Laman

Kamis, 17 Maret 2016

Transportasi? Shuttle Citra Raya ke Supermal Lippo Karawaci dan Lainnya

Perum Citra Raya yang terletak di Jalan Raya Tangerang - Serang ini ternyata memiliki berbagai kemudahan dalam bertransportasi. Dari gerbang luar Citra Raya (yang desainnya mirip dengan Brandenburger Tor), kamu bisa mengambil bus ke barat dengan tujuan Merak dan timur dengan tujuan Jakarta hingga Bekasi. Angkot pun berlimpah ruah dengan tujuan ke Cimone.

Bagi kamu yang ingin pergi ke Supermal Lippo Karawaci, Citra Raya bekerja sama dengan KJU mengadakan shuttle elf ke sana setiap 1 jam sekali, bahkan 30 menit sekali pada jam sibuk. Jam operasionalnya dari jam 6 - 21. Dengan tarif Rp 10.000, kamu sudah terhubung dengan sebuah mal yang cukup lengkap dan telah menghidupi warga Kabupaten Tangerang ini. Dari Mal Karawaci misalnya, tersedia shuttle Damri Bandara dengan tarif Rp 50.000 dengan waktu tempuh 1,5 jam.

Tidak hanya Mal Karawaci, Citra Raya juga mengadakan shuttle ke Mal milik Ciputra Group di Jakarta, yakni Mal Ciputra (Citraland). Shuttle bus berukuran sedang ini berangkat dengan frekuensi yang cukup sering setiap harinya. Berapa tarifnya? Tidak mahal, hanya Rp 15.000 saja kamu sudah bisa sampai Jakarta dan berhenti di samping Mal Ciputra.

Yang lebih menghebohkan lagi, tujuan dari shuttle bus ini ke Jakarta juga tidak hanya Mal Ciputra, melainkan juga ke Tanah Abang, Mangga Dua, Stasiun Gambir, dan Blok M. Tarifnya? Shuttle Citra Raya tetap memberlakukan tarif yang sama, yakni Rp 15.000 saja. Waktu tempuh menuju ke sana variatif, sekitar 1,5 - 2 jam (tergantung kondisi jalan).

Daaan, ternyata itu belum semua fitur transportasi di Citra Raya. Citra Raya masih menyediakan shuttle dengan tujuan-tujuan lainnya. Sooo, masih belum yakin buat tinggal di sini? Punya kendaraan maupun tidak punya kendaraan, semua orang bisa jalan-jalan di akhir pekan :D

Sabtu, 12 Maret 2016

Fasilitas Pusat Perbelanjaan di Citra Raya

Cita-cita Citra Raya menjadi sebuah kota mandiri telah terwujud. Di bundaran 1 Citra Raya ada pusat perbelanjaan Giant, ACE Hardware, dan Informa. Belum lengkap? Di bundaran 2 ada Alfamidi dan Superindo. Terlalu modern? Di sepanjang boulevard Citra Raya telah ramai ruko-ruko yang menjual berbagai macam barang kebutuhan dari bahan luar bangunan hingga dalam bangunan macam alat tulis.

Lalu soal makanan?
Di bundaran 1 ada Ciffest - Citra Raya Food Festival - di antaranya diisi oleh gerai Pizza Hut dan KFC.
Di bundaran 3 ada Mardigras, yang diisi oleh gerai-gerai food court yang mengelilingi sebuah panggung musik dan hiburan.

Soo, sudah setuju kalau Citra Raya sudah menjadi kota mandiri?

Jumat, 11 Maret 2016

Welcome Citra Raya!

Hari ini tepat sebulan aku merantau ke Tangerang. Aku terbang dengan Batik Air, dijemput oleh Bu Eni, mampir ke UPH untuk menjemput Bu Harmi, dan bersama Bu Erni mengunjungi kos di Citra Raya.

Awalnya aku sempat menolak untuk tinggal di Citra Raya karena jauh dari kos teman-temanku yang lain (Mbak Ayu dkk rombongan UGM) dan uang kos yang tidak murah. Tapi akhirnya aku berpikir, "ya udahlah, buat tinggal sementara dulu".

Dan sekarang setelah sebulan aku tinggal di sini, aku semakin mantap untuk menerima Citra Raya sebagai bagian dari cerita hidupku di Tangerang. Hal ini tak lepas dari suasana kekeluargaan di rumah tempat aku kos ini dan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh perumahan yang dikembangkan oleh Ciputra ini. Mau tahu apa aja fasilitasnya? Banyaaak, aku malah sekarang sangat menyarankan kalian untuk tinggal di Citra Raya. Tunggu tulisan-tulisanku berikutnya ya..!

Rabu, 10 Februari 2016

Lokakarya "Air Kita Masa Depan Kita" di UKSW, 9 Februari 2016


UKSW Salatiga - Puluhan mahasiswa UKSW dan karang taruna Rowoboni, Banyubiru mengikuti lokakarya lingkungan hidup "Air Kita Masa Depan Kita" kemarin (Selasa, 09/02/2016).  Selain materi dari akademisi dan praktisi, lokakarya ini juga dimeriahkan oleh pelaku seni.

"Ketika ilmu akademisi dikolaborasikan dengan seni", itulah konsep yang digagas oleh TUK - Komunitas Tanam Untuk Kehidupan, sebuah komunitas lingkungan hidup yang secara rutin menyelenggarakan Festival Mata Air untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti penting mata air bagi kehidupan. Adapun lokakarya ini merupakan hasil kolaborasi TUK dengan Fakultas Biologi UKSW (FB UKSW) dalam rangkaian kegiatan Festival Mata Air tahun ini.

Napas seni sudah dapat dirasakan oleh peserta lokakarya sejak dimulainya acara. Buyung Mentari sukses mengguncang seisi ruangan dengan pembacaan puisinya yang berjudul "Mata air ada, kita juga ada, untuk saling menjaga". Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian sambutan dari TUK yang disampaikan oleh Dody Pratisto. Dody berharap lokakarya ini dapat membantu mengatasi permasalahan sampah di Muncul, Banyubiru melalui pengenalan konsep Bank Sampah. "Banyak sekali ditemukan sampah di sungai-sungai Muncul pada kegiatan bersih sungai 24 Januari lalu", sebut Dody. Selanjutnya, Sucahyo, selaku Kaprodi Biologi FB UKSW menyampaikan dalam sambutannya bahwa mahasiswa/i Biologi pun telah bergerak dan memang harus terlibat dalam kegiatan-kegiatan lingkungan hidup.

Usai sambutan, acara lokakarya ini dilanjutkan dengan pementasan teater gabungan Postma dari STIE AMA dan Getar  dari IAIN Salatiga. Cerita yang diusung oleh teater ini mengilustrasikan bagaimana manusia dengan mudahnya membuang sampah di sungai. Para penonton begitu terkesima melihat aksi si air dan si sampah yang diperankan langsung oleh para pemeran teater. Manusia memang seringkali khilaf, selalu menyalahkan sungai yang kotor dengan sampah tanpa menyadari bahwa ialah yang bertanggung jawab terhadap semuanya itu.

Materi lokakarya pertama yang disampaikan oleh Sucahyo mempertegas itu semua. "Sungai sebenarnya berfungsi untuk mencegah banjir, tetapi manusia seringkali beranggapan bahwa sungai yang meluaplah yang menyebabkan banjir", ujar Sucahyo. Sungai oleh masyarakat Indonesia memang masih dipandang sebagai salah  satu tempat yang "efektif" untuk pembuangan sampah. Beliau menuturkan hal ini terjadi karena masyarakat mempunyai paradigma bahwa sampah itu tidak bernilai dan harus cepat-cepat dibuang. "Sesudah dibuang di sungai, sampah akan dialirkan sampai jauh hingga tak terlihat lagi oleh mata pembuangnya, efektif  bukan?", kata Sucahyo menjelaskan.


 
Sesi tanya jawab pun berlangsung seru. Penanya dari berbagai latar belakang bertanya dalam kesempatan ini, ada Agus dari bagian DPU Kab. Semarang, Herman dari Fakultas Teologi UKSW, dan Lusi, dosen dari FB UKSW. Menjawab pertanyaan-pertanyaan, Sucahyo sekaligus mengakhiri sesi materi pertama ini dengan mengajak para peserta untuk mengubah paradigma lama tentang sampah dan sungai tadi sebagai solusi utama untuk menyelesaikan masalah sampah. "Sampah memberikan keuntungan (benefit), bukan biaya (cost), ini paradigma barunya".

Materi yang kedua disampaikan oleh Siti Alimah selaku direktur Bank Sampah Wares Tegalrejo, Salatiga. Para peserta dibuat penasaran dengan barang-barang kerajinan yang di-display di atas meja. "Kesemuanya ini terbuat dari sampah lho". Beliau kemudian memutar video tentang Bank Sampah Wares, memperkenalkan konsep Bank Sampah yang sudah berjalan di RT 03 RW 04 di Kel. Tegalrejo. Di dalam video ini, terlihat ibu-ibu yang menyetor sampah pada hari Jumat, kemudian pengelola menimbang dan mencatat setoran mereka untuk dimasukkan ke dalam buku tabungan sampah. Hari Sabtunya, pengelola akan memilah-milah sampah ini, menyortirnya, mencuci, kemudian meneruskannya  ke ibu-ibu bagian pembuat kerajinan. "Alhamdulilah, nasabah bank sampah ini bisa memperoleh SHU (Sisa Hasil Usaha) paling sedikit Rp 250.000,00 setiap tahunnya", kata beliau. "Sampah bisa jadi berkah kan?", tanya beliau yang menyampaikan materi bank sampah ini dengan interaktif.

Barang kerajinan yang sudah mampu dikerjakan oleh Bank Sampah Wares antara lain tas wanita, korden, piring, gelas, dan mainan anak-anak. Selanjutnya, Ibu Alimah dan ketiga rekannya memberikan pelatihan pembuatan barang-barang kerajinan ini kepada para peserta. Mereka terlihat begitu antusias mengikuti pelatihan ini. "Sampah yang digunakan benar-benar ada di sekitar kita. Bungkus kopi sachet, saya 'kan minum kopi tiap hari. Daripada dibuang gitu saja, mending saya kumpulin dibuat barang kerajinan seperti ini", tutur seorang peserta. Sayang, pelatihan tidak bisa dilanjutkan sampai selesai karena keterbatasan waktu. "Bagi yang tertarik, silakan nanti main ke Wares di Tegalrejo", ajak Siti Alimah.

Dengan berakhirnya pelatihan dari bank sampah ini, berakhir pulalah lokakarya "Air Kita Masa Depan Kita" ini. Menjadi sekedar ’hanya bicara’ ataupun akan membuahkan sebuah gerakan yang berguna bagi lingkungan, akan sangat bergantung pada seberapa ’mau dan mampu’ kita untuk mengambil bagian dalam berperan. Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Siap untuk memandang sampah sebagai berkah?


Sumber:
http://www.kompasiana.com/kris_sal3/lokakarya-air-kita-masa-depan-kita-di-uksw-9-februari-2016_56bab5bc2e7a615109319e90

Selasa, 22 Desember 2015

Forum Diskusi Transportasi di Salatiga

Sidomukti, 19 Desember 2015


Belasan siswa SMP dan SMA/SMK di Salatiga mengikuti acara forum diskusi "Sudah Nyamankah Angkutan Kotaku?" di Perpusda Salatiga. Konsultan transportasi Bapak Titis Bawono dari GIZ - SUTIP Surakarta dan Kepala bidang angkutan Bapak Adi Wibowo dari Dishubkombudpar Salatiga hadir dalam acara tersebut.

Bertempat di Perpusda Salatiga, Komunitas Masyarakat Transportasi - Salatiga (MTi - Salatiga) menggelar forum diskusi "Sudah Nyamankah Angkutan Kotaku?". Forum diskusi ini memang ditujukan untuk anak sekolah sebagai mayoritas pengguna jasa Angkota Salatiga saat ini. Acara dimulai dengan pemutaran sebuah film pendek yang mengisahkan tentang kondisi Angkota Salatiga saat ini. Film yang berdurasi 8 menit ini telah membuat diskusi peserta menjadi hidup. Para peserta tidak malu untuk menyampaikan pendapatnya tentang Angkota Salatiga. Mereka menilai bahwa Angkota Salatiga saat ini masih kurang nyaman, di antaranya karena ada penumpang yang merokok, sering berhenti mendadak, dan trayeknya tidak melalui semua sekolah.

"Saya kadang dari sekolah naik angkot no. 4 jurusan Kalibening - Tamansari. Tapi kalau angkotnya tidak lewat, ya saya jalan kaki. Memang sebenarnya trayek angkotnya tidak melalui sekolah kami", tutur Anugrah Wahyu dari SMK Neger 3 Salatiga. Hal ini seringkali memang menjadi dilema anak SMA/ SMK. Sebelum berusia 17 tahun, anak SMA/ SMK seharusnya belum boleh naik sepeda motor, tetapi tidak sedikit yang nekat karena kebutuhan transportasi mereka ke sekolah yang belum bisa terakomodasi dengan baik oleh kendaraan umum.

Dalam kesempatan ini, Pak Bowo dari Dishubkombudpar menuturkan bahwa beliau menampung keluh kesah anak sekolah terhadap Angkota Salatiga di atas. Dari forum diskusi ini banyak bermunculan ide-ide segar tentang bagaimana membangun sistem transportasi di Kota Salatiga. Pak Titis dari GIZ - SUTIP misalnya, telah menambah wawasan anak sekolah tentang Batik Solo Trans. "Kalau saya dari Tamansari mau ke SMUKI, apa mungkin Pak, saya oper angkot tapi bayarnya cuman sekali?", tanya Michael Putra dari SMA Kristen 1 Salatiga.

Transportasi memang akhir-akhir ini menjadi perhatian di beberapa kota besar di Indonesia. Pertanyaannya: Apakah harus menunggu sampai jadi macet dulu baru kita perhatikan kondisi transportasi di Salatiga? - kip -