konsep dan teori, Pak Agus mulai masuk ke hal-hal yang lebih praktis: sebuah Workshop Fotografi. Dijelaskannya sejarah perkembangan kamera dari kamera negatif, kamera dengan plat kaca, kamera film, hingga berkembang menjadi kamera digital di era sekarang. Beliau sendiri cukup update dalam memaparkan ini, di mana beliau juga membahas bahwa kamera DSLR sekalipun sudah memiliki fungsi Wi-Fi saat ini agak mulai ditinggalkan masyarakat, karena masyarakat sekarang cenderung lebih mengejar kepraktisan – sesuatu yang bisa didapatkan dengan memfoto kamera HP. Pak Agus melanjutkan mengenai trisula fotografi: Shutter Speed, Aperture, dan ISO, yang kemudian disambungkannya dengan bahasan mengenai Lighting atau teknik pencahayaan. “Sebagai generasi muda, kalian akan saya ajari bagaimana cara membuat foto yang bagus untuk di-share, salah satunya dengan teknik framing yang baik”, kata Pak Agus memberikan tips. Framing atau teknik pengambilan pemandangan sebelum difoto diajarkannya dalam bahasa off center dan hi-low horizon. Hal ini seperti yang pernah didapatkan penulis dalam bahasa Rule of Third, artinya aturan sepertiga: bagaimana objek dapat diletakkan di sepertiga bagian kiri, sepertiga bagian kanan, maupun atas bawah untuk membuatnya lebih menarik. Akan tetapi, ada juga beberapa objek yang bagus diletakkan di tengah, hal ini juga sesuai dengan ilmu Pak Agus yang ia beri nama teknik Balance. Wah, sepertinya hari ini kita dapat beberapa ilmu nih untuk bikin suatu foto yang instagrammable!

...



Dek Niki, apa kabarmu? Sudah lama aku tidak membelai lembut dirimu..
Siapakah aku sekarang, siapakah aku 7 tahun yang lalu?

Senin, 05 Februari 2018

Pergantian Pak RT Desa Dukuh, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang di Tahun 2018

Tinggal 1,5 tahun di Perum Citra Raya tanpa sadar telah membuatku sangat kerasan. Aku pun kini tak lagi menarik diri dari masyarakat, tetapi melangkahkan kakiku untuk bermasyarakat dengan mantap.

Di penghujung usiaku yang hampir 2 tahun di Tanah Jawara ini, aku ingin memberikan informasi mengumumkan kepada teman-teman pembaca:

Pergantian Pak RT Desa Dukuh Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang di Tahun 2018
Semula: Bapak Asep Nurman Jaenudin
Kini: Bapak Suripto, S.E.

Demikian untuk dijadikan periksa.


Sabtu, 13 Januari 2018

Aku dan Soe Hok Gie

Apa? Aku terakhir menulis di sini bulan April 2017? Terlalu, ini sungguh terlalu..

Waktu.. memang ternyata sangat cepat berlalu. Segala sesuatunya bisa tetap, bisa juga berubah. Aku rasa aku sedikit benar tentang hal ini: Nasib di kehidupan ini sama sekali tidak bergantung pada waktu. Apabila aku tidak melangkah di hari itu, mungkin hari ini aku tidak akan terlalu dalam mengenal sosok pria ini.


Buku adalah jendela dunia. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan pria ini, adalah sosok yang telah mengajarkan kepadaku: Untuk bisa berkontribusi kepada dunia, aku memang tidak perlu menunggu. Soe Hok Gie mati muda, usianya hanya sampai 27 tahun. Hasil karyanya, buah-buah pemikirannya, bagaikan seorang profesional matang yang di zamanku sekarang sudah berusia 40 - 50an tahun. 

Hok Gie, aku begitu terinspirasi membaca kisahmu..
Doakan aku supaya bisa membuat karya besar sepertimu di usia mudaku.
Terima kasih buku, terima kasih dunia literasi.
Terima kasih TBM Citra Raya dan TBM Dimensi Kita!


Tangerang, 13 Januari 2018