Laman

Kamis, 07 Maret 2019

Alamat Galeri Ijo Lumut Cungkup Salatiga

Berikut ini adalah alamat dari Galeri Ijo Lumut,
sebuah galeri lingkungan hidup untuk mewadahi pengrajin dan menginspirasi masyarakat terhadap kreasi daur ulang sampah

IJO LUMUT
Pusat Edukasi dan Kreasi Daur Ulang Sampah Salatiga
Jalan Cungkup no. 858 RT 05 RW 06
Kel. Salatiga, Kec. Sidorejo, Kota Salatiga 50711

Produk yang dijual?
Mari silakan di mari: https://www.instagram.com/katalog.galeriijolumut/

Kamis, 14 Februari 2019

Jualan Sedotan Stainless

Jadi guys, jadi vendor sedotan stainless itu ternyata nggak mudah. Mengubah mindset masyarakat memang terbukti tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Di otak gue, udah jelaslah kita harus diet plastik, khususnya sedotan plastik. Tapi di kacamata masyarakat umum, lah ngapain harus pakai diet-diet segala. Penting nikmat dan murah..

Tapi gue belum menyerah. Gue akan terus jualan, karena hidup itu memang harus selalu yang berkobar-kobar: Dibeli ya guys..
http://bit.ly/sedotanstainlessmurahsalatiga

#love #instagood #photooftheday #sedotainstainlessmurah #sedotanstainlesssalatiga #sedotanstainless #sedotanplastik #ijolumutsalatiga

Senin, 21 Januari 2019

Jejak Etnis Cina/ Tionghoa di Salatiga (1740 - 1925)

Waktu setahun itu ternyata berlalu begitu cepat. Rekam jejak digital menunjukkan bahwa saya pernah menjadi kontributor artikel mengenai jejak etnis Cina ini di Blog TBM Citra Raya: http://tbm-citraraya.blogspot.com/2018/04/istana-djoen-eng-di-salatiga-sekarang.html pada tanggal 5 April 2018.


.. dan pada tanggal 21 Januari 2019 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk bercerita, membuat bunyi dari tulisan-tulisan hasil karya Pak Eddy Supangkat (Istana Djoen Eng & New Galeria Salatiga) dan Mas Abel Jatayu (Diskriminasi Rasial di Tanah Kolonial) di dalam buku-bukunya.


Di depan 4 orang mahasiswi pertukaran dari Australia, saya bersama Mbak Ambar mencoba memberikan literasi kebhinekaan, cagar budaya, dan sejarah yang ada di Kota Salatiga ini. Mbak Ambar memulai pemaparan dengan memberikan pengantar mengenai pluralisme yang ada di kota yang terletak di lereng Gunung Merbabu ini. Selanjutnya, saya menyampaikan kronologi kedatangan etnis Cina di Salatiga, yang berdasarkan literatur yang ada saat ini, dimulai secara masif pada saat terjadi Tragedi Angke/ Geger Pecinan pada bulan Oktober 1740. Keputusan etnis Cina perantau dari  Batavia untuk tinggal menetap di Salatiga setelah tragedi itu tak lepas dari sosok kepemimpinan Raden Mas Said/ Pangeran Sambernyawa dari Kerajaan Mataram pada waktu itu, yang secara gigih mau membela rakyat berperang melawan Kompeni di daerah Jawa Tengah.

Singkat cerita, keputusan etnis Cina untuk menetap di Salatiga ini telah mampu menarik orang-orang Belanda untuk bermukim di sini, hingga pada suatu ketika ada 2 tokoh nasional/ internasional beretnis Cina yang berkenan membangun rumah, bahkan istana yang megah di kota kecil ini. Ya, tokoh yang pertama bernama Oei Tiong Ham, orang Semarang yang dijuluki Raja Gula dari Asia dan tokoh yang kedua bernama Kwik Djoen Eng, orang Taiwan yang telah meninggalkan bangunan cagar budaya berarsitektur Cina termegah di Jalan Diponegoro Salatiga (dulu Tuntangsche Weg, ruas jalan yang di-plot untuk kawasan permukiman orang-orang Eropa).

Bagaimana mungkin seorang Cina diperbolehkan membangun "Istana Cina" di ruas jalan orang Eropa? Tidak tanggung-tanggung, istana milik perseorangan ini luasnya mencapai 1% dari total luas wilayah Salatiga dan menghabiskan biaya pembangunan senilai 3 juta gulden (setara Rp 24 miliar)! Bagi saya pribadi, hal ini telah menunjukkan seberapa digdayanya sosok Djoen Eng, seberapa ulet dan mumpuninya kemampuan yang dimiliki untuk melobi Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Sangat disayangkan, istana dengan 5 kubah ini hanya boleh ditinggalinya selama 5 tahun. Krisis ekonomi yang melanda saat itu mengharuskan istana yang satu ini disita oleh De Javasche Bank untuk membayar utang-utang Djoen Eng. Saat ini Istana Djoen Eng ini menjadi Rumah Khalwat Roncalli, sebuah tempat penyegaran jiwa untuk komunitas Katolik yang dikelola oleh Bruderan FIC.


Beberapa pesan yang ingin saya tinggalkan melalui tulisan ini adalah
1) Seberapa terpuruknya kita saat ini, kalau kita mau giat berusaha, segala sesuatu yang baik bisa terjadi. Geger Pecinan tahun 1740 yang menewaskan 10.000 orang Cina mestinya membuat orang Cina down. Tapi lihat, apa yang bisa dilakukan oleh Oei Tiong Ham dan Kwik Djoen Eng ini..!
2) Pluralisme di Indonesia itu memang sudah ada sejak dulu kala. Tidak akan ada Indonesia tahun 2019 ini kalau di abad ke-18 dan ke-19 itu orang Indonesia sibuk bertikai satu dengan yang lain mengurusi persoalan perbedaan. Jadi, belajar sejarah itu ternyata penting supaya kita tahu kesalahan apa yang dilakukan leluhur kita di masa lalu dan hal apa yang harus kita lakukan di masa mendatang untuk lebih maju.

Selain Istana Djoen Eng, jejak Tionghoa di Salatiga lainnya bisa dibaca di artikel berikut: https://percik.or.id/2018/11/09/jalan-jalan-yuk-mengenal-bangunan-bersejarah-kota-salatiga/

Terima kasih, Sobat Muda! Terima kasih, literasi!!


Salatiga, 21 Januari 2019

der gruene Baum

Jumat, 18 Januari 2019

Sebuah Refleksi di TBM Lama

Sampai dengan detik yang lalu aku masih berpikir bahwa
"Muda itu Kesempatan Berkarya",

tapi ketika aku mendalami dunia kerelawanan dan mengenal sosok-sosok seperti Bu Dwi Rohyatiningsih dan Kang Nurul Ilmi, mindset itu berubah. "Berkarya itu ternyata benar-benar bukan soal usia, melainkan soal nilai yang kita perjuangkan dalam hidup ini"

Kamu kerja di mana, kamu naik mobil apa, posisimu apa, gajimu berapa. Ini semua adalah "harga" yang ditawarkan oleh dunia zaman now.
Sementara "nilai" adalah semangat, kesetiakawanan, komitmen, visi, dan empati..

.. yang seringkali kini hilang tergerus oleh arus perubahan zaman


TBM Citra Raya Lama, 18 Januari 2019

Rabu, 05 Desember 2018

Menjadi Notulis dalam Konferensi Kepala Sekolah Mitra Goethe-Institut se-Indonesia


Menjadi Protokollant/ notulis?
Amanat yang dipercayakan PASCH-Team kepada saya ini saya kerjakan dengan sebaik-baiknya. Mencatat detail peristiwa dan menuliskannya kembali untuk mengabadikannya, hal ini sesuai dengan filosofi dari Om Pram, "Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

Selamat membaca penggalan notula ini, mudah-mudahan hasilnya cukup berkenan ya!

***

...

          Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Mezzanine ini dibuka jam 09:13 oleh Larissa. Larissa membuka kegiatan pertemuan kepala sekolah mitra ini dalam bahasa Indonesia, menyampaikan selamat datang. Larissa kemudian memperkenalkan wajah baru di tim PASCH, kemudian Herr Ade  pun naik ke panggung untuk memperkenalkan dirinya.
            Herr Ade menceritakan bahwa dirinya baru bergabung sekitar 7 bulan, nantinya diplot untuk menggantikan Frau Ekadewi yang  sudahmulai memasuki usia pensiun. Herr Ade mempunyai nama Jerman Schuetz karena istrinya merupakan orang Jerman.
            Tak lupa, Larissa kemudian memperkenalkan timnya yang lain yaitu Frau Neza, Frau Rasti, Tim Fedke dan Lisa Rubin. Adapun kedua nama terakhir merupakan Praktikant di Goethe-Institut yang diperbantukan di tim PASCH. Karena sedang dinas luar, Larissa juga menyampaikan permohonan maaf dari Lisa Rubin karena tidak bisa ikut bergabung di acara ini. Sambil bercanda Larissa menyampaikan di akhir sambutannya, "Demikian sambutan dari saya dnengan bahasa yang membingungkan, selanjutnya saya serahkan acara kepada Herr Ade".
             PASCH sudah berusia 10 tahun, sejak dicetuskan pertama di tahun 2008 lalu. Herr Ade melakukan Ice-Breaking dengan menanyakan, "Adakah di antara peserta di sini yang sudah 10x mengikuti kegiatan?". Beberapa peserta saling melihat satu dengan lainnya, sepertinya tidak ada. Justru ketika Herr Ade melempar pertanyaan, "Siapa baru pertama kali ikut kegiatan ini?" ternyata tidak sedikit yang mengacungkan jari.
            Herr Ade pun kemudian mempersilakan kepada Frau Sonja Stoll dari Kepala Bagian Bahasa Goethe Institut untuk kawasan SAN (Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru) untuk menyampaikan sambutannya. Frau Stoll kemudian menyampaikan sambutannya dalam bahasa Inggris, menimbang hampir semua kepala sekolah mitra tidak bisa berbahasa Jerman. Dalam sambutannya, Frau Stoll menyampaikan bahwa kegiatan ini bagus untuk pelestarian bahasa asing, termasuk dalam rangka menjadi solusi bagi permasalahan Jerman, dan juga untuk mindset dan kesempatan anak muda untuk menyiapkan masa depan globalisasi. Di kesempatan ini Frau Stoll juga mengucapkan selamat datang kepada sekolah ke-29 PASCH di Indonesia, yaitu SMA Katolik Frateran Maumere. Di akhir sambutannya, Frau Stoll menyatakan sangat antusias dengan acara Gala Dinner Kedutaan Jerman dengan para kepala sekolah pada hari Jumat dan seperti rutin setiap tahunnya - pembaharuan MoU antara sekolah dengan Goethe Institut pada hari Sabtu.
            Sambutan-sambutan pun telah disampaikan. Herr Ade kembali menjadi MC dan menyebutan susunan acara dalam Kegiatan Konferensi Kepala Sekolah Mitra (PASCH) tahun 2018 ini. Kerja sama dengan PASCH ini memang suatu hal yang eksklusif karena hanya dijalin dengan 29 sekolah mitra se-Indonesia (jumlahnya tetap, sulit untuk bertambah). Di kegiatan konferensi ini, selama 3 hari ke depan kita akan melakukan evaluasi terhadap kegiatan PASCH yang sudah terlaksana di tahun 2018 dan merencanakan kegiatan untuk tahun 2019. Selain itu, juga akan ada acara resepsi dengan pihak kedutaan seperti yang sudah disampaikan oleh Frau Stoll, pameran marketplace program-program dengan partner PASCH yang bisa menunjang siswa/ alumni sekolah, maupun seminar dari Kementerian Pendidikan.
            Herr Ade segera menyebutkan daftar kegiatan yang sudah dilaksanakan di tahun 2018, yang sudah dihimpun bersama dengan para koordinator guru Bahasa  Jerman, di antaranya Winter - Jugendkurs dan Sommer - Jugendkurs, program Ujian Level Bahasa Jerman Fit in Deutsch, termasuk bagaimana Goethe juga membantu menyiapkan siswa di level B1 dan B2, baik menggunakan kelas online maupun kelas tatap muka, termasuk menyiapkan beasiswa untuk siswa-siswi yang mendapatkan nilai tertinggi saat ujian.

            Kegiatan lain yang sudah terlaksana adalah Lomba PASCH-net, di mana siswa SMAN1 Matauli Pandan berhasil memenangkannya dan mendapatkan paket buku, tablet (komputer), kamera, dan beasiswa parsial di Jerman. Disebutkan pula bahwa sudah terlaksana keigiatan Workshop Digital Literacy untuk melawan hoax yang salah satu pembicaranya adalah Anja van Kampen. Begitu juga dengan kegiatan Bengkel Teater di Bali yang melibatkan siswa dari Australia dan Indonesia.
            Kegiatan PASCH untuk guru, PASCH menyediakan kursus, pemberangkatan ke Jerman dan pelatihan, seminar tentang NAZI, dan proyek buku ajar. PASCH juga tak lupa memberikan pelatihan metode mengajar Bahasa Jerman tingkat kawasan SAN kepada 15 guru dengan level bahasa B2.
            Untuk kepala sekolah, PASCH di tahun 2018 tak lupa memberikan konferensi Language Open Door Perspective with German yang dihadiri oleh 15 kepala sekolah se-Indonesia dan penyelenggaraan kegiatan yang sedang berlangsung ini pun, ditujukan untuk kepala sekolah.

            Tak hanya berhenti sampai di level institusi sekolah, PASCH pun juga masih mengurusi para alumninya. Yang disebut sebagai alumni di sini adalah seluruh siswa yang lulus dari sekolah mitranya. Tercatat ada 4 beasiswa yang diberikan di Studienkolleg Indonesia, penyelenggaraan Webinar terkait kerja di Jerman, bagaimana cara mendaftar kerja praktek, dan lamaran kerja. Termasuk pendampingan beberapa program yang sudah berjalan seperti Paschiert dan Road to School.
            Nah, PASCH sudah diperkenalkan. Kini saatnya anggota baru sekolah mitra untuk diperkenalkan. Secara khusus, PASCH-team memberikan kesempatan kepada Pak Arnold dari SMA Katolik Frateran Maumere untuk memperkenalkan diri.
            Selanjutnya, dengan metode khas Jerman-nya, PASCH-team pun meminta masing-masing sekolah yan ghadir untuk memberikan perkenalan singkat sekolahnya dengan alat peraga sebuah poster yang membutuhkan isian: Nama kepala sekolah, nama sekolah, salah satu proyek PASCH yang paling sukses di tahun 2018 (berikut foto-fotonya), dan deskripsi singkat mengenai sekolah/ proyek PASCH tersebut. Diberikan waktu sekitar 45 menit bagi para koordinator dan kepala sekolah untuk menyiapkan presentasi perkenalan tersebut

...
***

Sungguh beruntung saya boleh menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam kegiatan Konferensi Kepala Sekolah Mitra Goethe-Institut se-Indonesia ini! 


Salatiga, 5 Desember 2018


Kristanto Irawan Putra
-->