Laman

Minggu, 17 Agustus 2014

Mengambil Sisi Positif dari Segala Sesuatu

Pagi hari, hariku sudah dirusak.
Siang hari, aku tidak memetik hari.
Sore hari, aku sepertinya malah gantian merusak hari orang.
Malam hari, aku menyadari bahwa aku lupa mengambil sisi positif dari segala sesuatu.

Hidup ini, seperti laiknya uang logam yang mempunyai 2 sisi.
Rasa-rasanya manusia berdosa seperti saya punya kecenderungan hanya untuk melihat sisi yang ini: yang membuat aku mengeluarkan pernyataan: "Heute ist ein beschissener Tag".

Tapi malam hari ini tiba-tiba aku mendapat wangsit: "mungkin memang beginilah siklus kehidupan manusia itu: ada tahapan di mana orang mulai egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri-sendiri"
Aku harus bisa menerima masa transisi ini dan tetap bersikap proaktif:

"Daripada menyinggung-nyinggung terus tentang keegoisan mereka, lebih baik aku menyampaikan terima kasih atas waktu yang mereka berikan untuk bertemu denganku hari ini, walaupun hanya sejenak dan tidak sesuai dengan harapanku.."


Eh, aku jadi ingat lagunya Didi Kempot
"Sanadyan wektu mung sedhelok, kanggo tamba kangen jroning dhadha.."
Makasih buat wejangannya, Om Didi Kempot!

Sabtu, 16 Agustus 2014

Menciptakan Sejarah

OMG, malam ini ku ingin Kau ada di sini.
Tuhan, besok dan lusa kami akan menciptakan sejarah baru peradaban bangsa Indonesia di tanah perantauan Jerman.

Berkatilah rencana kami ini, ya Tuhan. Kami serahkan masa depan kami ke dalam tangan kuasaMu..



Senin, 07 Juli 2014

But hearts never forget..

Introduced by Father Peter Egielewa,
by the time he leaves for Bonn..

Time passes,
Memories fade,
Feelings change,
People leave,
.. but hearts never forget..

Sabtu, 05 Juli 2014

Serangan Fajar

Pagi, Sabtu 5 Juli 2014 ini kami WNI di Jerman mendapatkan kesempatan terlebih dahulu untuk memberikan suara di TPU untuk Pemilihan Umum Presiden - Wakil Presiden Indonesia Periode 2014-2019

Melalui tulisan berikut ini, perkenankan aku untuk menyampaikan unek-unekku seputar Pemilu kali ini. Anggap saja tulisan ini sebagai sebuah SERANGAN FAJAR dari seorang mahasiswa huehehe.

Kira-kira sudah sekitar 2 bulan ini halaman Home-ku selalu dipenuhi dengan berbagai macam tulisan tentang kampanye dari para pendukung pasangan nomor urut 1 maupun nomor urut 2: Kata-kata seperti "black campaign", "tegas", "pencitraan", dan "salam dua jari" menjadi konsumsi publik sehari-hari.
Aku merasa ada hal yang aneh di dalam Pemilu kali ini. Semua orang seakan-akan menjadi wartawan dan juru bicara dadakan: share tulisan sana-sini, bikin polling, mengganti foto profil dengan "stand on the right side", dll. Kita bahkan tidak malu-malu lagi menyatakan di media sosial bahwa saya adalah pendukung pasangan nomor urut 1 maupun nomor urut 2 dengan segala bentuk kemungkinan yang ada.

Ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan itu yang mengusik pikiranku:
a. Apakah Pemilu di Indonesia memang jalannya seperti ini? Ini kedua kalinya aku mendapatkan kesempatan untuk memberikan suara. Barangkali waktu yang pertama kali teman-temanku dan aku belum sedewasa sekarang.
b. Apakah ini karena perkembangan media sosial? Memang sih waktu itu media sosial belum berkembang sejauh ini.
c. Apakah ini tanda-tanda kemajuan positif dari sebuah negara demokrasi? Aku masih mengingat betul pelajaran waktu di bangku sekolah dulu. Pemilu itu dilaksanakan secara LUBeR JurDil: Langsung Umum Bebas Rahasia Jujur dan Adil.
Hmm, mungkin hanya saat pencoblosannya saja yang berlangsung rahasia ya, sebelum Pemilunya ya serah-serah aku dong..

Aku menilai kampanye Pemilu ini koq terlalu berlebihan. Diadakannya 5 kali debat Capres-Cawapres sudah cukup buatku sebagai media berkampanye. Kedua calon memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri, memiliki pendekatan-pendekatan yang berbeda dalam memecahkan permasalahan di Indonesia. TETAPI mereka mempunyai sebuah kesamaan: mereka mau membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, mereka cinta tanah air beta, Indonesia!

Di dalam Debat Capres-Cawapres yang sudah menemani akhir pekan kita selama sebulan terakhir ini, mereka bersama timnya telah bekerja keras menghadirkan visi, misi, program-program, solusi maupun ide-ide segar untuk menjawab tantangan-tantangan yang ada di Indonesia. Kandidat A telah mendengar hal-hal itu dari kandidat B, demikian pula sebaliknya. Kita juga telah mendengar hal-hal itu, bahkan video debat tersebut diunggah di internet sehingga bisa kita tonton berkali-kali. Ide-ide segar itu nanti tetap bisa kita suarakan, kita tagih ke kandidat terpilih untuk dilaksanakan.

Juga mengambil kata-kata dari seorang kandidat di Pemilihan Umum Ausländer/Migrationsrat di Heidelberg kemarin, "Im Prinzip ist es meiner Meinung nach zweitrangig, wen du wählst. Das Wichtigste ist, dass du wählen gehst" yang artinya "Secara prinsip, siapa yang kamu pilih, menurutku adalah prioritas selanjutnya. Yang terpenting adalah, bahwa kamu pergi ke TPU untuk memilih".
Hal ini karena, itu akan menunjukkan partisipasi kita terhadap adanya Pemilihan Umum tersebut.

Jadi, dengan ini aku ingin memberikan SERANGAN FAJAR:
Pemilihan Umum nanti bukan tentang kemenangan Pak Prabowo maupun kemenangan Pak Jokowi, melainkan tentang kemenangan SELURUH rakyat Indonesia.
Siapapun yang jadi, dia adalah pemimpin yang akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, berkat ide-ide dan pemikiran hasil kerja keras dari kedua belah pihak selama ini.

Jadi, buat aku Pemilu itu tidak perlu ribut sana ribut sini, Saudara/i silakan pilih saja pasangan kandidat YANG BERKENAN DI HATI.

Selamat memilih dan berpesta demokrasi!

http://media.vivanews.com/images/2014/04/01/246026_warga-kampung-di-diy-terima--serangan-fajar-.jpg