Diambil dari Kitab Mahabharata.
Arjuna menikah dengan 18 istri.
Irawan merupakan buah cintanya kepada Dewi Ulupi.
#sekilasinfo
#duniapewayangan
"Waktu 1 detik yang barusan lewat itu aja udah jadi masa lalu lho. Kita hidup untuk masa sekarang, yuk yuk kita perjuangkan!" - KIP -
Kamis, 05 Juni 2014
Jumat, 23 Mei 2014
Public Transport
Sufficient public transport facility indicates how developed a country is.
If workers reach their office just in few minutes, they can live in suburbs, instead of towns.
Besides that, it contributes an important role in order to save our environment.
One of the classical problems in a developing country is the high population density in its capital city. It's true as once said, "There are ants, where there sugar is". People always want getting more money to increase their life quality. Thus they look for job in big cities and the capital city is mostly a good choice. They move in the city. Afterwards the city is being crowded and traffic jams aren't avoidable.
As the government we aren't supposed to blame those people. One of the best solutions is the public transport. Moving together as a group will reduce the number of traffic jams. Furthermore, they must not live in the middle of town, but perhaps in suburb, due to rapid transport facility to town.
Public transport is able to save our environment as well. The emission of CO2 gas leads to the global warming. Driving own cars or motorcycles means resulting more CO2 gas in the world. On the one hand however, sometimes it is really necessary to use them. But, does each of us do need them everyday for our daily activities?
In fact, as workers we have almost the same daily activities: go to work in the morning, stay in the office during the worktime and go home in the evening. Neither cars nor motorcycles are used during the worktime. Thus why should we not try to use public transport together instead?
From the reasons above, we can draw a conclusion that the installation of good public transport facility is crucial for our developing country.
Rabu, 21 Mei 2014
I do not want to get the second prize again
Dear friends of mine,
I do not want to get the second prize again.
It is not just about my academic life, but i mean seriously: it is about my whole life.
I am not a trash, but i am someone.
I am not a spare tire, but i am a rear tire. I am moving.
Today is May 21st,
Time to say goodbye to May 17-20, 2013!
I do not want to get the second prize again.
It is not just about my academic life, but i mean seriously: it is about my whole life.
I am not a trash, but i am someone.
I am not a spare tire, but i am a rear tire. I am moving.
Today is May 21st,
Time to say goodbye to May 17-20, 2013!
Rabu, 30 April 2014
Ungerechtigkeit auf der Welt
Auf einem Kontinent leben 18 Menschen mit 80 Euro Geld => 4,4 Euro pro Person
Auf dem anderen leben 5 Menschen mit 10 Euro Geld => 2 Euro pro Person
Es gibt aber auch:
3 Menschen, die mit 100 Euro Geld leben dürfen => 33,3 Euro pro Person
Sogar lebt 1 Mensch mit 80 Euro Geld auf dieser Welt => 80 Euro pro Person
Ist das gerecht?
Heutige Erinnerung
Auf dem anderen leben 5 Menschen mit 10 Euro Geld => 2 Euro pro Person
Es gibt aber auch:
3 Menschen, die mit 100 Euro Geld leben dürfen => 33,3 Euro pro Person
Sogar lebt 1 Mensch mit 80 Euro Geld auf dieser Welt => 80 Euro pro Person
Ist das gerecht?
Heutige Erinnerung
Jumat, 04 April 2014
Apa sikap kita terhadap Pemilu 2014?
Seperti yang telah kita ketahui bersama, pada tanggal 9 April 2014 nanti akan dimulai pesta demokrasi terbesar se - Asia Tenggara: PEMILU.
Tahun 2009 kemarin adalah kali pertamaku boleh mengikuti Pemilu.
Sesudah mencontreng, aku masih ingat benar, jempolku dilumuri dengan tinta sebagai penanda kalau aku sudah mencontreng pada hari itu.
Hari itu aku benar-benar bahagia. Tepat di tahun aku berusia 17 tahun diselenggarakan pula Pemilu: Artinya aku tidak membuang waktuku untuk mulai terjun ke ranah politik :)
Karena aku tinggal di luar negeri, aku harus mengikuti Pemilu 2014 ini dengan mencoblos calon legislatif dari Dapil Jakarta 2. Aku harus mengakui kalau aku buta sama sekali dengan calon-calonnya, dan sempat terlintas di pikiranku: siapapun yang jadi juga terserah. Mereka akan mewakili rakyat Indonesia dengan cara pandang kejakartaan, yang menurutku pastinya kurang memperhatikan pembangunan di daerah lain selain Jakarta maupun Pulau Jawa.
Berkat ngobrol-ngobrol dengan teman-teman di Komunitas Mahasiswa Indonesia Heidelberg, aku mendapatkan sedikit pencerahan dan semangatku kembali.
"Pemilu luar negeri pertama ya bingung, ibarat beli kucing dalam karung. Kalau yang bersangkutan artis, mungkin kucingnya kelihatan lebih cantik karena udah tersohor..", demikian ujar salah seorang teman.
Teman yang lain pun mengusulkan untuk diadakan adanya sosialisasi Pemilu. Yah, nggak perlu yang serius-serius banget, seenggaknya kami ada kesempatan untuk kumpul-kumpul dan ngobrolin bareng tentang Pemilu 2014 (karena barangkali ada yang kurang info, karena di sini nggak ada iklan2 poster2 spanduk2 baliho2 bertebaran)
Setelah melalui proses "belajar" ini, akhirnya aku yang sempat kurang motivasi dan mungkin tersibukkan dengan aktivitas perkuliahan tercerahkan juga.
Menggunakan suara memang adalah "hak" seorang warga negara. Banyak tersiar kabar bahwa caleg A dari partai B begini begini begini, caleg C dari partai D begitu begitu begitu lalalalala.
Hal ini membuat kebanyakan orang memilih bersikap malas terhadap yang namanya Pemilu.
"Pemilu itu cuman nyariin kerjaan buat orang"
"Siapapun yang kepilih juga cuman mikirin perutnya sendiri"
"Paling ya korupsi lagi"
Nada-nada pesimistis ini harus kita akui telah menjamur di masyarakat kita. Ketidakpercayaan lagi terhadap yang namanya pemerintah dan wakil rakyat. Apalagi didukung dengan tersiarnya kabar-kabar negatif dari media massa di Indonesia.
Akan tetapi, melalui tulisan ini aku ingin membagi pemikiran yang aku dapatkan.
- Hubungan yang baik dengan orang lain akan terjalin, karena adanya rasa percaya.
- Di dalam hubungan yang baik, pasti terjadi yang namanya timbal balik. Ketika aku hari ini diberi, aku selalu berkeinginan suatu saat nanti untuk gantian memberi.
Secara logisnya:
- Tidak akan pernah ada pemerintahan yang baik, kalau tidak ada rasa percaya antara pemerintah dengan warga negaranya.
- Pemerintah Indonesia mau mengadakan pemilu, mempercayai kita (seluruh warga negara yang ada, baik yang berjas berdasi maupun yang bertelanjang kaki) untuk memilih caleg untuk menjadi wakil rakyat. Kesempatan untuk memilih pemerintahan yang lebih baik itu ADA.
- Dan aku nggak tahu dengan Pemilu tahun 2009 (mungkin masih belum cukup dewaas), tapi menurutku biodata caleg yang bisa diakses melalui kpu.go.id adalah sebuah kemajuan dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia.
=> Aku punya koneksi internet, aku bisa mengakses tawaran untuk mengenal caleg itu.
=> Mungkin memang nggak semua caleg punya riwayat hidup yang meyakinkan, tapi nggak sedikit juga koq yang bener-bener kelihatan pengen memberikan karya terbaiknya untuk bangsa dan negara ini.
Dan akhirnya aku memutuskan:
- Gerakan untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik SUDAH dimulai. Nggak sedikit caleg yang emang beneran mau memberikan karya terbaiknya. Siapa saja mereka? Yuk kita pilih.
- Kita harus mengakui kalau kita sudah "terjebak" dengan yang namanya kemalasan dan kesalahan persepsi dalam mengartikan memilih itu adalah sebuah hak. Ayooo, caleg berkualitas ini butuh dukungan suara kita.
- Pemimpin yang baik dalah mantan pengikut yang baik. Aku tahu, kita semua pengen Indonesia yang lebih baik. Semua pengen ngelakuin ini itulah untuk Indonesia, tapi pakai embel2 "dan mungkin bila NANTI". Ya kalau kita kesampean jadi kan. Caleg berkualitas ini toh sudah ada, mungkin kita nggak sepenuhnya sepaham, tapi kita harus tahu diri kalau tonggak kepemimpinan bangsa ini sedang ada di tangan mereka. Saat ini, mari kita berikan kepercayaan kita untuk mereka.
-> Di Pemilu 2014 ini, aku yang aslinya orang Salatiga ini akan memilih seorang caleg dari Dapil Jakarta, yang setelah aku pelajari memang bener-bener berkualitas. Kuberikan suaraku untuknya, untuk Indonesia yang lebih baik!
Langganan:
Komentar (Atom)
