Laman

Selasa, 19 November 2019

Ambil Bibit Pohon Penghijauan GRATIS di Persemaian Bergas BPDASHL Pemali Jratun

Salam Hijau Bumiku, Sobat Hijau!

Kembali bersama saya Kris dari Galeri Lingkungan Hidup Ijo Lumut Cungkup Salatiga. Masih ingin menulis soal bibit, kemarin Senin, 18 November 2019 saya dan beberapa teman lintas relawan lingkungan hidup di Salatiga Raya mengambil bibit di Persemaian Bibit Bergas milik BPDASHL Pemali Jratun.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, BPDASHL itu singkatan dari apa. Jadi BPDASHL itu adalah singkatan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung yang merupakan perpanjangan tangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di setiap provinsinya.

Nah, singkat cerita, pada pengambilan bibit kemarin kami secara GRATIS boleh memperoleh
- 100 bibit Trembesi
- 250 bibit Mahoni
- 150 bibit Ketapang Kencana
- 50 bibit Indigofera
- 200 bibit Nangka
- 200 bibit Jambu Biji
- 50 bibit Bambu Petung
dari Pak Arbi yang menjadi Pelaksana Teknis Harian Pembibitan di sana


Pada postingan ini, saya ingin membagikan cara mendapatkan bibit pohon penghijauan dari sana
a. Mengajukan surat permohonan ditujukan kepada Kepala BPDASHL Pemali Jratun di Banyumanik Semarang
b. Melampirkan tembusan surat permohonan ke Persemaian Bibit yang dituju
(Jawa Tengah bagian Barat: Persemaian Brebes; bagian Utara: Persemaian Bangsri Jepara; bagian Tengah/ Selatan: Persemaian Bergas)
c. Mengisi formulir, buku pengambilan bibit (berikut ordinat rencana lokasi penanaman), dan menandatangani pakta integritas bahwa bibit yang diambil tidak akan diperjualbelikan, melainkan digunakan untuk gerakan penghijauan

SELESAI, bibit boleh diambil sesuai dengan persediaan bibit yang ada di persemaian.
Cukup mudah bukan? Ayo tanam pohon. Tanam lagi, lagi, dan lagi untuk keberlanjutan kehidupan di Planet Bumi

Salam Lestari!


Salatiga, 19 November 2019


ditulis dalam rangka memperingati Hari Pohon Sedunia 21 November 2019

Sabtu, 16 November 2019

Sarasehan di Rumah Bibit Salatiga Raya

Tahukah kalian sebuah tempat di Salatiga yang bernama Rumah Bibit?
Sebentar lagi kami relawan lingkungan lintas komunitas akan menggelar Sarasehan di Rumah Bibit,
berikut ini sedikit pengantar yang melatarbelakangi ide pengaktifan kembali Rumah Bibit di Salatiga:


Dulu, Kota Salatiga menjadi kota favoritnya orang-orang Hindia Belanda karena kesejukannya, iklimnya terasa mirip dengan iklim Negeri Belanda.

Hari Pohon 21 November menjadi sebuah hari yang ingin kita angkat, momentum untuk merefleksikan kontribusi apa yang telah kita buat dan bisa kita buat untuk "Mengembalikan Predikat Kota Salatiga menjadi Kota Terindah - De Schoonste Stad van Midden Java"

Salatiga identik dengan kata "sejuk" dan dengan keindahan "Pemandangan Gunung Merbabu" dari setiap sudut kotanya. Supaya tetap hijau dan lestari, gunung juga perlu ditanami karena sebagian besar pohon tidak bisa beregenerasi/ tumbuh dengan sendirinya.. 

Nah, apakah sekiranya adanya Rumah Bibit tidak menjadi kebutuhan untuk kita semua Warga Salatiga Raya? (Raya = Salatiga dan Kab. Semarang di sekitarnya)


Yuk, tidak usah saling tunjuk, tidak usah terjebak dengan masa lalu (belum bisa move on), karena Hari Pohon bukanlah sebuah hari untuk mengenang masa lalu, Hari Pohon adalah sebuah hari yang ditujukan untuk mempersiapkan masa depan, keberlanjutan kehidupan di Planet Bumi..

Ramaikan ya,
SARASEHAN di RUMAH BIBIT
Kamis, 21 November 2019
Pukul 19:30 - 22:00 WIB
Rumah Bibit Salatiga Raya: https://goo.gl/maps/HLy1pme9QJz6X4r26


Salam Hijau Bumiku, Salam Lestari Alamku, Salam Kemanusiaan,


#BanggaJadiRelawan

Senin, 11 November 2019

Menulis adalah Belajar Menjadi Seorang Influencer

Halo Sobat,
Motivasi untuk kembali menulis datang dari seorang yunior dalam blog-nya berikut

Usai mengikuti kegiatan, ia langsung menuliskannya supaya abadi. Si yunior ini tampak cukup konsisten dengan tulisannya sampai-sampai ia mendeskripsikan blog nya dengan kata "mengabadikan pengalaman perjalanan, sampai ia mati". 


Ya, saya kembali ingat akan tulisan yang saya buat waktu itu: http://kristantoirawanputra.blogspot.com/2018/08/menulis-adalah-suatu-bentuk-kagebunshin.html. Jadi, selama kurang lebih setahun bertapa di Lereng Gunung Myoboku (baca: Gunung Merbabu), saya merasa bahwa sudah ada beberapa hal yang dapat saya bagikan untuk orang lain, khususnya di bidang pendidikan lingkungan hidup dan transportasi. Izinkan saya untuk kembali berbagi tulisan di sini ya, mudah-mudahan berawal dari seorang ekstrovert, saya secara perlahan boleh belajar menjadi seorang influencer.

Salam Literasi, Salam Kreasi, dan Salam Transportasi!

Selasa, 22 Oktober 2019

MTi Salatiga Gelar Festival Transportasi Srawung Bareng Peduli Transportasi 2019



BisnisNews.id -- Komunitas Masyarakat Transportasi Salatiga (MTi – Salatiga) menggelar festival transportasi “Srawung Bareng Peduli Transportasi Salatiga” Sabtu, (19/10/2019).  Acara ini dimaksudkan untuk membangun budaya transpotasi yang baik, nyaman dan selamat di tengah kondisi lalu lintas Kota Salatiga yang makin ramai. Ditambah lagi dengan makin tingginya animo pelajar ke sekolah  naik sepeda motor sementara angkutan umum makin kurang populer khususnya di kalangan pelajar.

...

Artikel selengkapnya: http://bisnisnews.id/detail/berita/mti-salatiga--gelar-festival-transportasi-srawung-bareng-peduli-transportasi-2019

Jumat, 11 Oktober 2019

DAS Daerah Aliran Sungai di Salatiga yang bermuara di Danau Rawa Pening

Bersama Komunitas TUK dan LP3 Global Green Indonesia, saya mempelajari lebih dalam mengenai DAS, yang merupakan singkatan dari Daerah Aliran Sungai.

Sejauh yang saya tangkap, Danau Rawa Pening sebenarnya merupakan bagian dari DAS Tuntang, di mana danau tersebut dianggap sebagai hulu sungainya. Jadi, bicara soal DAS, Danau Rawa Pening itu bukan DAS, melainkan hanya Sub-DAS.

Sebenarnya ada 16 anak sungai yang bermuara di danau ini. Hanya saja, karena beberapa anak sungai sudah bertemu sebelum sampai ke Danau Rawa Pening, disebutkan bahwa aliran sungai yang masuk ke Rawa Pening hanya berasal dari 9 sungai.

Adapun kesembilan sungai tersebut sebagian besar terletak di Kabupaten Semarang dan sebagian kecilnya di Kota Salatiga. Benar, aliran sungai yang di Kota Salatiga asalnya adalah dari The Mighty Mount Merbabu alias Gunung Merbabu yang menjadi salah satu ikon Kota Salatiga ini.

Jadi, berikut ini adalah Kelurahan/ Kecamatan di Salatiga yang dilalui oleh aliran sungai yang akhirnya akan bermuara di Danau Rawa Pening
1. Kecamatan Argomulyo (Kelurahan Randuacir, Kumpulrejo, dan Tegalrejo)
2. Kecamatan Sidomukti (Kelurahan Mangunsari, Dukuh, dan Kecandran)
3. Kecamatan Sidorejo (Kelurahan Pulutan, Salatiga, Bugel, Sidorejo Lor, dan Blotongan)



So, total ada berapa kelurahan di Salatiga yang punya andil terhadap kelestarian air di Rawa Pening?
Jawabnya ada 11 kelurahan, yang terletak di 3 kecamatan di Kota Salatiga.

Siap beraksi untuk hijau bumiku dan lestari alamku di Salatiga Raya, khususnya di 11 kelurahan ini?
Yuk ikuti Festival Rawa Pening #2 yang diadakan bersamaan dengan Kongres Sampah Nasional di Kesongo, Tuntang, Kab. Semarang pada tanggal 12 - 13 Oktober 2019 ini.


Salatiga, 10 Oktober 2019


Kristanto Irawan Putra
Aktivis Lingkungan Hidup