Laman

Jumat, 11 Februari 2011

Anime-nya Indonesia

Anime-nya Indonesia
Teringat masa SD-ku. "One Piece? Apa bagus sih??" Itu adalah kata-kata yang telah kuucapkan ke seorang teman lesku pada waktu itu.

Waktu berputar, hingga aku beranjak dewasa, menempuh jenjang pendidikan SMA-ku di SMA Taruna Nusantara Magelang. Di situlah aku menemukan istilah "komik TN", buku bacaan yang beredar dari kamar ke kamar dalam satu graha, maupun lintas graha.
Ya, Fight IPPO, Naruto, dan One Piece adalah yang aku maksud. Komik-komik itu baru kukenal semenjak aku masuk TN. Komik Fight IPPO barangkali doyan dibaca oleh anak-anak TN gara-gara menyangkut soal sayap dan melatih otot. Sedangkan One Piece yang menceritakan kisah petualangan kelompok Bajak Laut Topi Jerami mencari harta karun terbesar di dunia, One Piece, mestinya tidak berhubungan dengan TN, selain warna biru lautan yang dominan dengan seragam pesiar, seragam kebesaran SMA TN.

Bicara tentang komik dan Anime, jangan lupa untuk menyebutkan kata Pokemon, Digimon, dan Doraemon. Bahkan kisah Kapten Tsubasa sampai melegenda di kalangan anak-anak di seluruh dunia.
Ada pesona tersendiri, yang membuat kita tak bisa berkutik, "kecanduan" untuk terus mengikuti serial Anime ini sampai akhir. Dan sedikit demi sedikit, tanpa sadar kita sedang belajar budaya Jepang. Sebut saja permainan catur Jepang Go dalam Anime Hikaru No Go, dunia ninja Shinobi dalam Anime Naruto, di mana istilah Hokage, Kyubi, dan Shuriken kita kenal dengan baik artinya.
Salut dengan negara Jepang atas ini.
Aku pun hanyut dalam rasa penasaran akan kelanjutan serial Naruto dan One Piece. =p
*Film serial ini dapat diunduh secara cuma-cuma di http://cinema3satu.blogspot.com/ (koq malah jadi promosi)

Kembali ke judul, apakah bangsa Indonesia perlu meniru bangsa Jepang, dengan membuat Anime seperti ini?
Sebuah Video di Youtube tentang Suro dan Boyo berikut ini patut untuk disimak
Aku suka dengan dialek Jawa Timurnya yang kental, mengingatkanku akan kenangan kelas XII-IA8 dan Graha 7 SMA Taruna Nusantara...

Akan tetapi, dari segi internasionalisme, aku lebih suka video berikut ini
http://www.youtube.com/watch?v=4IOqLV3rGWk&playnext=1&list=PL72D9DF2532CF10B5
Seperti halnya Anime Jepang, yang diucapkan dalam bahasa Jepang, ternyata subtitelnya telah dibuat ke dalam berbagai bahasa, antara lain bahasa Inggris, Spanyol, Jerman, dan Portugis, sehingga dapat dimengerti dengan baik oleh seluruh dunia, bahkan sampai di-dubbing dengan bahasa negara yang bersangkutan.
Aku merasa unsur kebudayaan Indonesia akan bisa tersampaikan dengan baik oleh Anime-anime semacam ini.
Indonesia tidak hanya meniru, tetapi telah mengembangkannya, sehingga unsur kebudayaan dan pariwisata Indonesia ikut ditonjolkan melalui Anime ini.

Hidup Suro Boyo..! Salut buat Indonesia..!!!
*Mana Asem Arang dan Salah Tiga?=p

Rabu, 09 Februari 2011

Aku ingin kuliah Molekulare Biotechnologie di Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg..!

Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg adalah salah satu universitas terbaik di Jerman.
Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg ist eine der besten Universitäten in Deutschland.

Universitas ini menempati peringkat dunia ke-... pada tahun 2010.
137 versi Webometrics
83 versi Times
51 versi QS.

Berdiri sejak tahun 1386 universitas ini menjadi universitas tertua di Jerman dan merupakan salah satu dari tiga universitas tertua di Eropa.

Aku ingin kuliah jurusan Molekulare Biotechnologie di sini..!
Satu angkatan hanya 80 orang dan diincar oleh banyak orang.
Itu berarti aku harus lulus Studienkolleg dengan nilai rata-rata mendekati 1,0 (100%)..
Apakah itu mungkin?

Semester 1 Studienkolleg kulewati dengan nilai rata-rata 1,7 (86%)...
Itu dengan kemampuan Bahasa Jerman yang masih kurang dan Ulangan Fisika yang kurang maksimal. Sebenarnya masih bisa lebih baik dari itu.
Hanya saja, itu semester 1, pelajarannya masih mirip-mirip dengan SMA dan kami serba diberi soal yang tidak sulit.

Pertanyaannya, apakah aku mampu menembus nilai rata-rata sehr gut, alias di antara 1,0 - 1,5 di Semester 2?
Bahkan, orang bilang, untuk bisa aman diterima di Heidelberg jurusan ini, nilai rata-rata harus 1,1 (98%)...
Apakah itu cukup mungkin bagiku?

Bin ich immer stärker? Ich weiß nicht die Antwort noch. Deswegen werde ich gehen weiter voran..!
Am i getting stronger? I don't know the answer yet. That's why i'll keep walking ahead..!

Jumat, 21 Januari 2011

Apa itu Kuliah?

Mengutip kata-kata Frau Kintzen, Dosen Bahasa Jermanku, "Studieren bedeutet aktiv etwas zu machen...", yang artinya kurang lebih adalah "Kuliah berarti secara aktif melakukan sesuatu".

Pengertian inilah yang membedakan antara "kuliah" dengan "belajar", antara "mahasiwa" dengan "siswa".
Secara aktif berarti ada unsur kemuauan dari yang bersangkutan.

Tipikal kesalahan yang sering dilakukan oleh kita adalah baru belajar dengan sungguh-sungguh pada H-1 yang terkenal dengan istilah "Sistem Kebut Semalam". Kita semua menyadari bahwa cara belajar ini salah dan ingin kita ubah, tetapi pada praktiknya terasa sulit.

Sekilas, aku ingin menceritakan sesuatu.
Ada 1 hal menarik yang kutemui di Jerman ini, yaitu perbedaan tradisi mendidik anak di benua Eropa dengan non-Eropa.
Di Benua Eropa ini, seorang anak berusia 12 tahun sudah dituntut untuk bisa menceritakan kembali suatu cerita rakyat dengan kata-katanya sendiri. Apabila anak ini menggunakan kata-kata yang sudah tercantum di buku bacaan tersebut, anak ini akan mendapatkan nilai 0. Seorang anak ini dinilai tingkat pemahamannya terhadap suatu bacaan dengan cara ini. Tradisi memahami benar-benar, kemudian mengembangkannya sendiri secara kreatif dan inovatif)
Menarik.

Tradisi yang selama ini melekat di kita adalah, kita mendengar, kita kembali mengucapkan - kita membaca, kita kembali menceritakan - kita mencatat, kita kembali menulisnya pada saat ulangan - harus kita akui, banyak menghafal. Akan tetapi, tunggu dulu. Tradisi ini sebenarnya bukanlah tradisi yang jelek.

Tradisi bangsa Eropa yang menekankan konsep ini tetap memiliki kelemahan. Misalnya, penggunaan kalkulator dan kertas kumpulan rumus. Dalam ulangan Matematika, Fisika, maupun Kimia, hukumnya legal di sini untuk menggunakan kalkulator dan membawa kertas yang berisi kumpulan rumus.
Bukan berarti ulangan openbook juga, karena itu memang efektif, dipakai.
Hanya saja, masalah akan timbul apabila orang Eropa diminta menghitung tanpa kalkulator dan kertas kumpulan rumus. Mereka akan kelabakan, karena mereka memang tidak menghafalnya sama sekali.

Berbeda dengan bangsa non-Eropa yang menekankan tradisi menghafal. Kita memang terbiasa menghitung dan menghafal rumus-rumus yang ada, sehingga tanpa kalkulator dan kertas kumpulan rumus yang memang menjadi barang-barang yang ilegal hukumnya apabila digunakan saat ulangan pun bagi kita bukan masalah. Itulah kelebihan kita.

Kembali ke konsep "kuliah" yang benar. Mengerti suatu hal adalah suatu proses, apalagi di Jerman, di mana konsep menjadi sebuah penekanan di dalam pendidikannya. Aku menjadi semakin mengerti, kenapa tanpa membuat Termin (=Janji) terlebih dahulu, orang menjadi tidak bisa bertemu dengan orang Jerman di sini. Sudah bukan saatnya lagi untuk belajar pada hari H-1. Aku akan menyempatkan 1-2 jam dalam 24 jamku untuk mengulang kembali pelajaran, mencoba mengerti konsep apa yang disampaikan oleh Dosen di sini.
Ayo, bikin jadwal kegiatan seminggu..!

Ada pertanyaan menarik.
Jadi, apakah benar orang Jerman, semacam Albert Einstein yang telah menemukan banyak hal di dunia ini berarti telah mengoptimalkan potensinya? Jawabannya belum. Kitalah, yang sebenarnya mempunyai potensi ini. Tradisi menghafal yang sudah belasan tahun kita dapat, mari kita gabungkan dengan tradisi bangsa Eropa - tradisi memahami benar-benar, kemudian mengembangkannya sendiri secara kreatif dan inovatif´. Hasilnya akan optimal..!!!

Jadi, bangsaku, bangkitlah, balaslah bangsa Eropa yang telah menjajah kita dulu, dengan menjajah buminya di bangku perkuliahan (entah S1, S2, bahkan S3 - sempatkan mencicipi Eropa..!). Sudah cukup bagi kita untuk menghafal, kini saatnya memahami benar-benar, dan mengembangkannya sendiri secara kreatif dan inovatif..!

Rabu, 12 Januari 2011

Penekanan Pelajaran di Jerman

Deutschland: Land der Ideen
(Jerman: Negara Ide)

Motto ini benar adanya. Sebagai mahasiswa di Studienkolleg KIT yang sudah mendapatkan pelajaran selama kurang lebih 3 bulan, aku menyadari beberapa perbedaan penekanan pelajaran di Jerman dengan di Indonesia.

Penekanan yang dimaksud adalah soal konsep.
Berbeda dengan pelajaran di Indonesia yang lebih terkesan menghafal, pelajaran di Jerman menekankan pemahaman konsep. Misalnya, pelajaran tentang Limit dan Diferensial.

Penjelasan tentang Limit di Jerman memakan waktu cukup lama, hanya untuk menjelaskan konsep tentang apa sebenarnya Limit itu.
Penjelasan tentang Limit bermula dari barisan bilangan.

Misalnya a(n) = 1, kemudian a(n+1) = 4a(n) - 13

Kita diminta untuk menentukan, bagaimana kecenderungan grafiknya, apakah dari lembah ke bukit, atau dari bukit ke lembah. Apakah ada nilai batas, apakah konvergen atau divergen. Dengan mencari nilai batas itulah, sebenarnya kita sedang belajar Limit tak hingga dari suatu fungsi.

Setelah paham dengan Limit, sama halnya dengan di Indonesia, kita menuju ke konsep Diferensial. Penjelasan tentang Diferensial juga memakan waktu yang tidak sebentar. Dosen itu sampai menggambar grafik f(x), f '(x), dan f ''(x) sebagai fungsi f(x), turunan pertama dari f(x) dan turunan kedua dari f(x) untuk menjelaskan apa itu diferensial dan bagaimana kita dapat menemukannya.
Ternyata, diferensial bisa dikatakan adalah kecenderungan gradien suatu grafik.

Grafik barangkali, adalah sesuatu yang banyak membantu pemahaman konsepku. Dari pelajaran Matematika, sekarang kita beralih ke pelajaran Fisika.

Pelajaran Fisika tentang gelombang di kelas 3 SMA di Indonesia banyak menggunakan fungsi sinus dan kosinus, misalnya

y = 4 sin (5x + 17)

Entah intuisiku benar atau tidak, aku merasa pembelajaran itu lebih menekankan ke bagaimana orang dapat menghitung dan menjawab pertanyaan Fisika itu dengan cepat dan tepat. Akan tetapi, apabila ditanya, apa bedanya grafiknya dengan grafik y = sin (x) biasa? Sedikit banyak, pelajar Indonesia akan mengalami kesulitan.

Dengan grafik, semua akan terasa lebih mudah. Kita bisa membayangkan bagaimana kecenderungan grafiknya, bisa memperkirakan nilai puncak dan sebagainya.

Jujur, aku belum paham konsep Integral secara matang. Akan tetapi, karena kebutuhan yang mendesak, terpaksa aku menghafal rumus-rumusnya supaya bisa mengerjakan soal Matematika UN dan SNMPTN.

Mudah-mudahan, konsep Integral yang akan dijelaskan pada Semester 2 Studienkolleg di Jerman (yang memang lebih menekankan konsep itu) nanti membuat aku lebih paham dan bukan lagi menjadi momok seperti yang dialami oleh pelajar-pelajar SMA maupun di bangku kuliah di Indonesia.
Ini jugalah salah satu alasanku melanjutkan studi ke Jerman. Sekalipun aku orang Indonesia, aku ingin mengerti konsepnya benar-benar, sehingga bisa mengembangkan ilmu, bukan menunggu pengembangan ilmu dari negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, maupun Jerman ini.

Selasa, 04 Januari 2011

Barang Daganganku

Salam Enterpreneur..!

Setelah KEPEPETS, aku punya barang dagangan lagi, yaitu Telepon Genggam/ Ponsel/ Handphone (HP).
Barang daganganku adalah
Black Pad, Blackberry, IPod, IPhone, Nokia, Samsung, dan Sony Ericsson
Baru gres, garansi resmi, sudah termasuk ongkos pengiriman ke seluruh wilayah di Indonesia.
Sistem pembayaran: Transfer. Barang dikirim sehari setelah uang masuk.

Harga murah meriah, bisa ditawar, tapi tipis. Berikut ini daftar barang dagangan dan harganya
Black Pad Rp5.000.000,00


BB Bold 9000 Rp3.600.000,00

BB Storm 2 Rp3.900.000,00

BB Torch 9800 Rp4.800.000,00

BB Curve 3G 9300 Rp2.700.000,00

BB Gemini Rp2.100.000,00

BB Bold 9700 Rp4.000.000,00

BB Javelin Rp2.900.000,00

BB Pearl Flip 8220 Rp3.200.000,00

BB Pearl 9100 3G Rp3.300.000,00

Ipod apple 4G 8GB Rp2.300.000,00

Iphone 4G 32GB Rp5.600.000,00

Iphone 3G 16GB Rp4.600.000,00

Iphone 3G 32GB Rp5.800.000,00

Ipad Apple 64 GB Rp7.000.000,00

NOKIA N96 Rp2.400.000,00

NOKIA E75 Rp1.700.000,00

NOKIA X5 Rp1.500.000,00

NOKIA N78 Rp1.300.000,00

NOKIA N97 Rp2.500.000,00

NOKIA C6 Rp2.400.000,00

NOKIA 5800 Rp2.400.000,00

NOKIA X3 Rp1.400.000,00

NOKIA N900 Rp4.400.000,00

NOKIA X6 Rp4.000.000,00

NOKIA E90 Rp3.500.000,00

NOKIA E7 Rp4.900.000,00

NOKIA N8 Rp4.000.000,00

Samsung Galaxy Tab 16GB Rp4.700.000,00

Samsung Galaxy S i9000 Rp5.200.000,00

Samsung OMNIA II 18000 Rp5.000.000,00

Samsung Propel Pro Rp5.100.000,00

Sony Ericsson XPERIA X10 Rp4.400.000,00

Sony Ericsson Xperia Pureness (x5) Rp3.500.000,00

Berminat?
Kirim email ke
kipgogreen@gmail.com