Laman

Sabtu, 22 September 2018

Pameran Hari Perhubungan Nasional 2018 di Balai Kota Solo

Robotnya Bisa Push Up

Pameran Hari Perhubungan Nasional secara resmi dibuka oleh Wakil Walikota Surakarta, Bp Achmad Purnomo. Pameran ini digelar selama 3 hari yakni pada 22-24 September pukul 09.00 - 20.00 WIB. Dalam rangka memeriahkan pameran, Dishub Surakarta menggratiskan Bus Werkudara 6 trip gratis tiap hari.

Antusiasme warga masyarakat yang ingin naik Bus Tingkat Werkudara gratis di Pameran HARHUBNAS, Balaikota Solo cukup tinggi. 6 trip hari ini sudah full. Pendaftaran untuk trip hari minggu besok dibuka mulai pukul 08.00 WIB. Selain Werkudara, pengunjung juga bisa mencoba gratis meeting bus Gatotkaca.

Selain itu ada beragam stand yang dihadirkan di pameran ini. Salah satu yang menarik adalah stand dari SMA Pradita Dirgantara yang menampilkan robot yang bisa bergerak lincah sesuai program.

Pameran Perhubungan Nasional di Balaikota Surakarta, diikuti puluhan peserta : Dishub Kota Surakarta, BPTD Wilayah Jateng DIY, UPP Perhubungan Wilayah III (Pemprov Jateng), dan BTP Jateng - DIY, dari Instansi BUMN terdiri dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI), PT. Angkasa Pura dan PT. INKA Madiun, Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi, Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Akademi Perkeretaapian Indonesia (API) Madiun, Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Darat (BPPTD) Bali, Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang, SMK Pelayaran Kartosuro, SMA Pradita Dirgantara , dan Universitas Sebelas Maret (UNS). Operator Layanan Transportasi dan Perusahaan Otobus (PO) pun akan menampilkan beberapa armada terbaru mereka diantaranya dari PT. Rosalia Indah, Netra Trans, Agam Tungga Jaya, PT. Batik Solo Trans, CV. Graha Tama Mulya kolaborasi dengan 3M, Miniatur KA dan PT. Marktel, tidak lupa beberapa Komunitas Transportasi seperti Bus Mania Community, Penggemar Kereta Api dan Food Truck.

@ Balaikota Solo
22 September 2018

disadur dari postingan Facebook Dimas Suyatno
 

Jumat, 21 September 2018

Aku Rindu Bermain Petak Umpet

19 Juni 2016
 
Halo, kenalkan aku Kris kelahiran tahun 1992. Aku masih sempat merasakan kegembiraan dengan bermain petak umpet waktu aku SD. Aku memainkan permainan ini pertama kali dengan tetangga-tetanggaku di kampung. Walaupun dalam permainan di kampung ini aku cuman seorang anak bawang (waktu itu aku masih kelas 1 SD sendiri), aku sekarang bisa ketawa-ketiwi sendiri apabila mengingat tempat persembunyianku waktu itu: di balik pagar tanaman, di balik tong sampah, sampai di dalam got (saluran air di tepi jalan) yang kering di musim kemarau. 

Ketika aku naik ke kelas 3 SD, aku tidak lagi tinggal di kampung sehingga aku tidak bisa bermain petak umpet dengan tetangga-tetanggaku lagi. Untungnya, aku mengikuti les sempoa di sebuah perumahan dan setelah selesai les kami sering bermain petak umpet di perumahan tersebut. Cara bermain petak umpet waktu itu masih aku ingat betul sampai sekarang: Pertama, seseorang menyenggol punggungku kemudian aku harus menebak apakah ia menggunakan tangan kiri atau kanan untuk menyenggol. Tahap ini berfungsi untuk menentukan jumlah hitungan menutup mata, apakah nantinya aku hanya menghitung sampai 30 atau harus menghitung sampai 50. Kedua, orang tersebut akan menyenggol punggungku menggunakan jari tertentu. Apabila aku berhasil menebak jari mana yang digunakan untuk menyenggol, aku boleh menghitung hitungan yang sudah ditetapkan melalui tahap pertama dengan hitungan cepat. Kalau dipikir lagi sekarang, rasa-rasanya tahapan-tahapan ini kurang logis dan bodohnya adalah mengapa dulu aku mau mematuhi tata tertib ini tanpa protes. 

Setelah selesai menghitung, aku berbalik kemudian mencari di mana teman-temanku bersembunyi. Karena lokasinya di perumahan, tempat persembunyian teman-temanku cukup sulit ditebak. Ada yang bersembunyi di balik mobil yang di parkir, ada yang bersembunyi di balik tembok rumah tetangga, dan ada pula yang bersembunyi di dalam rumah. Hal yang menarik adalah ketika tempat persembunyian seorang teman sudah ketahuan dengan mudahnya karena ia spontan pasti akan mengatakan "Nas, aku belum selesai bersembunyi". Aku pun membiarkannya dan mencari teman-temanku yang lain. Ketika aku lengah, dia pasti akan mengatakan "Tit" sebagai tanda bahwa ia sudah kembali ke permainan dan biasanya sudah berada lebih dekat ke tiang laporan. Akan tetapi, masih ada lho hal yang lebih menjengkelkan daripada "Tit", yaitu "Bar". Teman yang mengatakan "Bar" otomatis tidak akan mengikuti permainan yang selanjutnya, dan sering kali ia mengatakan seperti itu kalau di babak tersebut ia barusan menang, sehingga aku tidak bisa membalas dendam. 
Akan tetapi, di balik ketidaklogisan permainan ini, waktu itu aku benar-benar merasa bahagia bermain petak umpet
Seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, mengingat permainan tradisional seperti petak umpet sebenarnya membuatku ingin ketawa-ketiwi sendiri: ketawa dengan keputusanku waktu itu, kenapa aku ngumpet di sana atau di sini; ketawa dengan temanku yang tidak pandai bersembunyi sehingga gampang ketahuan; dan ketawa dengan kebodohanku kenapa mau mematuhi tata tertib permainan yang kalau dipikir sekarang sebenarnya dipenuhi oleh aturan kurang logis (masih ingat dengan tangan/ jari yang digunakan untuk menentukan hitungan menutup mata?). Akan tetapi, di balik ketidaklogisan permainan ini, waktu itu aku benar-benar merasa bahagia bermain petak umpet dan sekarang ini aku merasa bersyukur karena aku masih boleh merasakan bermain petak umpet waktu aku kecil.
Bermain petak umpet telah memberikan beberapa manfaat, antara lain membuat kita secara tidak sadar mau bergerak dan berlari, mengasah imajinasi tempat ngumpet dan mengambil keputusan cepat mau ngumpet di mana, dan menjalin pergaulan yang akrab dengan teman dan tetangga. Aku termasuk salah seorang yang menyayangkan semakin hilangnya permainan tradisional seperti ini karena kehadiran teknologi. Mungkin game-game yang ada di gadget dikatakan lebih memiliki nilai edukasi, tetapi aku mantap bahwa permainan tradisional juga memiliki nilai edukasi yang sebenarnya tidak kalah: 1) kekonyolan tahapan permainan dengan menyenggolkan tangan/ jari ke punggung sebenarnya telah mengajarkan kejujuran, 2) menghitung dengan menutup mata dari angka 1 sampai 30 atau 50 sambil ditinggal ngumpet sebenarnya telah mengajarkan kepercayaan. Dan akhirnya, 3) dengan berlomba lari menuju tiang laporan telah mengajarkan indahnya bila kita hidup bersama. 

Apakah itu semua tadi artinya sama, apabila kita hanya duduk asyik bermain game dengan menatap layar gadget kita? 

*Ditulis oleh Kristanto Irawan Putra 
  Skor tertinggi nomor 3 dalam "Sayembara Menulis Cerita Dolananku"
 
 

Kamis, 06 September 2018

Sebuah Komunitas yang Dulu Ditinggalkan

Pada hari ini,
Rabu, 5 September 2018 kami,


Kris - Founder @tbm_citraraya
Rudy - Founder @tuk_festivalmataair
Ayok - Founder @sapuupcycle.id
berkumpul di basecamp Komunitas TUK di Desa Tetep Gambirsari. Mengadakan reuni, saling tukar pikiran berdiskusi, dan siap berkolaborasi untuk Salatiga.

Minggu, 02 September 2018

Kisah Wisuda dan Asian Games 2018

Usai diwisuda dengan sebuah medali di kantor, seorang anak muda bersama eks-rekan kerjanya mampir ke sebuah toko swalayan di dekat sebuah hotel tempat atlet-atlet Asian Games menginap. 

Memasuki toko swalayan tersebut, anak muda yang masih memakai "medali emas" ini langsung menuju kasir mengutarakan niatnya untuk membeli air minum galon kepada seorang pramuniaga perempuan di situ. Ketika bertransaksi, anak muda ini bisa membaca gerak-gerik pramuniaga muda ini tampak sedikit grogi. Sontak, anak muda ini berkata, "Jangan grogi Mbak". 

Setelah menerima tisu basah dan uang kembalian, anak muda ini pun berkata lagi, "Makasih ya Mbak. Apa mau foto bareng?". Spontan pramuniaga yang satu ini pun menganggukkan kepalanya sambil memberi sinyal kepada teman-teman kerjanya untuk merapat. Dengan penuh antusias mereka semua segera membentuk formasi dengan anak muda ini berdiri di tengah-tengahnya, siap ber-swafoto. Jepret!


Seorang pramuniaga laki-laki pun sambil mengangkatkan galon air minum ke mobil mencoba mengakrabkan diri memulai pembicaraan dengan bertanya, "Dapat Rp 150 juta ya Mas?". Seorang anak muda ini pun menjawab, "Iya, alhamdulilah". Di mobil, anak muda ini sontak tertawa cekikikan dengan eks-rekan kerjanya, yang di dalam toko tadi mungkin berakting sebagai manajer seorang atlet yang baru saja mendapatkan medali emas hari ini.. Mereka merasa sedikit bersalah telah membohongi pramuniaga-pramuniaga di toko tadi, tetapi mereka sekaligus juga geli, "apa mungkin sih seorang atlet Asian Games yang sedang menginap di hotel mampir ke toko swalayan di dekat situ untuk membeli galon air minum?". Pendidikan di Indonesia ternyata memang kurang merata. Apa mungkin anak muda di cerita di atas dikira pramuniaga tadi sebagai Jojo? 😉



Menurut saya pribadi, anak muda tadi tidak bersalah. Ia justru telah membahagiakan seorang pramuniaga tadi dengan mewujudkan mimpinya ber-swafoto bersama atlet Asian Games, sekalipun atlet KW..

#medaliwisuda #lulusdarikantor #resign #atletasiangames #adiknyajojo #jojojunior #bonus1,5m #bonus150juta #galonairminum #pendidikandiindonesia #swafoto #budayamasyarakat #anakmuda #welcometojawatengah #welcomesalatiga


Tangerang, 31 Agustus 2018


Der gruene Baum

Minggu, 19 Agustus 2018

Menulis adalah Suatu Bentuk Kagebunshin bagi Orang Ekstrovert

SEBUAH SENI UNTUK BERSIKAP BODO AMAT
Beberapa hari yang lalu, aku baru saja menamatkan membaca sebuah buku hits yang berjudul "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat" karya Mark Manson. Buku ini merupakan sebuah buku yang memiliki nilai sejarah untukku
- Aku tidak ingat persis kapan pertama kali aku mengetahui tentang buku itu. Apakah ketika melakukan foto-shopping di Gramedia atau apakah ketika sahabatku Novi menyebutkan buku itu mengenalkan padaku untuk pertama kalinya
- Sahabat lamatku, Teja, sempat menyebutkannya juga di telepon atau ketika kunjungannya ke Tangerang di awal bulan Mei. Sebuah buku yang berjudul "The Subtle Art of not Giving a F*ck", judul asli buku ini sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sahabatku ini memang selalu update dengan buku-buku terbaru, khususnya buku-buku yang berbahasa Inggris.

Aku yang tengah mengalami gamang dan gundah gulana akhirnya memberanikan diri meminjam buku ini dari sang empunya, Novi, dan membawanya dalam wisata rohaniku ke kota pahlawan, Surabaya, kira-kira pertengahan Mei.

Lembar demi lembar buku itu kubaca sambil kurenungkan, sambil kunikmati masa-masa semadiku di dalam sebuah kamar tidur kapsul yang menjadi pilihan tempat istirahatku di ibukota propinsi Jawa Timur ini. Singkat cerita, di hari akhir kunjunganku ke Surabaya, kupinjamkanlah buku itu pada seorang adik alumni yang sangat menginspirasiku, Tasya namanya. Ia tampak begitu antusias memindai tulisan dalam buku-buku itu dari halaman satu ke halaman berikutnya, sambil sesekali mengaktifkan fitur kamera di HP-nya untuk mengabadikan tulisan-tulisan yang yang membuatnya terkesan. Melihat hal itu, langsung kutawarkan buku itu untuk ia pinjam. Ia tampak lebih membutuhkan buku itu daripada aku.. saat itu.

Hari demi hari berganti, minggu demi minggu berlalu, dan bulan demi bulan terlewatkan. Jujur, aku sempat merasa keliru telah meminjamkan buku itu pada adik itu, karena ia tak kunjung mengembalikannya. Menurutku, aku pribadi bukanlah seorang debt collector buku. Ada rasa trust yang sedang aku jaga, trust dari Novi yang perlu aku jaga. Sudah lama aku meminjam buku itu. Ini bukunya, aku tahu betul bahwa bagi sahabatku ini, buku adalah harta karunnya.. aku terjebak dalam dilematika rasa nggak enak'an ini. Nggak enak jadi debt collector terus ke Tasya, dan nggak enak ke Novi karena belum kunjung mengembalikan buku. Aku mengalah. Kubelikan Novi buku baru supaya bisa menggantikan buku lamanya yang telah kupinjam cukup lama ini. Ia menerimanya. Syukur kepada Allah.

.. dan ternyata Tuhan mempunyai rencana yang indah di balik semua ini. Suatu malam, ketika diriku kalut dan bergerak menuju TBM untuk memasang jam dinding yang baru, kulihat sebuah paket buku yang dibungkus tas kresek berwarna hitam. Aku merasa cukup mengenal dengan tulisannya, dan taraaa.. Adikku Tasya akhirnya mengembalikan buku itu. Aku bisa membacanya lagi. .. dan saat di mana aku bisa membacanya lagi adalah ketika suasana hatiku sedang kalut. Barangkali jawabannya ada di buku itu. Tuhan sepertinya sedang memberi petunjuk bahwa buku itu adalah buku yang perlu aku baca.

Buku itu.. luar biasa. Tulisan "Sebuah pendekatan yang waras untuk menjalani hidup yang lebih baik" memang pantas disematkan untuk isi dari buku itu. Eitsss, aku tidak mau melakukan spoiler, aku tidak akan menjelaskannya secara panjang lebar di tulisan ini karena ini memang bukan bedah buku atau sinopsis. Barangkali satu hal saja yang mau aku sebut di sini: Bagaimana kita sebenarnya akan menjadi lebih bahagia ketika berani mengatakan tidak.

Mmm, praktik memang tidak segampang teori. Membaca buku ternyata tidak serta merta membuat kita otomatis akan mengalami level-up. Aku merasa melakukannya lagi hari ini: menyakiti hati seorang wanita, yang barangkali telah meluangkan waktunya yang sempit untuk tetap bisa bertemu memberikan kontribusinya untuk komunitas ini. .. dan aku telah pergi meninggalkannya, demi seorang teman lama lainnya yang mengunjungiku karena merasa khawatir dengan sebuah penyakit yang sedang aku derita. Pilihan yang memang tidak gampang.
Aku.. sempat mendapatkan kesempatan untuk bisa mengatakan tidak pada teman lamaku ini (ia sebenarnya punya janji dan aku meyakinkannya untuk membatalkan janjinya), tapi lagi-lagi rasa nggak enak'an yang aku punya ini telah membuatku akhirnya meninggalkannya, melukai hati seorang wanita ini..

Dear seorang wanita di seberang sana, maaf. Aku ternyata masih harus belajar lagi untuk berani mengatakan tidak. Aku berharap, pernyataan maafku ini akan bisa sampai padamu. Mungkin, masalah yang kini sedang membentang di antara kita ini adalah suatu ujian yang sedang diberikan Tuhan agar aku akhirnya bisa mengalami yang namanya level-up. Aku mau lebih bijak dalam membuat pilihan, bukan berdasarkan karena rasa nggak enak, melainkan lebih berdasarkan karena aku memang memilihnya dengan penuh kesadaran setelah menimbang-nimbangnya dengan penuh kebijaksanaan..

NARUTO
Akhir tulisan, apabila alasan Om Pram menulis adalah bekerja untuk keabadian ("Menulis adalah bekerja untuk keabadian"),
tulisan ini ingin kututup dengan alasanku menulis: "Menulis adalah suatu bentuk kagebunshin bagi orang ekstrovert"

Aku.. mungkin bukan benar-benar seorang introvert seperti yang orang-orang kira. Entah karena aku membaca Naruto atau di kehidupan sebelumnya memang pernah berlatih di Gunung Myoboku, aku merasa aku menguasai ilmu Senjutsu: selalu merasa bisa mendapatkan energi dari orang baru, lingkungan baru.. Orang "ekstrovert" sepertiku rasanya perlu menulis agar orang-orang di sekelilingku tetap bisa memperoleh chakra dariku, seseorang yang mungkin akan masuk kategori kuda liar menurut Dee Lestari.