Laman

Minggu, 25 Desember 2022

Boemisora - Tempat Wisata Alam Baru di dekat Salatiga

Boemisora merupakan sebuah tempat wisata alam baru yang terletak di Desa Polobogo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Dari Kota Salatiga, perjalanan ke Boemisora dengan kendaraan bermotor pribadi akan memakan waktu 30 menit (jarak 10 km). Untuk rutenya, situs googlemaps menyarankan rute Salib Putih kemudian belok kanan di daerah Sumogawe (cukup jauh, tetapi lebih familiar untuk Warga Salatiga). Bagi Warga Salatiga yang cukup mengenal daerah Kecandran, situs googlemaps menyarankan rute Tiong Ting Gamol yang lebih dekat (masih bisa dilalui mobil tetapi jalannya sempit).

Perjalanan ke Boemisora akan melewati rerumputan dan pepohonan di kanan kiri jalan, tetapi semua itu akan terbayarkan ketika Anda tiba di sana. Sesuatu banget pokoknya untuk jadi hadiah dan inspirasi Warga Salatiga dan sekitarnya dalam memahami konsep wisata.


KP, salah seorang pemuda yang juga terinspirasi dengan hadirnya Boemisora

Selasa, 29 November 2022

Transportasi: "Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia"

Pada tahun 1961, Bung Karno mengatakan kalimat ini dalam pidato beliau dalam rangka Hari Pahlawan. Saya meyakini dan semakin meyakini kebenaran dari kalimat ini setelah merefleksikan peran pemuda atau mahasiswa dalam pembangunan "kota satelit" di sebuah kota.


Ketika saya membandingkan pembangunan bidang angkutan umum di Kota Salatiga yang berpusat di daerah Tamansari, dengan pembangunan kawasan mahasiswa di daerah Kemiri, saya merasakan betul sebuah kekuatan dari pemuda/ mahasiswa. Walaupun Kota Salatiga terletak di segitiga emas Joglosemar (Jogja - Solo - Semarang), di mana ketiga kota tersebut telah memiliki sistem angkutan umum bus rapid transit (BRT), ternyata nyaris tidak ada aktor pemuda yang memperjuangkan sistem ini untuk juga dapat diadopsi oleh Salatiga. Sejak tahun 2000an Indonesia telah berhasil dijajah dengan era kendaraan bermotor roda dua yang ditandai dengan kemudahan pembelian sepeda motor secara kredit. Menurut pengamatan saya, relasi mahasiswa dengan sepeda motor menjadi lebih akrab dibandingkan dengan relasi mahasiswa dengan angkutan umum. Angkutan umum adalah angkutannya anak sekolah dan ibu-ibu, yang mungkin karena keterbatasannya  - belum/ tidak bisa mengendarai sepeda motor - tidak mempunyai pilihan lain selain naik angkutan umum. Karena nyaris tidak ada aktor pemuda yang memperjuangkan peningkatan layanan dan kapasitas angkutan umum, pembangunan postmodernisme di bidang transportasi yang pro-rakyat dan pro-lingkungan tadi ternyata menjadi sangat minim. Di Salatiga hal ini juga diperparah dengan kurangnya peran akademisi/ kampus - kampus di Salatiga - sebagai tempat berkumpulnya pemuda - yang sampai saat ini belum mempunyai jurusan kuliah Teknik Sipil dan Lingkungan ataupun Perencanaan Wilayah dan Kota


Di sisi lain, perjuangan peningkatan layanan dan kapasitas di kawasan mahasiswa yang sebagian besar berpusat di daerah Kemiri tadi ternyata menuai sukses. Dalam 5 tahun terakhir ini daerah Kemiri disulap tidak hanya menjadi daerah kos-kosan elit, tetapi juga menjadi daerah yang menawarkan banyak pilihan restoran, cafe, dan tempat nongkrong postmodern bagi Warga Salatiga. Pengaruh postmo di daerah ini telah melahirkan sebuah identitas baru untuk Kota Salatiga. Salatiga yang semula hampir semua aktivitas ekonominya sudah tutup pada pukul 20 malam, kini memiliki "daerah satelit" Kemiri yang aktivitasnya bisa mencapai pukul 22 malam, bahkan hingga pukul 24 malam. Masakan soto di warung yang semula hanya bisa didapatkan sampai dengan pukul 15 sore, kini di daerah mahasiswa ini juga bisa didapatkan hingga pukul 24 malam. Para pemuda itu telah mengguncangkan dunia Salatiga dengan pembangunan-pembangunan postmodernisme, yang dalam hal ini pro-rakyat (pro-pemuda).


Ketika hipotesis ini saya uji kembali di kawasan sebagian besar mahasiswa Semarang - daerah Banyumanik/ Tembalang -  ternyata saya juga mendapatkan hasil pengamatan yang serupa. Daerah ini benar-benar menjadi sebuah kota satelit baru bagi Kota Semarang. Sebuah kota satelit yang ditanami tiang-tiang beton menjulang tinggi (bukan tanaman dan pepohonan), pijaran lampu-lampu cafe yang berpendar memenuhi pemandangan kiri kanan jalan di malam hari (bukan kesederhanaan dan penghematan energi), dan kemacetan lalu lintas yang ada (penuh kendaraan bermotor pribadi, bukan sebuah transportasi yang berkelanjutan), secara nyata dan meyakinkan telah mengguncang dunia Kota Semarang. Kini, Kota Semarang tidak hanya dikenal sebagai kota perdagangan dengan kawasan Simpang Lima nya, atau kota klasik dengan kawasan Kota Lamanya, atau kawasan banjir dan rob dengan Tanah Mas/ Tambak Lorok nya, tetapi secara cepat benar-benar mempunyai identitas lain berkat peran pemuda. Sayang, kemacetan lalu lintas di daerah Banyumanik/ Tembalang ini pun menjadi sebuah gambaran belum terlihatnya peran pemuda yang bergerak untuk memperjuangkan pembangunan postmodernisme di bidang angkutan umum. Mungkin, tantangan topografi Banyumanik - Tembalang menjadi sebuah faktor penghambat pembangunan angkutan umum, tetapi mungkin saja relasi dialektis (dan trialektis?) antara pemuda dan sepeda motor sudah sedemikian intens, sehingga pintu perubahan moda transportasi ke transportasi yang berkelanjutan kian hari kian menjadi sempit.


Pertanyaannya, siapakah yang telah menjadi Bung Karno bagi "pemuda-pemuda sepeda motor" ini? Siapakah pihak yang paling diuntungkan dengan adanya pemuda-pemuda yang membangun kota satelit menjadi kota seperti hari ini? Dan seberapa siapkah kita sebagai kaum akademisi dan praktisi, untuk bersaing berebut pengaruh ke pemuda-pemuda ini, agar pembangunan di sebuah lingkungan perkotaan dapat semakin mengarah pada sebuah pembangunan kota dengan transportasi yang berkelanjutan?


KP, 2022.

Tulisan ini merupakan salah satu tugas kuliah penulis. Semoga bisa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui: dulu penulis sempat menjadi seorang pegiat angkutan umum dan pada bulan Desember 2022 nanti berencana untuk comeback

Minggu, 06 November 2022

Kebelanjutan dalam Menulis

Achtung, Achtung..!

Keberlanjutan dalam menulis sedang dipertanyakan. Terakhir kali menulis di blog berlangsung pada bulan September 2021. Bisakah aku kembali mencoba membuat tulisan? Menuangkan ide menata pikiran, dan supaya detail dari ingatan itu tidak hilang.

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan”
- TM, Penulis Buku Madilog -


- KP, (ke)Banyak(an) Identitas dan belum menulis buku :( -

Sabtu, 11 September 2021

Gerakan Eco Enzyme Salatiga 3.333 liter

 Salatiga punya dong Gerakan Eco Enzyme..!


Di postingan kali ini saya mencoba Sejarah Masuknya & Penyebaran Ilmu Eco Enzyme di Salatiga


Agustus, 2020 -- Diperkenalkan oleh Kak Yessica dari Bank Sampah Gelima Tegalrejo

Oktober 3, 2020 -- Belajar Eco Enzyme bersama Kak Yessica di Basecamp Gestimba Karangalit

Oktober 15, 2020 -- Sesi Pembelajaran Eco Enzyme untuk Anak Sekolah, melalui Online Classroom Hopekids x Ijo Lumut

November 15, 2020 -- Launching Instagram Eco Enzyme Nusantara (EEN) Kota Salatiga

Maret 2, 2021 -- Pelatihan Eco Enzyme, diinisiasi oleh Bank Sampah Kecamatan Tingkir Salatiga

Maret 18, 2021 -- Kelas Online dari WhatsApp Group I oleh EEN Kota Salatiga

Maret 22, 2021 -- Launching Gerakan Eco Enzyme di Instagram Ijo Lumut Salatiga

Juni 5, 2021 -- Launching Bank Eco Enzyme Nusantara di Kota Salatiga

Juni 19, 2021 -- Penyemprotan Desinfektan dari Eco Enzyme di SMA Kristen 1 Salatiga

September 4, 2021 -- Workshop Eco Enzyme di Gereja Paulus Miki Salatiga dalam rangka #SeasonOfCreation


hingga akhirnya kami akan siramkan Eco Enzyme yang sudah terkumpul saat ini di Sungai Kauman Kidul..

September 19, 2021 -- Penyiraman Eco Enzyme ke Sungai untuk Memulihkan Ekosistem, dalam rangka World Clean-up Day WCD Salatiga 2021


Ada kegiatan yang terlewat? Ada yang mau menambahkan??

Salam Eco Enzyme, mari jaga Bumi dengan cara yang sederhana, dimulai dengan mengolah sampah kita menjadi cairan pembersih ajaib ini..!

Rabu, 21 Oktober 2020

Pameran Tanaman Sayur di SPP Qaryah Thayyibah Salatiga

PRESS RELEASE

“Pameran Tanaman Sayur” di SPP Qaryah Thayyibah Kalibening, Salatiga

Sabtu, 17 Oktober 2020

Bertempat di Kantor Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) di Kalibening, 5 (lima) komunitas berkumpul berjejaring sambil memamerkan tanaman-tanaman sayur mereka. Adapun kelima komunitas berikut komoditas yang dibawanya adalah sebagai berikut

1. SPPQT dengan rak tanaman dari bambu

2. Rumah Bibit dengan benih dan bibit sayurnya

3. Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Salatiga dengan tanaman-tanaman sayurnya

4. Yayasan Sion Salatiga dengan tanaman sayurnya

5. Gerakan Stop Timbun Barang (Gestimba) dengan bibit, waluh, dan Kopi Muncar nya

Kegiatan Pameran Tanaman Sayur ini diadakan pada tanggal 17 Oktober 2020, dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia sehari sebelumnya.


                Kegiatan pameran tatap muka ini diadakan secara terbatas, baik panitia maupun pesertanya hanya berasal dari 5 komunitas. Kegiatan yang dilaksanakan di ruang terbuka dengan protokol kesehatan ini sejatinya sudah dimulai pada hari Jumat. Tim panitia mengangkut tanaman-tanaman sayur dari peserta, khususnya dari ibu-ibu yang tergabung dalam Balai Perempuan (BP) KPI. Ada 4 BP yang berpartisipasi dalam pameran kali ini, yaitu BP Noborejo, BP Sidorejo Kidul, BP Kutowinangun Lor, dan BP Mangunsari...

(bersambung)