Jadi guys, jadi vendor sedotan stainless itu ternyata nggak mudah. Mengubah mindset masyarakat memang terbukti tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Di otak gue, udah jelaslah kita harus diet plastik, khususnya sedotan plastik. Tapi di kacamata masyarakat umum, lah ngapain harus pakai diet-diet segala. Penting nikmat dan murah..
Tapi gue belum menyerah. Gue akan terus jualan, karena hidup itu memang harus selalu yang berkobar-kobar: Dibeli ya guys..
http://bit.ly/sedotanstainlessmurahsalatiga
#love #instagood #photooftheday #sedotainstainlessmurah #sedotanstainlesssalatiga #sedotanstainless #sedotanplastik #ijolumutsalatiga
"Waktu 1 detik yang barusan lewat itu aja udah jadi masa lalu lho. Kita hidup untuk masa sekarang, yuk yuk kita perjuangkan!" - KIP -
Kamis, 14 Februari 2019
Senin, 21 Januari 2019
Jejak Etnis Cina/ Tionghoa di Salatiga (1740 - 1925)
Waktu setahun itu ternyata berlalu begitu cepat. Rekam jejak digital menunjukkan bahwa saya pernah menjadi kontributor artikel mengenai jejak etnis Cina ini di Blog TBM Citra Raya: http://tbm-citraraya.blogspot.com/2018/04/istana-djoen-eng-di-salatiga-sekarang.html pada tanggal 5 April 2018.
.. dan pada tanggal 21 Januari 2019 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk bercerita, membuat bunyi dari tulisan-tulisan hasil karya Pak Eddy Supangkat (Istana Djoen Eng & New Galeria Salatiga) dan Mas Abel Jatayu (Diskriminasi Rasial di Tanah Kolonial) di dalam buku-bukunya.
Di depan 4 orang mahasiswi pertukaran dari Australia, saya bersama Mbak Ambar mencoba memberikan literasi kebhinekaan, cagar budaya, dan sejarah yang ada di Kota Salatiga ini. Mbak Ambar memulai pemaparan dengan memberikan pengantar mengenai pluralisme yang ada di kota yang terletak di lereng Gunung Merbabu ini. Selanjutnya, saya menyampaikan kronologi kedatangan etnis Cina di Salatiga, yang berdasarkan literatur yang ada saat ini, dimulai secara masif pada saat terjadi Tragedi Angke/ Geger Pecinan pada bulan Oktober 1740. Keputusan etnis Cina perantau dari Batavia untuk tinggal menetap di Salatiga setelah tragedi itu tak lepas dari sosok kepemimpinan Raden Mas Said/ Pangeran Sambernyawa dari Kerajaan Mataram pada waktu itu, yang secara gigih mau membela rakyat berperang melawan Kompeni di daerah Jawa Tengah.
Singkat cerita, keputusan etnis Cina untuk menetap di Salatiga ini telah mampu menarik orang-orang Belanda untuk bermukim di sini, hingga pada suatu ketika ada 2 tokoh nasional/ internasional beretnis Cina yang berkenan membangun rumah, bahkan istana yang megah di kota kecil ini. Ya, tokoh yang pertama bernama Oei Tiong Ham, orang Semarang yang dijuluki Raja Gula dari Asia dan tokoh yang kedua bernama Kwik Djoen Eng, orang Taiwan yang telah meninggalkan bangunan cagar budaya berarsitektur Cina termegah di Jalan Diponegoro Salatiga (dulu Tuntangsche Weg, ruas jalan yang di-plot untuk kawasan permukiman orang-orang Eropa).
Bagaimana mungkin seorang Cina diperbolehkan membangun "Istana Cina" di ruas jalan orang Eropa? Tidak tanggung-tanggung, istana milik perseorangan ini luasnya mencapai 1% dari total luas wilayah Salatiga dan menghabiskan biaya pembangunan senilai 3 juta gulden (setara Rp 24 miliar)! Bagi saya pribadi, hal ini telah menunjukkan seberapa digdayanya sosok Djoen Eng, seberapa ulet dan mumpuninya kemampuan yang dimiliki untuk melobi Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Sangat disayangkan, istana dengan 5 kubah ini hanya boleh ditinggalinya selama 5 tahun. Krisis ekonomi yang melanda saat itu mengharuskan istana yang satu ini disita oleh De Javasche Bank untuk membayar utang-utang Djoen Eng. Saat ini Istana Djoen Eng ini menjadi Rumah Khalwat Roncalli, sebuah tempat penyegaran jiwa untuk komunitas Katolik yang dikelola oleh Bruderan FIC.
Bagaimana mungkin seorang Cina diperbolehkan membangun "Istana Cina" di ruas jalan orang Eropa? Tidak tanggung-tanggung, istana milik perseorangan ini luasnya mencapai 1% dari total luas wilayah Salatiga dan menghabiskan biaya pembangunan senilai 3 juta gulden (setara Rp 24 miliar)! Bagi saya pribadi, hal ini telah menunjukkan seberapa digdayanya sosok Djoen Eng, seberapa ulet dan mumpuninya kemampuan yang dimiliki untuk melobi Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Sangat disayangkan, istana dengan 5 kubah ini hanya boleh ditinggalinya selama 5 tahun. Krisis ekonomi yang melanda saat itu mengharuskan istana yang satu ini disita oleh De Javasche Bank untuk membayar utang-utang Djoen Eng. Saat ini Istana Djoen Eng ini menjadi Rumah Khalwat Roncalli, sebuah tempat penyegaran jiwa untuk komunitas Katolik yang dikelola oleh Bruderan FIC.
Beberapa pesan yang ingin saya tinggalkan melalui tulisan ini adalah
1) Seberapa terpuruknya kita saat ini, kalau kita mau giat berusaha, segala sesuatu yang baik bisa terjadi. Geger Pecinan tahun 1740 yang menewaskan 10.000 orang Cina mestinya membuat orang Cina down. Tapi lihat, apa yang bisa dilakukan oleh Oei Tiong Ham dan Kwik Djoen Eng ini..!
2) Pluralisme di Indonesia itu memang sudah ada sejak dulu kala. Tidak akan ada Indonesia tahun 2019 ini kalau di abad ke-18 dan ke-19 itu orang Indonesia sibuk bertikai satu dengan yang lain mengurusi persoalan perbedaan. Jadi, belajar sejarah itu ternyata penting supaya kita tahu kesalahan apa yang dilakukan leluhur kita di masa lalu dan hal apa yang harus kita lakukan di masa mendatang untuk lebih maju.
Selain Istana Djoen Eng, jejak Tionghoa di Salatiga lainnya bisa dibaca di artikel berikut: https://percik.or.id/2018/11/09/jalan-jalan-yuk-mengenal-bangunan-bersejarah-kota-salatiga/
Terima kasih, Sobat Muda! Terima kasih, literasi!!
Salatiga, 21 Januari 2019
der gruene Baum
Jumat, 18 Januari 2019
Sebuah Refleksi di TBM Lama
Sampai dengan detik yang lalu aku masih berpikir bahwa
"Muda itu Kesempatan Berkarya",
tapi ketika aku mendalami dunia kerelawanan dan mengenal sosok-sosok seperti Bu Dwi Rohyatiningsih dan Kang Nurul Ilmi, mindset itu berubah. "Berkarya itu ternyata benar-benar bukan soal usia, melainkan soal nilai yang kita perjuangkan dalam hidup ini"
Kamu kerja di mana, kamu naik mobil apa, posisimu apa, gajimu berapa. Ini semua adalah "harga" yang ditawarkan oleh dunia zaman now.
Sementara "nilai" adalah semangat, kesetiakawanan, komitmen, visi, dan empati..
.. yang seringkali kini hilang tergerus oleh arus perubahan zaman
TBM Citra Raya Lama, 18 Januari 2019
Rabu, 05 Desember 2018
Menjadi Notulis dalam Konferensi Kepala Sekolah Mitra Goethe-Institut se-Indonesia
Menjadi Protokollant/ notulis?
Amanat yang dipercayakan PASCH-Team kepada saya ini saya kerjakan dengan sebaik-baiknya. Mencatat detail peristiwa dan menuliskannya kembali untuk mengabadikannya, hal ini sesuai dengan filosofi dari Om Pram, "Menulis adalah bekerja untuk keabadian".
Selamat membaca penggalan notula ini, mudah-mudahan hasilnya cukup berkenan ya!
***
...
Kegiatan yang
dilaksanakan di Ruang Mezzanine ini dibuka jam 09:13 oleh Larissa. Larissa
membuka kegiatan pertemuan kepala sekolah mitra ini dalam bahasa Indonesia,
menyampaikan selamat datang. Larissa kemudian memperkenalkan wajah baru di tim
PASCH, kemudian Herr Ade pun naik ke
panggung untuk memperkenalkan dirinya.
Herr Ade menceritakan
bahwa dirinya baru bergabung sekitar 7 bulan, nantinya diplot untuk menggantikan
Frau Ekadewi yang sudahmulai memasuki
usia pensiun. Herr Ade mempunyai nama Jerman Schuetz karena istrinya merupakan orang
Jerman.
Tak lupa, Larissa
kemudian memperkenalkan timnya yang lain yaitu Frau Neza, Frau Rasti, Tim Fedke
dan Lisa Rubin. Adapun kedua nama terakhir merupakan Praktikant di
Goethe-Institut yang diperbantukan di tim PASCH. Karena sedang dinas luar,
Larissa juga menyampaikan permohonan maaf dari Lisa Rubin karena tidak bisa
ikut bergabung di acara ini. Sambil bercanda Larissa menyampaikan di akhir
sambutannya, "Demikian sambutan dari saya dnengan bahasa yang
membingungkan, selanjutnya saya serahkan acara kepada Herr Ade".
PASCH sudah berusia 10 tahun, sejak dicetuskan
pertama di tahun 2008 lalu. Herr Ade melakukan Ice-Breaking dengan menanyakan,
"Adakah di antara peserta di sini yang sudah 10x mengikuti kegiatan?".
Beberapa peserta saling melihat satu dengan lainnya, sepertinya tidak ada. Justru
ketika Herr Ade melempar pertanyaan, "Siapa baru pertama kali ikut
kegiatan ini?" ternyata tidak sedikit yang mengacungkan jari.
Herr Ade pun kemudian
mempersilakan kepada Frau Sonja Stoll dari Kepala Bagian Bahasa Goethe Institut
untuk kawasan SAN (Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru) untuk
menyampaikan sambutannya. Frau Stoll kemudian menyampaikan sambutannya dalam
bahasa Inggris, menimbang hampir semua kepala sekolah mitra tidak bisa
berbahasa Jerman. Dalam sambutannya, Frau Stoll menyampaikan bahwa kegiatan ini
bagus untuk pelestarian bahasa asing, termasuk dalam rangka menjadi solusi bagi
permasalahan Jerman, dan juga untuk mindset dan kesempatan anak muda untuk
menyiapkan masa depan globalisasi. Di kesempatan ini Frau Stoll juga
mengucapkan selamat datang kepada sekolah ke-29 PASCH di Indonesia, yaitu SMA
Katolik Frateran Maumere. Di akhir sambutannya, Frau Stoll menyatakan sangat
antusias dengan acara Gala Dinner Kedutaan Jerman dengan para kepala sekolah
pada hari Jumat dan seperti rutin setiap tahunnya - pembaharuan MoU antara
sekolah dengan Goethe Institut pada hari Sabtu.
Sambutan-sambutan pun
telah disampaikan. Herr Ade kembali menjadi MC dan menyebutan susunan acara
dalam Kegiatan Konferensi Kepala Sekolah Mitra (PASCH) tahun 2018 ini. Kerja
sama dengan PASCH ini memang suatu hal yang eksklusif karena hanya dijalin dengan
29 sekolah mitra se-Indonesia (jumlahnya tetap, sulit untuk bertambah). Di
kegiatan konferensi ini, selama 3 hari ke depan kita akan melakukan evaluasi
terhadap kegiatan PASCH yang sudah terlaksana di tahun 2018 dan merencanakan
kegiatan untuk tahun 2019. Selain itu, juga akan ada acara resepsi dengan pihak
kedutaan seperti yang sudah disampaikan oleh Frau Stoll, pameran marketplace
program-program dengan partner PASCH yang bisa menunjang siswa/ alumni sekolah,
maupun seminar dari Kementerian Pendidikan.
Herr Ade segera menyebutkan
daftar kegiatan yang sudah dilaksanakan di tahun 2018, yang sudah dihimpun
bersama dengan para koordinator guru Bahasa
Jerman, di antaranya Winter - Jugendkurs dan Sommer - Jugendkurs,
program Ujian Level Bahasa Jerman Fit in Deutsch, termasuk bagaimana Goethe
juga membantu menyiapkan siswa di level B1 dan B2, baik menggunakan kelas
online maupun kelas tatap muka, termasuk menyiapkan beasiswa untuk siswa-siswi
yang mendapatkan nilai tertinggi saat ujian.
Kegiatan lain yang sudah
terlaksana adalah Lomba PASCH-net, di mana siswa SMAN1 Matauli Pandan berhasil
memenangkannya dan mendapatkan paket buku, tablet (komputer), kamera, dan
beasiswa parsial di Jerman. Disebutkan pula bahwa sudah terlaksana keigiatan
Workshop Digital Literacy untuk melawan hoax yang salah satu pembicaranya
adalah Anja van Kampen. Begitu juga dengan kegiatan Bengkel Teater di Bali yang
melibatkan siswa dari Australia dan Indonesia.
Kegiatan PASCH untuk
guru, PASCH menyediakan kursus, pemberangkatan ke Jerman dan pelatihan, seminar
tentang NAZI, dan proyek buku ajar. PASCH juga tak lupa memberikan pelatihan
metode mengajar Bahasa Jerman tingkat kawasan SAN kepada 15 guru dengan level
bahasa B2.
Untuk kepala sekolah,
PASCH di tahun 2018 tak lupa memberikan konferensi Language Open Door
Perspective with German yang dihadiri oleh 15 kepala sekolah se-Indonesia dan
penyelenggaraan kegiatan yang sedang berlangsung ini pun, ditujukan untuk
kepala sekolah.
Tak hanya berhenti
sampai di level institusi sekolah, PASCH pun juga masih mengurusi para
alumninya. Yang disebut sebagai alumni di sini adalah seluruh siswa yang lulus
dari sekolah mitranya. Tercatat ada 4 beasiswa yang diberikan di Studienkolleg
Indonesia, penyelenggaraan Webinar terkait kerja di Jerman, bagaimana cara
mendaftar kerja praktek, dan lamaran kerja. Termasuk pendampingan beberapa
program yang sudah berjalan seperti Paschiert dan Road to School.
Nah, PASCH sudah
diperkenalkan. Kini saatnya anggota baru sekolah mitra untuk diperkenalkan.
Secara khusus, PASCH-team memberikan kesempatan kepada Pak Arnold dari SMA
Katolik Frateran Maumere untuk memperkenalkan diri.
Selanjutnya, dengan
metode khas Jerman-nya, PASCH-team pun meminta masing-masing sekolah yan ghadir
untuk memberikan perkenalan singkat sekolahnya dengan alat peraga sebuah poster
yang membutuhkan isian: Nama kepala sekolah, nama sekolah, salah satu proyek
PASCH yang paling sukses di tahun 2018 (berikut foto-fotonya), dan deskripsi
singkat mengenai sekolah/ proyek PASCH tersebut. Diberikan waktu sekitar 45
menit bagi para koordinator dan kepala sekolah untuk menyiapkan presentasi
perkenalan tersebut
...
***
Sungguh
beruntung saya boleh menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam
kegiatan Konferensi Kepala Sekolah Mitra Goethe-Institut se-Indonesia
ini!
Salatiga, 5 Desember 2018
Kristanto Irawan Putra
-->
Senin, 05 November 2018
Science Film Festival Goethe Institut 2018 di SMA Taruna Nusantara Magelang
Das war typisch Deutsch!
Foto Keluarga Besar Panitia/ Tim Bahasa Jerman SMA TN dengan Tim Science Film Festival/ Goethe Institut
Science Film Festival @sciencefilmfest
pertama yang boleh kuikuti di almamater tercinta. Film serial Anna und
die wilden Tiere kali ini membahas mengenai Sekolah Orangutan di
Pedalaman Sumatra. Film yang amat cocok untuk membius ratusan pasang
mata yang datang ke Ruang Baca Perpustakaan (RBP) SMA TN pagi ini! ..
dan kejutan tidak hanya berhenti di situ. Kak Ayu dan Kak Dea
Universitas Paramadina yang menjadi volunteer SFF kali ini ternyata
telah menyiapkan kuis/ simulasi/ game seru untuk mengedukasi para
penonton setelah pemutaran film. Ini.. Metode Kultur Orang Jerman sekali
lho, pernah aku pelajari dan amalkan secara mendalam ketika aktif di
STUBE-BW. Terima kasih, @goetheinstitut_indonesien!
..
Tim SFF/ GI tidak hanya melalukan pemutaran film, tetapi juga membahas dan mendiskusikannya secara kreatif. Supeeer!
Dan di luar SFF, Angin kembara yang membawaku ke kampus biru SMA
Taruna Nusantara yang terletak di Dsn. Pirikan, Desa Banyurojo, Kec.
Mertoyudan, Kab. Magelang hari ini telah berhasil mengajarkanku banyak
hal
1. Wanita memang susah dimengerti
2. Berada di belakang truk besar bermuatan tinggi ternyata beresiko. Kaca Dek Sigra remuk kejatuhan dahan.. (percayalah, ini hanya akan terjadi di Jawa Tengah)
3. Bisa pas ketemu rekan kerja Tangerang di lampu merah Magelang
4. Diminta berhenti diam di tempat karena sedang menaikkan bendera
5. Sistem hirarki kelihatan dan tidak kelihatan yang membuat acara ngaret hari ini
6. Aura merinding mengikuti acara protokoler dengan laporan siswa
7. Bertemu dengan Dante, Suci, dan Dedek Diki dan berdiskusi ala anak TN (padahal ya baru ketemu setelah pulang dari Jerman kali ini..)
8. Memberikan pujian di buku saku adek .. Oh iya, dan 1 alasan kuat kenapa aku minggu depan musti main ke Solo: rupa-rupanya ada seorang pamong visioner yang dengannya aku bisa menimba ilmu di sana.
Gott sei Dank, kepingan2 puzzle yang aku temui di sepanjang perjalanan hidupku ini tampaknya sudah mulai aku temukan wujud gambar aslinya: OSN, negara Jerman, Ikastara 49, PASCH/ sekolah mitra, Goethe-Institut, dan SMA Taruna Nusantara!
#deardiary #logbook #catatanperjalanan #sciencefilmfestival #goetheinstitut #ikastara #typischdeutsch #relawanpendidikan
1. Wanita memang susah dimengerti
2. Berada di belakang truk besar bermuatan tinggi ternyata beresiko. Kaca Dek Sigra remuk kejatuhan dahan.. (percayalah, ini hanya akan terjadi di Jawa Tengah)
3. Bisa pas ketemu rekan kerja Tangerang di lampu merah Magelang
4. Diminta berhenti diam di tempat karena sedang menaikkan bendera
5. Sistem hirarki kelihatan dan tidak kelihatan yang membuat acara ngaret hari ini
6. Aura merinding mengikuti acara protokoler dengan laporan siswa
7. Bertemu dengan Dante, Suci, dan Dedek Diki dan berdiskusi ala anak TN (padahal ya baru ketemu setelah pulang dari Jerman kali ini..)
8. Memberikan pujian di buku saku adek .. Oh iya, dan 1 alasan kuat kenapa aku minggu depan musti main ke Solo: rupa-rupanya ada seorang pamong visioner yang dengannya aku bisa menimba ilmu di sana.
Gott sei Dank, kepingan2 puzzle yang aku temui di sepanjang perjalanan hidupku ini tampaknya sudah mulai aku temukan wujud gambar aslinya: OSN, negara Jerman, Ikastara 49, PASCH/ sekolah mitra, Goethe-Institut, dan SMA Taruna Nusantara!
#deardiary #logbook #catatanperjalanan #sciencefilmfestival #goetheinstitut #ikastara #typischdeutsch #relawanpendidikan
Langganan:
Komentar (Atom)







